BOPM Wacana

Salah

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi : Yael Stefany Sinaga.

 

Oleh: Yulia Pransiska

“Entahlah, aku tak pernah dengar kabar si anak ingusan itu lagi hingga sekarang.”

***

Tengah malam di awal Juni, listrik padam.

Kaget saat itu.

Yang mulanya sedang merapikan beberapa kertas karena terlalu menumpuk di dalam lemari kerja, segera kutinggalkan untuk mencari kawan di ruang tengah.

“Dasar penakut,” makiku dalam hati di saat gelap.

Padahal ini hanyalah mati lampu. Dan poin plusnya aku tidak sendiri di rumah ini.

Berbicara mengenai rumah, teramat kali ini bukan rumah milik sendiri. Tapi orang bilang tumbuhkan lah rasa memiliki untuk rumah ini.

“Silih berganti manusia bisa datang dan pergi. Tapi rumah ini akan tetap menjadi rumah yang menampung banyak pemikiran dari setiap penghuninya. Tinggal bagaimana si tuan rumah mau menjaga dan merawat rumah ini dengan konsep manusia yang menempatinya. Jadi,jagalah rumah ini agar tetap menjadi rumah,” kurang lebih sepanjang itulah bentuk doktrin mengenai rumah yang kutempati sepanjang seminggu ini.

Seminggu ternyata aku sudah tidak pulang ke rumah yang lebih kecil dari rumah ini. Padahal rumah kecil—Kost itu telah dibayar perbulannya oleh orang tuaku sebesar enam ratus ribu. Entah mengapa seminggu ini rumah ini membuatku nyaman di dalamnya. “Ah, bilang aja karena ada WiFi,” sindir si kawan yang sok tahu.

Benakku mengatakan aku memang menggunakan fasilitas itu, tapi bukan itu yang menjadi alasan utama.

“Kau dimana? Di rumah itu lagi? Pasti karena malas beresin kostmu kan?,” muncul pula notif pesan dari kawan kuliah yang mencariku di tengah malam dengan tuduhan sesuka hatinya.

Dengan sesuka hatiku aku juga menjawab pesannya dengan mengatakan “Kau cuma tidak tahu bagaimana rasanya keluar dari rumahmu di tengah malam begini. Beruntunglah aku bukan sepertimu walaupun aku malas,” sapaku lumayan menyesakkan hati baginya yang sesuka hatiku juga menjawab pesannya. Maklum dia anak rumahan.

Listrik yang padam ini masih berlanjut. Aku benar-benar sangat membenci gelapnya tengah malam. Ditambah angin seperti berbisik pada telinga kananku bahwa di tengah malam ini dengan keadaan mati listrik sangat menakutkan. Terutama karena aku penakut.

Segera kedua kawanku berusaha mendapatkan cahaya dari senter handphone. Agak tenang perasaanku melihat cahaya di kala itu.

Siapa sangka, listrik yang padam membuatku dan kedua kawanku untuk mengulang masa kecil. Awalnya kawanku yang berambut panjang memainkan bayangan bak anak kecil yang tak punya kegiatan.

“Aku mencoba membuat monster yang menakuti adik sepupuku,” ujarnya sambil memainkan bayangan dengan tangannya. Aku yang melihat permainannya pun berusaha untuk memperhatikannya dulu sebelum protes.

“Padahal ini hanya tangan, tapi adik sepupuku menangis. Dia kira bayangan tanganku akan memakannya,” ujarnya lagi yang masih memainkan permainan bayangan.

Aku dan kawanku yang berkacamata tertawa mendengar penjelasannya. “Itulah anak kecil, lugu,” komentarku pada kedua kawanku.

Perasaanku yang tadinya takut karena listrik yang padam ini, akhirnya mulai hangat dengan ingatan masa kecilku yang berumur 6 tahun. “Kalian tahu? Dulu sewaktu SD aku merasa menjadi anak yang bodoh,” kataku mulai bercerita.

“Aku selalu menjadi anak perempuan yang mendapatkan peringkat terakhir. Padahal orang tuaku seorang guru SD. Aneh bukan?,” kenangku.

“Lalu, apa yang kau ingat waktu SD dulu?” tanya si rambut panjang.

Aku pun mulai bercerita. Dulu aku merupakan anak kecil yang sangat lugu. Dan keluguanku menjadi lelucon bagi orang-orang. Waktu kelas 1 SD, guruku menyuruh kami berbaris sebelum masuk ke kelas. Ia memberi intruksi kepada kami. “Istrirahat di tempat, grak!” dan yang kulakukan aku duduk.

“Dan apa yang dikatakan gurumu,” tanya si kacamata.

“Aku dihukum dengan berdiri di barisan paling depan kala itu. Katanya aku tak mengerti baris-berbaris,” jawabku.

Seluruh teman-temanku menertawakan aku. Malangnya, tak ada yang membelaku kecuali si anak ingusan. Anak laki-laki ingusan itu berusaha membuat orang yang menertawaiku untuk diam. “Jangan ketawain dia,” kalimat itu yang tergiang dalam benakku.

Semenjak hari itu, aku akrab dengan si anak laki-laki ingusan. Dia anak yang baik dan pemberani. Saking akrabnya kami pun duduk sebangku di kelas. Di kursi paling belakang.

Keakrabanku dengan si anak ingusan tak berlangsung lama. Ayahku yang sangat protektif akhirnya mengetahui bahwa aku berteman dengan si anak laki-laki ingusan, duduk di kursi paling belakang, mendapat nilai jelek, dan mengobrol di saat guru mengajar.

“Apa yang Ayahmu lakukan padamu akhirnya,” tanya si rambut panjang sambil menatap kearah langit-langit rumah ini.

“Aku pindah sekolah. Alasan Ayahku memindahkanku karena SD itu jorok. Aku harusnya belajar di lingkungan yang bersih agar dapat menyerap ilmu dengan mudah. Padahal jelas sekali ayahku tak ingin aku bergaul dengan si anak laki-laki ingusan itu,”

Perjalananku sebagai anak kecil yang berumur 6 tahun untuk sekolah berlanjut. Aku masuk SD Swasta. Saat masuk gerbang sekolah puluhan mobil pribadi dan mobil jemputan sekolah terparkir rapi.

Namun, aku tetap tak berubah. Aku tetap mendapatkan peringkat terakhir. Ditempat ini membuatku seperti preman di hadapan anak-anak laki-laki. Tak jarang aku bahkan berkelahi dengan anak-anak laki-laki.

Berbeda dengan di SD yang lampau, bila aku salah pasti si anak laki-laki ingusan yang membelaku. Sekarang aku bergaul dengan caraku bak memberontak karena pilihan Ayahku.

Kurasa didikan protektif Ayah bukan cara yang bagus untukku. Aku terkekang. Kenapa bila aku berteman dengan anak laki-laki ingusan itu? Apakah Ayahku takut aku menjadi orang gagal karena itu? Entahlah aku tak pernah dengar kabar si anak ingusan itu lagi hingga sekarang.

Perasaanku mengebu-gebu dengan ceritaku di masa lampau. Terutama aku harus teringat orang tua di ranah rantau ini. Dan akhirnya listrik yang sedari tadi padam, pun menyala. Pas sekali dengan selesainya ceritaku di saat berumur 6 tahun lalu. Si anak 6 tahun lalu itu ternyata tetap payah kawan.

“Mengapa?” Tanya mereka bersamaan, bingung.

“Karena ia masih belum paham mana yang disebut kanan dan mana yang disebut kiri. Bahkan untuk di rumah ini.”

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4