
Oleh: Dinar Fazira Fitri
Medan, wacana.org – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan menggelar diskusi publik dalam peringatan hari kebebasan pers sedunia, untuk membahas tantangan dan masa depan kebebasan pers di Sumatra Utara (Sumut). Pembicara hadir dari kalangan jurnalis dan akademisi, yaitu Rika Suartiningsih (Pemimpin Redaksi Harian Mistar), Jhonni Sitompul (Jurnalis MedanBisnis), serta Iskandar Zulkarnain (Guru Besar Ilmu Komunikasi USU). Diskusi ini berlangsung di Arteri Coffe dan Coworking Space, Selasa (5/5/2026).
Ketua AJI Medan,Tonggo Simangunsong, selaku moderator diskusi menyampaikan data bahwa Indonesia berada di urutan 127 dari 180, berdasarkan indeks kebebasan pers dunia. “Kebebasan pers itu masih sangat jauh dari ideal, artinya banyak yang menjadi penghalang. Hari ini kita akan mendengarkan persoalan tersebut dari sudut pandang yang berbeda,” ucapnya.
Ia juga berpendapat bahwa penghalang kebebasan pers saat ini, termasuk kontrol dan pengawasan dari pemerintah dan upaya bisnis media sambil tetap menjaga idealistiknya. “Jurnalis atau wartawan yang berhubungan di daerah, mungkin sering kali tak lepas dari pantauan publik dan pemerintah,” sampai Tonggo.
Pemaparan pertama disampaikan oleh Jurnalis MedanBisnis, Jhonni Sitompul, bercerita tentang pengalamannya mengkritik sikap pemerintah saat banjir Serdang Bedagai. Hal tersebut berujung membuatnya terkena pasal UU ITE atas pencemaran nama baik. Setelahnya, Pemimpin Redaksi Harian Mistar, Rika Suartiningsih, mengungkapkan tantangan perusahaan media, yang tetap harus berfungsi sebagai kontrol sosial.
Di akhir sesi, Guru Besar Ilmu Komunikasi USU, Iskandar Zulkarnain, menyinggung krisis kepercayaan pada media akibat banyaknya hoaks dan disinformasi. Selain jurnalis lokal, diskusi ini juga turut mengundang pers mahasiswa dan Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di Sumut.
Salah satu peserta diskusi, Hamzah, berpendapat bahwa pelarangan dan impunitas harus dilawan oleh jurnalis secara berserikat. “Saya berharap kegiatan ini dapat diadakan secara rutin dan keberlanjutan, sehingga kawan-kawan di luar pers juga memahami dan bisa kompak untuk menghalau pelarangan liputan atau intimidasi yang dialami jurnalis,” sampainya.



