BOPM Wacana

Crab Mentality: Ketika Keberhasilan Orang Lain Terasa Seperti Ancaman

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi. | Firda Elisa
Ilustrasi. | Firda Elisa

Oleh: Firda Elisa

Kalau aku gagal, kamu juga harus gagal. 

Dalam lingkup pertemanan atau kehidupan sosial, ketika berusaha meraih sebuah pencapaian atau keberhasilan, tidak semua orang di sekitar akan senang dan mendukung hal tersebut. Justru sebaliknya, ada beberapa yang menjadi egois dengan menjatuhkan dan memanipulasi agar mengalami kegagalan. Perilaku tersebut merupakan contoh dari crab mentality yang tidak jarang terjadi di sekitar kita.

Crab mentality merupakan perasaan terancam atau terganggu yang dialami oleh individu karena kesuksesan atau pencapaian yang diraih orang lain. Pada konteks sosial, crab mentality mencerminkan rasa iri, keinginan untuk meremehkan orang lain, dan ketakutan akan kehilangan status atau posisi (Rofiqoh dan Muhaimin, 2025: 68).

Istilah crab mentality dianalogikan dengan sekelompok kepiting, yang apabila dimasukkan ke dalam sebuah ember, maka kepiting yang berada di posisi paling atas akan berusaha untuk memanjat keluar. Namun, kepiting-kepiting lain di bawahnya tidak akan membiarkannya keluar dengan mudah, justru menariknya kembali agar jatuh lebih dalam ke dasar ember.

Crab mentality bersifat destruksi atau merusak. Fenomena ini mudah pula kita temui dalam lingkungan perkuliahan, bahkan kita cenderung tidak sadar saat sedang menghadapinya, seperti dalam situasi berikut. Jika seorang mahasiswa mendapatkan nilai A dalam sebuah tugas, lalu teman sekelasnya berkata, “biasa aja sih, dosennya memang mudah kasih nilai A, kok”. Bukannya mengapresiasi, perkataan tersebut justru bermaksud untuk membuat si mahasiswa merasa bahwa pencapaian dan usahanya tidak seberapa baik, hanya karena sang dosen berbaik hati untuk memberikan nilai A.

Bagaimana crab mentality muncul?

Dilansir dari Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara, crab mentality tumbuh ketika seseorang mengalami rasa terancam terhadap orang-orang di lingkungan yang sama. Individu dengan crab mentality akan merasa tidak nyaman jika individu lain di lingkup yang sama berada satu tingkat lebih baik daripada dirinya. Hal tersebut memicu rasa persaingan sehingga semua situasi dianggap sebagai kompetisi.

Dalam kehidupan sosial, sifat kompetitif mungkin menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, sifat kompetitif akan mengantarkan individu untuk terus berusaha dan tidak menyerah agar tidak tertinggal dari individu lain. Namun, sifat kompetitif ini justru dapat memicu rasa iri dengan apa yang diperoleh individu lain dan berujung saling menjatuhkan dengan mengkritik atau memanipulasi.

Crab mentality dapat memberi dampak negatif pada individu yang mengalaminya, seperti rasa cemas akan kekalahan, rasa egois dan tidak puas akan pencapaian yang berujung menghambat pengembangan diri hingga rasa iri hati terhadap individu lain.

Sementara itu, dampak crab mentality pada korban yang seringkali tidak sadar bahwa ia berada di lingkungan yang tidak sehat, akan membuatnya kehilangan semangat dan motivasi karena kerap diremehkan. Ia akan ragu untuk mengambil risiko dan memulai sesuatu yang baru karena khawatir akan dikritik secara berlebihan.

Menghindari crab mentality

Dilansir dari CalmClinic, untuk menghindari munculnya crab mentality pada diri kita pribadi, mulailah dari hal-hal sederhana seperti mengubah pemikiran bahwa kita hanya berkompetisi dengan diri sendiri. Cukup bandingkan diri kita yang sekarang dengan di masa lalu daripada harus membandingkan diri kita dengan orang lain. Dengan begitu, kita akan dapat mengetahui perkembangan dan proses yang kita alami dan fokus pada tujuan yang ingin dicapai.

Selain itu, penting bagi kita untuk berhati-hati dalam memilih lingkungan pertemanan yang positif dan mendukung. Tanpa kita sadari, mungkin saja kita telah terjerumus ke dalam lingkungan pertemanan yang saling menjatuhkan satu sama lain. Hal ini dapat dilihat dari tanda-tanda kecil seperti perkataan yang cenderung menyepelekan daripada mendukung, hingga kritik berlebihan yang bertujuan untuk menjatuhkan, bukan membangun.

Untuk itu, perlu bagi kita untuk membatasi interaksi jika lingkungan pertemanan sudah dirasa tidak sehat. Sedari awal, kurangi berbagi detail tentang rencana atau tujuan yang ingin kita capai, cukup simpan untuk diri sendiri. Tidak perlu merasa iri dengan apa yang diraih orang lain, karena setiap orang memiliki arah dan tujuan yang berbeda.

Mungkin kamu akan menemukan kerikil dalam hidupmu atau bongkahan batu besar menghalangi jalanmu. Cukup fokus pada langkah yang kamu ambil, tak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Mari ciptakan lingkungan sosial yang sehat, karena segala hal tidak perlu dijadikan ajang kompetisi.

Komentar Facebook Anda

Firda Elisa

Penulis adalah Mahasiswa Sastra Indonesia FIB USU Stambuk 2023. Saat ini Firda menjabat Koordinator Pustaka dan Riset BOPM Wacana.

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus