BOPM Wacana

MWA Memang Bukan Tempat untuk Mahasiswa

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Lazuardi Pratama

Ilustrasi: Lazuardi Pratama
Ilustrasi: Lazuardi Pratama

Siapa yang tertinggi di USU ini? Bukan rektor bukan menteri. Ia adalah majelis wali amanat alias MWA.

Foto Lazu Lazuardi lala

MWA memang bukan bukan tempat untuk mahasiswa. Mahasiswa tidak layak di situ. MWA, kita panggil saja Majelis, bukan tempat untuk kelas menengah dan pelajar budiman seperti mahasiswa. Mahasiswa tempatnya itu ya di kelas, di kantin, dan di kos-kosan. Duduk di kursi empuk, belakang meja dengan masing-masing miknya, dan punya ruang khusus di Biro Rektor bukan budaya mahasiswa. Budaya mahasiswa ya belajar.

Kita adalah cabang terendah rantai makanan dalam institusi pendidikan bernama USU ini. Jadi jangan banyak cakap.

Untuk teman-teman senasib sepenanggungan saya yang sama-sama menjadi rantai terendah di USU ini, saya coba uraikan singkat apa itu Majelis.

MWA adalah organ tertinggi di USU. Bahkan, rektor dan menteri adalah bagian dari Majelis. Mungkin fungsinya seperti majelis permusyawaratan rakyat di negeri ini. Anggotanya adalah yang bijaksana-bijaksana. Itulah mahasiswa jangan sok paten dengan merasa bijaksana.

Sebagian besar anggotanya ialah mereka yang mewakili senat akademik dan masyarakat. Senat akademik itu ya dosen-dosen kita, para dekan dan wakil dekan. Kemudian ada wakil masyarakat, ya itu, namanya juga wakil masyarakat. Siapa saja bisa daftar. Mulai dari pengacara, pemimpin perusahaan perkebunan, atau bisa juga istri dari pemimpin perusahaan perkebunan yang beasiswanya terkenal itu.

Mahasiswa juga wakil masyarakat. Mantap sekali memang. Pembagian ini memang benar-benar didasari pada tri dharma perguruan tinggi ketiga: pengabdian pada masyarakat. Jadi mahasiswa termasuk juga dalam masyarakat yang punya wakil itu. Yaaaaa, walaupun wakilnya bukan mahasiswa, tapi istri taipan pemilik perusahaan perkebunan yang beasiswanya terkenal itu.

Kenapa?

Waduh, pertanyaan yang gampang dijawab. Bahkan kalau ditanyakan pada anggota MWA sekarang, kenapa enggak ada wakil mahasiswa dalam MWA? Banyak alasannya.

Masa bakti Majelis itu lima tahun. Masa sih mahasiswa tamat lima tahun lebih gara-gara jadi anggota Majelis? Katakan sajalah Presiden Mahasiswa kita sekarang stambuk 2010. Tahun depan dia mesti tamat. Kalau enggak, ya siap-siap aja diancam drop out. Ngapain lama-lama tamat demi ngurusin universitas?

Bahkan mahasiswa yang masih enam semester untuk D3 dan delapan semester untuk S1 sudah dipaksa tamat oleh departemennya. Tidak lain tidak bukan karena akreditasi. Kalau ente lamat tamat, poin akreditasi departemenmu berkurang. Artinya, peluang akreditasi departemenmu pasti semakin menurun.

Kenapa bisa begitu? Intinya kuliah ini ya belajar, cepat tamat, semakin cepat semakin bagus, melamar pekerjaan di perusahaan bonafide, atau jadi PNS, pacaran, kawin, punya anak, naik haji, terus hidup nyaman dengan gaji pensiun.

Ada lagi alasannya bahwa mahasiswa itu belum pantas ada di Majelis. Majelis itu mikirin universitas. Anggaran-anggaran universitas, pengawasan rektor, uang kuliah itu urusan Majelis. Ribet? Makanya mahasiswa enggak usah mimpi. Kalau uang kuliahnya naik ya ngeluh saja di media sosial.

USU bukan satu-satunya universitas yang punya lembaga ini. Di antaranya universitas-universitas papan atas seperti UI, ITB, dan lain sebagainya. Agak mengherankan juga, mereka punya wakil mahasiswa dalam Majelis. Bukan diwakili isti taipan pemilik perusahaan perkebunan yang enggak pernah kelihatan batang hidungnya itu.

Jadi setiap tahun (bukan lima tahun sekali) mereka mengadakan pemilihan. Satu mahasiswa dipilih oleh seluruh mahasiswa untuk menduduki satu kursi Majelis. Padahal cuma dikasih satu kursi, tapi mahasiswa di sana girang sekali. Fungsinya bukan seperti BEM atau Pema. Okelah Pema sebagai kontrol mahasiswa terhadap rektorat. Tapi ya Pema bisa apa kalau rektorat bikin ini itu? Paling-paling audiensi dan demonstrasi.

Adanya mahasiswa di Majelis itu memungkinkan mahasiswa punya kesempatan untuk ambil bagian dari voting kebijakan universitasnya. Ya untuk alasan normatif, mahasiswa adalah stakeholder terbesar unversitas. Katakanlah jumlah mahasiswa USU 40 ribu, berapa orang sih dosen dan pejabat Biro Rektor?

Tapi ya sekali lagi jangan mimpi. Kita ya paling cuma bisa mengeluh saja di media sosial: yang banyak kehilangan motorlah, yang USU kebanjiranlah, yang dosennya sering enggak datanglah, yang uang kuliahnya kemahalanlah. Saya menyarankan, kembalilah kawan-kawan ke dalam fitrah kita sebenarnya: kita ini kelas menengah yang kerjanya belajar dan main media sosial saja.

SUARA USU kemarin sempat serius sembari iseng-iseng membikin diskusi tentang MWA ini. Isinya tentang mahasiswa dalam Majelis. Maka diundanglah anggota Majelis waktu itu dan mahasiswa.

Ya dari sekian banyak mahasiswa yang datang, semua keok oleh alasan-alasan bapak anggota Majelis. Janjinya sih bakal dibahas lagi sebelum pemilihan anggota MWA yang akan datang. Sembari tetap mengatakan mahasiswa bisa mendaftar lewat pemilihan yang mewakili masyarakat. Yah, untuk diketahui, pemilihan anggota MWA telah lewat dan kita masih diwakili masyarakat.

Menanggapi ini pemilihan anggota Majelis baru-baru ini yang tanpa unsur mahasiswa, Wakil Presiden Abdul Rahim kecewa. Dia kecewa karena ketinggalan info pendaftaran dari wakil masyarakat (lho???). Dia juga bilang kecewa karena tidak ada unsur mahasiswanya di situ. Ya sudah, toh, penyesalan selalu datang belakangan. Siapa lagi coba yang bisa menuntut ini pada Majelis agar unsur mahasiswa ada?

Jadi ya sekali lagi, kita jangan mimpi, deh. Kita kembali kepada fitrahnya saja: tri darma perguruan tinggi (belajar mengajar, meneliti, dan mengabdi pada masyarakat). Bukannya kita semua pengin cepat jadi sarjana/diploma?

 

Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU 2012. Saat ini aktif sebagai pemimpin umum di Pers Mahasiswa SUARA USU.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).