BOPM Wacana

Period Poverty: Bukti Abainya Negara terhadap Kesehatan Reproduksi Perempuan

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi. | Firda Elisa
Ilustrasi. | Firda Elisa

Oleh: Firda Elisa

Bagi sebagian perempuan, menstruasi tidak hanya memberi sensasi menyakitkan pada tubuh, mengacaukan hormon dan perasaan, tetapi juga mempersulit mereka untuk menjaga kebersihan organ vital yang sedang berada pada kondisi sensitifnya. Masalah tersebut masih dirasakan oleh sebagian besar perempuan di Indonesia, terutama mereka yang berasal dari daerah-daerah dengan akses dan fasilitas kebersihan yang terbatas.

Diskursus mengenai ketimpangan tersebut masih terus dibahas, terutama jika membicarakan mengenai hak dan kebutuhan dasar perempuan. Hingga saat ini, negara masih gagal dalam menyediakan dan mendukung kenyamanan perempuan dalam menjaga kebersihan sistem reproduksi yang jika tidak diperhatikan dengan baik, bisa saja berujung pada masalah kesehatan yang lebih serius.

Period poverty, seperti yang dilansir dari unwomen.org, merujuk pada ketidakmampuan untuk membeli dan mengakses produk menstruasi, fasilitas sanitasi dan kebersihan, serta pendidikan dan kesadaran untuk mengelola kesehatan menstruasi. Fenomena ini bukanlah murni kesalahan individu, tetapi kurangnya perhatian pemerintah dalam menjaga hak dan kebutuhan dasar perempuan.

Produk-produk kebersihan menstruasi, misalnya pembalut, belum tentu dapat dijangkau oleh seluruh perempuan Indonesia. Masalah utama bukan hanya terdapat pada harganya yang cukup mahal, tetapi juga ketersediaan dan aksesnya ke berbagai daerah. Sementara itu, alternatif yang kerap digunakan untuk menggantikan pembalut adalah dengan menggunakan potongan kain, justru sering kali masih terasa kurang nyaman karena seratnya yang kasar.

Akar masalah di balik period poverty

Period poverty dilatarbelakangi oleh berbagai faktor, sebagaimana dirujuk dalam Jurnal Media Gizi Kesmas, melalui sebuah artikel bertajuk “Literature Review: Faktor Penyebab dan Dampak Period Poverty di Indonesia”. Salah satu faktor yang memberi dampak besar adalah ekonomi, terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia. Banyak perempuan dari keluarga kurang mampu yang tidak bisa membeli pembalut atau produk kebersihan menstruasi lainnya karena lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan.

Adapun faktor pendidikan juga turut melanggengkan period poverty pada diri perempuan Indonesia. Fenomena yang paling mudah ditemui adalah minimnya pengetahuan tentang menstruasi dan Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM). Hal ini diperparah oleh stigma tabu yang membuat banyak orang tua enggan membicarakan menstruasi secara terbuka.

Bagi remaja perempuan yang baru saja mengalami menstruasi pertama, terkadang, informasi yang didapat dari orang dewasa sering kali tidak akurat dan komprehensif. Banyak masyarakat masih berpegang teguh untuk tidak melakukan beberapa aktivitas seperti larangan keramas, berolahraga, dan meminum obat selama menstruasi berlangsung. Meskipun pada akhirnya, klaim tersebut terbukti kurang tepat secara medis.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah tempat tinggal. Beruntunglah bagi perempuan perkotaan yang memiliki akses lebih mudah untuk mendapatkan produk kebersihan menstruasi dan fasilitas kebersihan dibandingkan perempuan di pedesaan yang belum tentu memiliki kemudahan yang serupa.

Terakhir, faktor keterbatasan infrastruktur yang ditunjukkan dari kurangnya akses terhadap air bersih, sabun, dan toilet pribadi yang layak dan aman (terkunci) hingga minimnya pengolahan limbah pembalut yang memadai. Ironisnya, perempuan yang tidak membuang sampah pembalut dengan benar akan dianggap kotor, padahal keterbatasan fasilitas terkadang menjadi hambatan untuk mereka membersihkan diri.

Pada akhirnya, ke mana sampah pembalut itu bermuara bukan ditentukan oleh seberapa hati-hati perempuan membuangnya, melainkan pada sistem pengelolaan sampah di Indonesia yang sejak dulu memang belum siap mengelola limbah sanitasi dengan benar.

Apa yang terjadi pada perempuan yang mengalami period poverty?

Ketimpangan dalam hak dan kebutuhan dasar perempuan, yakni akses kepada pemenuhan keperluan yang berkaitan dengan menstruasi, masih menjadi kendala dan masalah utama yang mengikat perempuan Indonesia. Period poverty menghadapkan mereka pada dampak dan akibat yang serius dari fenomena ini, terutama mengenai kesehatan reproduksi.

Studi yang dilakukan oleh Firdaus, dkk. (2025) mengungkapkan bahwa period poverty berdampak serius terhadap kesehatan reproduksi perempuan. Keterbatasan akses terhadap pembalut, tampon, atau menstrual cup memaksa banyak perempuan menggunakan produk kebersihan menstruasi dalam waktu yang lebih lama dari seharusnya, sehingga meningkatkan risiko infeksi saluran kemih dan infeksi saluran reproduksi.

Tak hanya itu, buruknya kesehatan reproduksi dapat menghambat produktivitas dan partisipasi perempuan dalam kegiatan ekonomi. Mereka sering kali tidak dapat hadir di aktivitas pekerjaan atau pendidikan karena masalah kesehatan reproduksi. Hal tersebut kemudian berkembang dan menjadi penyebab hilangnya pendapatan serta kesempatan pendidikan yang pada akhirnya memperburuk siklus kemiskinan. Rendahnya pendidikan juga turut menyebabkan terbatasnya akses ke informasi kesehatan menstruasi yang benar, sehingga memperbesar risiko praktik kebersihan yang buruk.

Pada akhirnya, evaluasi dan perhatian yang lebih serius perlu dilakukan oleh negara untuk mencegah dampak dan akibat period poverty yang mengganggu kenyamanan dan kesehatan perempuan. Di saat mereka sudah cukup terbebani dengan ketidaknyamanan fisik saat menstruasi, jangan sampai negara turut mengacuhkan kebutuhan mendasar perempuan untuk sekadar melakukan aktivitas dengan nyaman, memiliki produk kebersihan menstruasi yang memadai, dan menemukan fasilitas yang aman untuk membersihkan diri.

Komentar Facebook Anda

Firda Elisa

Penulis adalah Mahasiswa Sastra Indonesia FIB USU Stambuk 2023. Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan BOPM Wacana.

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus