BOPM Wacana

Direktur KATADATA: Media Tak Boleh Antikritik

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Maya Anggraini S

Direktur KATADATA Heri Susanto menjelaskan contoh media sosial yang tak verifikatif dalam DJTL bertema Ancaman Media Sosial terhadap Verifikasi Media Massa di Kantor BaKTI Makassar, Kamis (8/5). | Maya Anggraini S
Direktur KATADATA Heri Susanto menjelaskan contoh media sosial yang tak verifikatif dalam DJTL bertema Ancaman Media Sosial terhadap Verifikasi Media Massa di Kantor BaKTI Makassar, Kamis (8/5). | Maya Anggraini S

Makassar, wacana.org/arsip — Media tak boleh antikritik sebab media tidak seutuhnya paling benar. Media perlu kritikan dari warga atau pihak terkait baik dari segi konten dan tampilan. “Dari kritikan tersebut kadang kita mendapat ilmu dan inovasi baru,” kata Heri Susanto, Direktur KATADATA yang juga pemateri Diklat Jurnalistik Tingkat Lanjut dengan tema Ancaman Media Sosial Terhadap Verifikasi Media Massa di Kantor Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia, Makassar, Kamis (8/5).

Heri menambahkan peran kritikan warga terhadap media sangat penting karena memengaruhi informasi yang diberikan penulis. Pun merupakan salah satu dari sembilan elemen jurnalisme yaitu pilar keenam yang menagatakan media adalah penyedia forum publik untuk kritik.

“Semua media tak boleh menjadi patokan kebenaran sebab ada juga kebenaran dari tempat lain,” tambahnya. Media yang tak mempunyai sarana antikritik akan menjadi media yang tak sesuai dengan etika jurnalisme. “Ketika media tidak mempunyai etika jurnalisme makantraffic kebenaran akan terganggu di kemudian hari,” tutupnya.

Shofia Nurun Alanur, peserta yang berasal dari Lembaga Pers Mahasiswa Mahasiswa Media Tadulako Universitas Tadulako Sulawesi Tengah mengatakan sebuah media tidak hanya ahli dalam kritikan. Namun dari kritikan media tersebut dapat klarifikasi atau menjadi sumber berita lain. “Kritikan adalah awal dari kemajuan media tersebut,” pungkasnya.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).