BOPM Wacana

Akhyar Al-Fachri, Meretas Limbah Menjaga Inspirasi

Dark Mode | Moda Gelap
Muhammad Akhyar Al-Fachri, Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Rupa 2016 Universitas Negeri Medan menunjukkan beberapa hasil karya yang diproduksi. | Putra P Purba

 

Oleh: Putra P. Purba

“ Semua yang besar bermula dari hal kecil. Atas keprihatinan terhadap limbah yang tidak terpakai, perlahan jari-jari kreatifnya menghasilkan karya yang bernilai”

Sejak tahun 2018, Muhammad Akhyar Al-Fachri (21) aktif “bermain”  dan tidak mau tinggal diam saat tahu ada banyak sekali limbah ranting dan gulungan kabel yang berserakan di sekitar rumahnya di Jalan Sisingamangaraja, Gang Timba, Kelurahan Nangka, Binjai Utara, Sumatera Utara.

Bengkel las besi bertingkat dua yang semula milik mendiang kakek disulapnya menjadi bengkel pengerjaan pengolahan limbah tersebut demi mencapai keinginannya dalam menjaga kelestarian lingkungan dan tempat aktivitas untuk menghasilkan produk yang diinginkan.

Diawali dengan belajar otodidak melalui kanal Youtube,  bersama dengan kelima temannya, Akhyar memanfaatkan limbah dari pohon rambutan dan pohon mangga sebagai bahan baku produknya. Seperti pada bagian ranting, serbuk hasil potongan yang tak terpakai, dan kulit kayu dari kedua pohon tersebut. Akhyar tak kenal lelah  menjaga kelestarian lingkungan terhadap limbah yang dihasilkan.

Dibandingkan jenis tanaman yang lain, kegiatan pengolahan dan pengembangan limbah pohon rambutan dan mangga di Binjai tergolong minim. Bahkan hanya menjadi bahan kayu bakar yang harus dihanguskan begitu saja.

Padahal, beberapa jenis tanaman rambutan memiliki batang dan kulit yang kualitas serat  bagus dan kuat yang bisa di gunakan sebagai bahan baku pembuatan kerajinan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Produk yang di hasilkan berupa tas pinggang, lukisan, goodie bag, tote bag, dan ransel . Lain halnya dalam penggunaan limbah gulungan kabel yang menjadi bahan baku kacamata, anting, dan kalung. Selain bahan baku tersebut, Akhyar juga mencoba menggunakan limbah dari pohon mangga sebagai variasi produknya.

Akhyar menjelaskan bahwa pemilihan kedua varietas tumbuhan ini menjadi bahan baku juga dikarenakan mampu memberikan warna alami. Pohon rambutan mampu memberikan warna putih dan merah muda dalam pengolahannya. Sedangkan pohon mangga mampu memberikan warna hitam, kuning, kebiruan maupun hijau  sehingga menampilkan kombinasi warna yang indah jika dipadukan keduanya dalam satu produk.

Kejelian Akhyar Al-Fachri mencari celah penjualan limbah ranting dan kulit kayu berbuah manis. Ranting dan serbuk yang awalnya hanya limbah kini membuat bangga Indonesia saat sukses menjamah ke pelosok negeri hingga ke beberapa negara. Sehingga, ia mempunyai pendapatan yang cukup untuk membayar uang kuliah dan mulai hidup mandiri di Fakultas Bahasa dan Seni Rupa Universitas Negeri Medan.

Tak dipungkiri, karya dari hasil produksi Akhyar yang paling murah dijual dengan harga tiga ratus ribu rupiah, sedangkan yang paling mahal bisa mencapai lima juta. Hal ini didukung semakin meningkatnya pemesanan dari luar kota. “Para customer sangat suka bahan bakunya, terkhusus ke desain dan konsep produknya,” tuturnya.

Selain itu, para pelanggan saat ini sudah dimudahkan dalam mencocokkan sesuai keinginan mereka dalam pemesanannya. Hal ini yang membuat pelanggan semakin betah dalam membeli produk miliknya.

Pencapaian itu tidak bisa di pandang sebelah mata, apalagi bagi pemuda yang satu ini saat berjuang dalam menjaga stabilitas penjualan produk-produk hasil karyanya. Di awal penjualannya, Akhyar mengalami kendala dalam pemasaran di Medan. Dikarenakan semua konsumen awal yang dimilikinya meragukan produknya. 

Diawal produksinya dia mengatakan bahwa bobot dalam sebuah produk tas mampu mencapai berat satu kilogram. Hal ini yang membuat konsumen enggan dalam membeli hasil karya dikarenakan bobot yang berat. Walaupun, dirinya sudah mematok harga yang murah seharga delapan puluh ribu rupiah segala ukuran bagi produk tas. Lain halnya pada anting dan kalung yang di patok seharga tiga puluh lima ribu per pasang.

 Akhyar pun memakluminya. Ia menyemangati dirinya sendiri dan meyakinkan diri bahwa karyanya sebagai karya baru dan hal wajar  jika kebanyakan orang masih ragu untuk memilikinya. “Banyak konsumen yang berasal dari Medan yang kurang respect dengan produk-produk yang berasal dari bahan kayu, “ ujarnya.

Kini, dengan perkembangan dan perubahan yang dilakukannya, bobot setiap produk tas telah menjadi 300-500 gram tergantung dengan panjang tas yang di hasilkan. Dikarenakan, potongan bahan baku lebih tipis dari sebelumnya. Sehingga menghasilkan efek yang lebih ringan dan ideal yang di inginkan konsumen dan mendukung peningkatan penjualan.

Lain halnya dalam pemasaran produk yang di miliki. Bermodal berjualan via media sosial dan menjajakannya di toko-toko milik satu angkatan, kini Akhyar telah mengembangkan website resmi dan menjaga relasi  terhadap pemilik outlite-outlite hingga ke seluruh negeri.

Akhyar mengatakan bahwa kemunculan ide dalam pikirannya berawal dari  keinginan berusaha mengurangi dan menjaga kelestarian lingkungan.  Inilah menjadi pedoman Akhyar  yang menguatkan ia untuk mempertahankan usahanya.  Namun, dirinya tak pernah membayangkan bahwa ia akan berakhir sebagai pengusaha yang mendaur ulang limbah. Ia merasa Tuhan memberikannya kesempatan untuk mengolah limbah menjadi barang yang di butuhkan masyarakat.

Baginya, semua orang memiliki potensi besar untuk menjadi wirausahawan kelak. Ia pun mengajak dan mendorong anak-anak yang putus sekolah  dan ibu-ibu rumah tangga terlibat dalam pengolahan dan pengembangan limbah tersebut. Ia menjelaskan terdapat dua belas karyawan yang dimilikinya.

Akhyar adalah satu dari ribuan pengusaha daur ulang limbah  di Indonesia. Ia berkeinginan agar limbah tak menjadi ‘limbah’ saja. Ada harapan baginya agar masyarakat khususnya mahasiswa lebih peka terhadap lingkungan sekitar. “Belum banyak mahasiswa yang mau dan mengambil resiko untuk belajar mengolah limbah,” ujarnya.

 Menurutnya,  mahasiswa sekarang banyak yang berpikiran kerja itu harus berpakaian kantor dan seragam. Padahal berwiraswasta atau berdagang juga merupakan pekerjaan. “Ada berapa ratus mahasiswa yang tamat tiap tahunnya, namun tidak mau resiko itu (berwirausaha),  berakhir menjadi pengangguran,” tutupnya.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).