BOPM Wacana

Sahabat Tak Kasat Mata yang Ingin Didengar

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Renti Rosmalis

Judul: Danur

Penulis: Risa Saraswati

Penerbit: Bukune

Tahun terbit: 2011

Halaman: 216 halaman

Sekarang mereka memang bukan manusia, tapi mereka pernah jadi manusia. Mereka tak bermaksud mengganggu, mereka hanya penasaran. Satu yang mereka butuhkan, didengarkan.

Danur adalah cairan yang keluar dari mayat yang telah membusuk dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Kata ‘Danur’ inilah yang dipilih oleh Risa Saraswati untuk menjadi judul bukunya. Buku ini bukan buku misteri, meski dari judul dan beberapa tokohnya yang sedikit horor. Risa menghadirkan kisah persahabatan di sini. Danur menceritakan tentang Risa yang dikenal sebagai anak indigo. Sejak kecil ia sudah bisa berkomunikasi dengan sosok yang sering kita sebut Hantu dan bersahabat dengan mereka.

Risa sering bilang, jangan heran jika kita menemukannya sedang berbicara atau tertawa tanpa ada seorang pun berada di sekitarnya. Karena saat itu mungkin ia sedang bersama salah satu dari kelima sahabatnya, sahabat yang tak kasat mata.

Sejak kecil Risa sering hidup berpindah-pindah tempat tinggal. Saat usianya menginjak delapan tahun ia sudah hidup terpisah dari kedua orang tua dan seorang adiknya. Saat itu ia tinggal di Bandung bersama sang nenek.

Pindah rumah berarti ia juga harus pindah sekolah, berpindah dari desa ke kota membuatnya tidak nyaman dengan teman-teman baru yang kurang hangat menyambut kedatangannya. Minggu-minggu pertama di sekolah baru ia mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman-teman barunya hingga nekat kabur dari sekolah.

Risa kecil berlari pulang ke rumah tanpa peduli apa kata teman-teman dan Pak guru nanti. Sampai di rumah ia menangis di pojok loteng rumah nenek. Saat duduk tertunduk dan menangis, ia mendengar suara seorang anak laki-laki memanggil namanya. Seorang anak laki-laki Belanda dengan setelan kemeja dan celana pendek, bersepatu kulit dengan kaos kaki putih.

Namanya Peter. Katanya Peter adalah tetangga baru dari komplek sebelah. Perkenalannya dengan Peter inilah yang membawanya berkenalan dengan empat orang teman kecil lainnya Will, Hendrick, Hans, dan Janshen. Kelima orang teman inilah yang menjadi tempat Risa bercanda dan menghibur diri saat kesal di sekolah. Peter dan kawan-kawannya sering memaksa Risa untuk pergi ke sekolah meski Risa sering kabur juga dari mereka.

Setahun berteman dengan kelima anak laki-laki itu Risa dikejutkan dengan sebuah fakta. Ceritanya begini, suatu hari Risa melihat kelima temannya meraung-raung kesakitan dengan bercak darah di baju yang lusuh. Kepala mereka terpisah sangat jauh, “Risa tutup matamu!! Jangan pandangi kami!!,” teriak mereka. Di sini Risa baru sadar jika teman-temannya selama ini bukanlah manusia biasa sepertinya. Tak ada rasa takut saat melihat kejadian itu, yang ada hanya rasa iba. Ingin rasanya Risa memungut kepala mereka satu per satu dan berbisik, “aku tetap sahabat kalian.” Sejak saat itu persahabatan kelima hantu laki-laki dan seorang anak perempuan itu semakin akrab dan tak terpisahkan.

Sepanjang berteman dengan hantu-hantu itu, banyak hal menyenangkan yang ia temukan. Mereka sering bersama-sama melempari kuntilanak yang duduk di pohon, atau menggoyang-goyangkan pohonnya hingga mereka dikejar oleh si kuntilanak.

Banyak rupa hantu yang ia temukan, dari yang menunjukkan wajah biasa hingga yang seram. Selain itu ia juga tahu ternyata para hantu tersebut hanya butuh di dengarkan. Ia diceritakan oleh kelima sahabatnya asal mereka saat masih hidup.

Kelimanya adalah anak Belanda yang mati akibat dipengal kepalanya oleh tentara Jepang. Arwah mereka penasaran lantaran masih mencari, atau menunggu seseorang. Begitu pun dengan hantu-hantu lain yang ia temukan. Ia dengarkan semua cerita hantu-hantu itu, ia ketahui apa penyebab mereka masih bergentanyangan, menjadi tempat curahan hati para hantu bergentayangan tersebut.

Hingga suatu hari ia ditinggalkan oleh kelima sahabat hantunya, ia sempat kesepian, bingung bagaimana cara memulai kembali hidup normal. Selain cerita kelima sahabat hantunya, dalam buku ini Risa juga menceritakan kisah tentang arwah-arwah gentayangan lainnya yang ia jumpai di berbagai tempat hingga dewasa.

Risa Saraswati lebih dikenal sebagai seorang penyanyi ketimbang penulis. Selain menulis dan menyanyi ia juga kerap tampil di televisi sebagai seorang paranormal yang mampu menjelaskan hal-hal yang berbau mistis.

Kedekatannya dengan dunia mistis ini tentu memengaruhi hasil karyanya. Seperti buku Danur ini yang isinya menceritakan kisah Risa bertemu dan berteman dengan makhluk-makhluk tak kasat mata. Dalam buku ini Risa bercerita dengan gaya yang sederhana, cerita disajikan dengan datar dan tidak menemukan kejutan dalam isi cerita. Tak ada konflik yang klimaks dalam buku ini, padahal salah satu klimaks bisa digali lebih seperti saat ia ditinggalkan oleh teman-teman hantunya, atau saat ia ditagih janji untuk bergabung ke alam yang sama dengan teman-teman hantunya.

Risa juga tidak menggunakan deskripsi yang lebih detail saat menggambarkan sosok tokoh atau tempat dan suasana cerita. Karenanya tokoh-tokoh yang ia ceritakan tidak tergambar utuh dan hanya memperkuat nama dari pada deskripsinya. Padahal akan lebih baik jika pembaca mampu berimajinasi tentang sosok yang ia ceritakan. Untuk membantu deskripsi, buku ini dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi tokoh yang mungkin dapat membantu pembaca membayangkan gambaran-gambaran tokoh dalam cerita.

Secara keseluruhan buku ini menggunakan gaya bahasa ringan namun kaya dengan kata-kata. Buku ini bukan jenis bukuteenlit yang bercerita dalam bahasa gaul. Meski begitu, buku ini cocok untuk dibaca baik remaja, dewasa, atau pun anak-anak. Tidak begitu berlebihan, konflik yang tidak begitu mengejutkan, buku ini hanya pas. Tidak lebih tidak juga kurang.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4