BOPM Wacana

Dicari: Gubsu yang Gila Bola!

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: M Januar

“Biar olah raga lainnya kalah. Asal jangan sepak bola.” –Marah Halim Harahap, Gubsu (1967-1978)–

Dalam waktu hitungan bulan, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) akan mengadakan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Sumut 2013. Beberapa calon yang sudah diisukan bakal maju sudah mulai melakukan pencitraan politik. Media-media juga mulai memberitakan sosok-sosok yang akan maju pada pemilu nanti. Ditambah lagi ada politisi Jakarta yang menambahkan marga di belakang namanya. Lalu, ada juga yang memanfaatkan bulan puasa melakukan santunan kepada anak yatim dan fakir miskin.

Semakin dekat waktu, semakin banyak pula isu yang diwacanakan. Misal, adanya isu politik uang sampai dan politik etnis. Isu inilah yang masih sering terjadi di setiap pemilu, bahkan tak hanya di Sumut saja. Memang, di alam demokrasi ini perlu memiliki komitmen yang sungguh-sungguh agar demokrasi bisa terawat.

Banyak harapan terhadap gubernur terpilih untuk menjadi nahkoda dalam membawa Sumut terus berlayar. Seperti, perbaikan pendidikan, sarana dan pra sarana umum, birokrasi pemerintahan, atau pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme yang semakin gila. Hal-hal di atas memang penting. Namun ada sesuatu yang tak kalah penting, yaitu sepak bola.

Sumut punya sejarah sepak bola

Beberapa tahun belakangan sepak bola di Sumut terus meredup bahkan terpuruk. Lihat saja PSMS Medan, klub yang punya sejarah panjang dan prestasi membanggakan harus bertanding di kompetisi kelas dua, Divisi Utama Liga Indonesia. Selain itu, perpecahan yang terjadi di internal klub membuat masyarakat harus menelan ludah pahit bagi sepak bola Sumut. Begitu juga dengan gaji pemain yang tak ada kejelasan pembayarannya.

Tak hanya PSMS Medan, tim lain seperti Medan Chiefs, Medan Jaya, PSDS Deli Serdang dan klub lainnya tak ada gaung, hilang ditelan bumi. Klub yang berasal dari Sumut sendiri, tak ada satu pun yang bermain di kancah tertinggi di liga Indonesia.

Padahal Sumut punya sejarah harum di persepakbolaan nasional sampai internasional. Siapa yang tahu bahwa Stadion Teladan Medan pernah menjadi rujukan standardisasi stadion oleh organisasi sepak bola internasional, FIFA. Stadion Teladan juga pernah menghelat pertandingan-pertandingan kelas internasional. Klub sepak bola Italia, Sampdoria, pernah bertanding di stadion ini. Namun, melihat kondisi Stadion Teladan saat ini sangat tertinggal jauh dengan daerah lain seperti Pekan Baru, Palembang dan Bontang.

Selain itu, Sumatera Utara juga pernah memiliki even tahunan kelas internasional, Marah Halim Cup (MHC). Perhelatan pertandingan ini adalah gagasan dari Gubernur Sumut kesepuluh, Marah Halim Harahap. Ketika perhelatan ini masih berlangsung, banyak klub-klub internasional dari Jepang, Australia, Belanda dan Italia mengikuti even ini. MHC juga menjadi ajang tahunan yang tercatat di agenda FIFA. Kini, kita hanya bisa menikmatinya dalam romantisme sejarah belaka.

Sumut punya sejarah panjang dalam sepak bola skala nasional maupun internasional. Sehingga popularitas daerah Sumut dikenal tak hanya di dalam negeri saja bahkan melintas benua. Sungguh sebuah ironi di zaman yang terus berkembang, Sumut malah jauh tertinggal. Jangankan skala Asia, skala nasional pun Sumut kini seperti macan ompong.

Sepak bola bukan sekadar dengkul!

Jangan berpikir sepak bola hanya sekadar olah raga. Sepak bola kini telah menjadi industri yang terus berkembang. Belakangan sepak bola Indonesia juga mulai mengarah menjadi Industri ditandai adanya klub sepak bola Indonesia yang sudah menjadi badan hukum. Namun klub yang sudah menjadi badan hukum jumlanya masih hitungan jari.

Untuk itulah, Sumut juga harus bersiap-siap terlibat aktif dalam industri ini. Dengan majunya industri sepak bola bisa menjadi salah satu faktor pendukung berkembangnya industri di sektor lain. Sebab fungsi industri ini memiliki fungsi sebagai kompetisi dan juga industri atau bisnis. Klub yang bertanding di kompetisi lebih tinggi berpeluang lebih besar dalam keberhasilan dalam industri ini.

Yang terlibat dalam industri sepak bola bukan hanya sekadar pemain dan pelatih. Ada pihak lain dalam industri ini yang juga terlibat aktif, seperti sponsor, pencari bakat, sampai masyarakat. Pasar dalam industri ini juga dari berbagai aspek. Misal, dari penjualan tiket, akademi sepak bola, lalu dari segi pemasaran dapat penghasilan dari sponsor, suvenir, iklan dan lainnya. Masih ada lagi aset dan omzet klub sepak bola tersebut, dan penjualan pemain. Tentunya industri sepak bola juga dapat membuka peluang lapangan kerja seperti penjualan alat-alat olah raga dan lain sebagainya. Dengan adanya industri sepak bola dapat menggairahkan pasar dan tentunya sekaligus memperkenalkan daerah klub sepak bola tersebut berasal.

Sumut yang memiliki lokasi strategis, sebagai pintu gerbang Indonesia harusnya dapat memaksimalkan peluang ini. Industri ini selain dapat membanggakan daerah Sumut tentunya dapat menjadi pendapatan daerah. Apalagi, pendapatan daerah Sumut saat ini masih mengandalkan pajak kendaraan bermotor.

Berkembangnya industri ini dapat juga menjadi pendorong industri lain untuk berkembang. Misalnya, sektor pariwisata dan budaya. Sepak bola yang merupakan industri seksi dapat menarik siapa saja baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Kita tentunya dapat memperkenalkan pariwisata dan budaya asli Sumut.

Gubernur Sumut sebagai kepala daerah harus melihat industri sepak bola sebagai peluang. Gubsu terpilih harus mengembalikan sepak bola Sumut kekodrat asalnya. Tak hanya bersinar di dalam negeri melainkan sampai luar negri. Menjadikan sepak bola Sumut menjadi kebanggaan masyarakatnya. Cukup sudah kita terpuruk dalam kondisi seperti ini. Masyarakat Sumut sudah rindu dengan keperkasaan sepak bola Sumut.

Isu lain seperti pendidikan, sarana dan pra sarana umum, pengangguran dan lainnya memang perlu dibenahi. Namun jangan melupakan sepak bola, olah raga yang digemari paling banyak seluruh penduduk bumi dan Sumut. Berkembangnya industri sepak bola di Sumut bisa jadi seperti pepatah “sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui”. Mengembalikan kehormatan sepak bola Sumut dan meningkatkan industri di Sumut.

Ini memang bukan pekerjaan mudah. Tidak sedikit tenaga dan materi yang dibutuhkan. Perlu juga ada keterlibatan pihak luar seperti investor, perusahaan-perusahaan dan juga masyarakat itu sendiri untuk perkembangan industri ini. Marilah sama-sama kita menggulung lengan baju demi kemajuan Sumut bersama.

Penulis adalah Mahasiswa FIB USU, Anggota Pers Mahasiswa SUARA USU dan Penikmat Sepak Bola

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).