BOPM Wacana

Menulis Jurnalisme Narasi Ibarat Membuat Film

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Sofiari Ananda

Ketua Yayasan Pantau Imam Shofwan memberikan materi New Journalism pada Workshop Jurnalisme Sastrawi dan New Media Lancang Kuning Berlayar Narasi di Pekanbaru, Jumat (1/2). | Sofiari Ananda
Ketua Yayasan Pantau Imam Shofwan memberikan materi New Journalism pada Workshop Jurnalisme Sastrawi dan New Media Lancang Kuning Berlayar Narasi di Pekanbaru, Jumat (1/2). | Sofiari Ananda

Pekanbaru, wacana.org/arsip – Penulisan narrative reporting atau jurnalisme narasi diibaratkan dengan membuat sebuah film. Terdapat adegan demi adegan. Pada penulisan narasi, tidak perlu dituliskan karakter tokoh atau suasana tempat secara jelas, melainkandigambarkan melalui deskripsi. Karakter atau suasana tersebut dapat disimpulkan melalui perilaku tokoh yang kita deskripsikan. Hal ini disampaikan ketua umum Pantau Imam Shofwan pada Workshop Jurnalisme Sastrawi dan New Media Lancang Kuning Berlayar Narasi di Pekanbaru, Jumat (1/2).

Imam mencontohkan penulisan sebuah kejadian yang sadis. Ketika dituliskan, kejadian tersebut tidak perlu digambarkan dengan kata sifat. Penulis hanya perlu memaparkannya melalui cerita, seperti seseorang yang dikeroyok beramai-ramai, cara korban dipukul dan alat yang digunakan. Contoh lain, menuliskan tentang seseorang yang romantis melalui cerita si tokoh yang memberikan puisi kepada pasangannya.“Karakter orang akan kelihatan dari perbuatan yang dia lakukan,” singkat Imam.

Selain ibarat membuat film, penulisan narasi juga diibaratkan sepertibertemu kawan lama. Di mana saat bertemu, kita memperbarui kabar terbaru tentangnya. Mulai dari di mana ia tinggal sekarang, sudah menikah atau belum, punya anak berapa, punya mobil berapa dan lain-lain. “Tidak kaku dan seperti bicara sama kawan,” ungkapnya.

Dalam peliputan, untuk bisa menuliskan narasi, wawancara dilakukan pada semua orang yang terlibat di kejadian yang akan diangkat. Lebih lagi, saat liputan seluruh panca indera digunakan. Misalnya bagaimana nada, bau, serta warna pakaian yang digunakan narasumber saat itu.

Imam menambahkan orang-orang sering salah mengartikan narasi sebagai sesuatu yang puitis atau mendayu-dayu. Tapi yang sebenarnya adalah bagaimana melaporkan berita dengan cara bercerita seperti novel. “Menulis narasi tidak perlu dengan kata sifat tapi dibutuhkan konstruksi perilaku tokoh agar tulisan jadi lebih hidup,” pungkas Imam.

Rahmi Jaerman, salah satu peserta asal Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat berpendapat jurnalisme narasi perlu dipelajari karena mampu menghadirkan tulisan yang mendekatkan pembaca dengan penulis. “Penulisan narasi dibuat seperti cerita yang membuat pembaca seperti hadir di konflik yang dituliskan,” kata Rahmi.

Rahmi berharap media-media di Indonesia bisa menerapkan penulisan narasi dalam pemberitaan untuk menarik minat masyarakat membaca berita.

Workshop Jurnalisme Sastrawi dan New Media Lancang Kuning BerlayarNarasi ini sendiri diadakan oleh Forum Pers Mahasiswa (Fopersma) Riau. Acara ini dirancang untuk wartawan mahasiswa maupun anak muda yang ingin menulis esai atau narasi. Dilakukan dengan pendekatan non fiksi. Berlangsung sejak 30 Januari lalu hingga 3 Februari mendatang.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).