BOPM Wacana

Cinta Tanpa Batas

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Yulien Lovenny Ester G

 

Ilustrasi: Yulien Lovenny Ester G
Ilustrasi: Yulien Lovenny Ester G

Terima kasih karena telah memberikan warna baru dalam hidupku

Terima kasih karena telah membiarkanku mendengar kisahmu

Terima kasih karena telah mengajariku bersyukur

Terima kasih karena membuatku terlihat sempurna seperti manusia normal lainnya

Terima kasih karena telah membiarkanku mencintaimu tanpa batas

Aku hanya berdoa semoga kau baik-baik saja

 

Tuhan menyertaimu,

Venny Lie

 

Foto YulienMatanya sayu. Sorot matanya kosong. Tak ada tanda kehidupan di wajahnya. Bibirnya pucat. Di pinggir kolam ia duduk. Ia bersama kursi rodanya. Dia tak biasa. Pagi ini dia diam. Aku tak tahu mengapa. Dia tak pernah begini sebelumnya.

Darren, begitulah aku menyapanya. Kami bertemu di gereja. Darren masih kecil saat itu, usianya sepuluh tahun. Kejahilan Darren-lah yang membuat kami bertemu. Darren, laki-laki bertubuh kecil itu, menggunakan kursi roda untuk berpindah ke satu tempat lain. Ia tak malu dengan keterbatasannya. Aku mencintai keterbatasan Darren. Aku membantunya mendorong kursi roda dan memandunya ke mana pun ia pergi.

Darren pandai bercerita. Aku senang mendengar cerita-cerita Darren. Di gereja, anak-anak lain sangat senang untuk mendengar ceritanya. Cerita tentang kesehariannya, dan cerita tentang tokoh–tokoh Alkitab.

Ia bercerita pernah suatu hari di pasar malam, ketika ia pergi bersama orang tuanya. Ia ingin buang air kecil. Oleh karena tak kamar mandi untuk pengguna kursi roda, ia memberanikan diri untuk ke kamar mandi umum. Tapi karena ruangan kamar mandi terlalu sempit, ia tak bisa berpindah dan akhirnya ia mengencingi celananya sendiri. Anak- anak yang mendengar cerita ini tertawa geli. Aku pun tersenyum.

Tetapi jujur, kisah itu mengharukan. Darren tak pernah mengeluh dengan keterbatasannya. Ia selalu bersikap positif, tak menggangap bahwa ia terbatas. Terkadang ia mau mengajak anak-anak lain mencoba kursi rodanya. Anak-anak itu berputar-putar di atas kursi roda. Kami berdua tertawa.

Darren bilang aku cantik. Aku tersipu malu. Tak pernah ada laki-laki yang pernah bilang aku cantik. Hanya Darren.

Namun aku tak pernah bercerita banyak dengan Darren. Ia pun tak pernah mempermasalahkannya. Darren yang selalu bercerita.

Aku juga senang mendengar suara Darren. Suara Darren berubah. Sekarang jauh lebih berat. Sudah dewasa rupanya dia, pikirku.

Darren mengajariku untuk menerima keterbatasan, ia mengajari aku bagaimana bersikap normal. Aku akui aku cukup canggung bila bertemu orang baru. Sehabis bersalaman, biasanya aku diam. Dan aku tak punya topik pembicaraan.

***

Usiaku delapan tahun, aku ditinggalkan orang tuaku di panti asuhan di sebelah gereja. Kata ibu biara, orang tuaku menitipkanku karena akan pergi jauh. Aku tak mengerti waktu itu. Ternyata maksudnya adalah orang tuaku didiagnosa terkena kanker hati. Mereka tak bisa diselamatkan. Keluarga kami sangat miskin rupanya. Ayah bekerja sebagai pemulung dan ibu bekerja pengrajin tikar purun. Tak banyak penghasilannya. Awalnya aku heran, kenapa kedua orang tuaku terkena kanker. Ternyata memang gen kanker diturunkan oleh kedua kakekku.

Dua tahun tinggal di panti, aku bertemu Darren.  Aku pemalu. Aku selalu menangis jika bertemu dengan orang lain, tapi tak dengan Darren. Ia menarik perhatianku. Begitulah kebersamaan kami bertumbuh. Di usia ke-22 tahun. Ada berita buruk menghampiriku. Aku didiagnosa mengidap penyakit yang sama dengan orang tuaku. Aku terkena kanker hati. Penyakit ini mulai mengerogotiku sepuluh tahun silam. Aku tak tahu bahwa risikoku untuk terkena kanker cukup besar.

Aku bingung, aku tak tahu harus bagaimana mengatakan pada Darren. Aku berencana akan menuliskan surat dan memberikannya saat kematianku nanti. Ibu biara membantuku. Beliau  meminta donatur untuk pengobatanku. Saat itu juga aku berjanji untuk menjadi biarawati jika Tuhan menyelamatkan nyawaku.

Sesungguhnya hal ini tidak baik, aku meminta sesuatu dan menawarkan sesuatu pada Tuhan untuk gantinya. Tapi jujur, aku memang ingin menjadi biarawati. Tuhan menjagaku dan membiarkan aku tinggal di panti asuhan adalah anugerah terbesar dalam hidupku. Dan bertemu Darren adalah keindahaan luar biasa.

Aku sembuh. Setelah proses operasi pengangkatan seperempat bagian hatiku, aku berhasil diselamatkan. Janji pun harus dilaksanakan.

Sejujurnya, aku terlahir bisu, bertemu Darren adalah anugerah bagiku. Aku mencintainya sebab kekurangannya dan dia mencintaiku dengan kekuranganku. Tapi saat ini, cincin yang menjadi pertanda bahwa aku telah bersatu dengan Tuhan membuatku hanya mencintai Darren sebagai sesamaku manusia. Aku mencintai Tuhanku dan aku mengasihi Darren.

***

Di pinggir kolam, ia terdiam. Air matanya mulai menetes. Ia memegang foto kami, sepucuk surat digengamnya erat. Aku memandangi Darren. Aku tepat di belakangnya. Tapi ia tak bisa melihatku. Seperti yang kukatakan, aku menjadi seorang biarawati dan aku melayani di gereja di kota. Tak lama setelah pengangkatan sebagian hatiku, kanker itu kembali mengegerogoti. Hati yang kupakai untuk mencintai Tuhanku dan mengasihi Darren memang telah rusak. Tapi cinta tanpa batas masih bertumbuh dan berkembang. Aku hanya sebentar meninggalkan Darren. Aku berharap bertemu dengannya di surga nanti. Selamat tinggal Darren.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).