BOPM Wacana

Kata Mahasiswa USU tentang Fenomena Taken List dalam Kepanitiaan

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Derista Putri

Taken list merupakan fenomena yang kerap terjadi dalam kepanitiaan di lingkungan kampus, yakni praktik menugaskan seluruh anggota panitia untuk mencari sejumlah orang dengan kuantitas yang telah ditentukan guna dimintai sumbangan sukarela untuk mendukung keberlangsungan acara. Praktik ini umumnya muncul ketika dana acara dinilai belum mencukupi. Dengan mekanisme tersebut, penggalangan dana menjadi tanggung jawab seluruh anggota, bukan hanya divisi tertentu.

Pihak yang dimintai sumbangan pun beragam, mulai dari kerabat, teman, hingga kenalan lainnya. Meski bertujuan membantu pendanaan acara, praktik ini menuai beragam tanggapan. Sebagian pihak menilai taken list efektif karena melibatkan seluruh panitia dan meringankan beban pendanaan. Sementara itu, sebagian lainnya menyoroti target yang harus dipenuhi sehingga sumbangan yang semestinya sukarela berpotensi terasa seperti kewajiban, baik bagi panitia maupun orang yang dimintai.

BOPM Wacana telah mewawancarai sejumlah mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) untuk mendapat pandangan mereka mengenai fenomena taken list dalam kepanitiaan di lingkungan kampus.

John Gabriel D’lin Hutapea – Ilmu Sejarah 2025

John Gabriel D’lin Hutapea | Sumber Pribadi

Menurut saya, adanya sistem taken list dalam kepanitiaan sangat membantu panitia dalam melaksanakan kegiatan yang diselenggarakan. Namun, di sisi lain, sistem ini secara tidak langsung juga dapat memberikan dampak negatif bagi kepanitiaan. Sistem taken list sering kali menjadi alasan bagi panitia untuk tidak berusaha mencari sumber dana lain dan justru bergantung pada kesediaan orang lain untuk memberikan bantuan. Kondisi tersebut dapat membuat sebagian panitia menjadi kurang terdorong untuk berusaha mendapatkan dana melalui kerja atau usaha mereka sendiri.

Cornelia Butar Butar – Teknologi Pangan 2023

Cornelia Butar Butar | Sumber Pribadi

Menurut saya pribadi, sistem taken list memiliki dampak positif dan negatif, tergantung bagaimana penerapannya. Dari sisi positif, sistem ini dapat membantu kepanitiaan memenuhi kebutuhan dana kegiatan, melatih kita untuk bertanggung jawab, serta belajar bagaimana cara mencari sumber dana. Selain itu, beban pengumpulan dana juga dapat dibagi kepada seluruh panitia sehingga tidak hanya bergantung pada satu divisi atau beberapa orang saja.

Namun, di sisi lain, sistem ini dapat menjadi dampak negatif apabila taken list menjadi beban bagi panitia, terutama jika target yang diberikan terlalu besar atau tidak disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anggota. Apalagi jika sistemnya terkesan seperti kewajiban pribadi, kita dapat merasa terbebani atau bahkan tertekan karena harus memenuhi target tersebut. Hal ini juga dapat menimbulkan kesalahpahaman apabila tidak ada komunikasi yang jelas mengenai tujuan, nominal dana, dan mekanisme taken list tersebut.

Jadi, taken list lebih tepat digunakan sebagai salah satu bentuk tanggung jawab bersama, bukan sebagai beban individu. Targetnya sebaiknya realistis, transparan, dan disesuaikan dengan kondisi panitia. Dengan begitu, kebutuhan dana kegiatan tetap dapat terpenuhi tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman antaranggota.

Luthfi Naufaldi – Ilmu Komputer 2024

Luthfi Naufaldi | Sumber Pribadi

Saya tidak setuju dengan sistem seperti itu karena dampaknya lebih mengarah pada hal negatif dan dapat membebani anggota kepanitiaan. Apalagi sistem tersebut diterapkan kepada seluruh anggota kepanitiaan, bukan hanya divisi tertentu seperti humas yang memang memiliki tugas yang berkaitan dengan hal tersebut. Dampaknya juga dapat memengaruhi kinerja anggota karena mereka bisa lebih fokus mengumpulkan dana daripada mengerjakan tugas utamanya. Akhirnya, dana memang terkumpul, tetapi pelaksanaan acaranya justru dapat menjadi berantakan.

Dari pengalaman saya dalam kepanitiaan, penggalangan dana lebih baik dilakukan melalui iuran dari masing-masing anggota, kemudian ditambah dengan usaha kreatif dari divisi dana usaha, seperti berjualan makanan atau produk lainnya. Cara tersebut lebih mudah dijalankan daripada harus mencari orang untuk dimintai uang.

Hafizah Ramadhani – Kesejahteraan Sosial 2024

Hafizah Ramadhani | Sumber Pribadi

Dengan adanya sistem taken list dalam kepanitiaan tidak bisa langsung dikategorikan sebagai sesuatu yang positif atau negatif karena penerapannya sangat kondisional. Dalam kondisi tertentu, taken list dapat membantu memenuhi kebutuhan pendanaan, tetapi sebaiknya menjadi opsi terakhir, bukan pilihan utama. Sebelum membebankan nominal tertentu kepada panitia, masih banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencari pendanaan, seperti fundraising, sponsorship, kerja sama dengan pihak eksternal, maupun usaha dana lainnya. Proses mencari pendanaan juga merupakan bagian dari pembelajaran dalam kepanitiaan.

Kita juga harus menyadari bahwa tidak semua mahasiswa memiliki kondisi ekonomi yang sama. Jangan sampai taken list menjadi halangan bagi seseorang untuk bergabung dalam kepanitiaan atau membuat mereka merasa tidak mampu berkontribusi karena keterbatasan finansial. Kemampuan seseorang untuk berkontribusi dalam kepanitiaan seharusnya tidak diukur dari seberapa mampu ia memenuhi nominal taken list-nya.

Dimas Pantoza – Teknik Elektro 2023

Dimas Pantoza | Sumber Pribadi

Menurut saya, taken list seperti ini lebih banyak memberikan dampak negatif apabila diwajibkan dan targetnya harus tercapai. Karena yang seharusnya bersifat sukarela menjadi tidak lagi sukarela, panitia dapat merasa tertekan, mencari donatur karena sungkan, dan hubungan dengan orang lain menjadi transaksional. Namun, sistem ini dapat menjadi positif apabila sifatnya opsional, targetnya realistis, dan penggunaan dananya transparan. Intinya, bukan pada sistemnya, tetapi bagaimana sistem tersebut dijalankan.

DM Miranda Sinaga – Ilmu Administrasi Publik 2023

DM Miranda Sinaga | Sumber Pribadi

Saya merasa taken list ini tergantung pada posisi dan cara penerapannya. Saya cenderung netral karena bagi anggota organisasi atau kepanitiaan, terutama yang bertugas di bidang dana usaha, taken list memang dapat membantu memenuhi kebutuhan dana program kerja. Mereka juga dituntut untuk mencari cara agar dana yang dibutuhkan dapat terkumpul.

Taken list biasanya memiliki target yang harus dipenuhi setiap orang. Ketika target tersebut tidak tercapai, terkadang anggota harus menutupi kekurangannya dengan uang pribadi. Hal yang awalnya bertujuan membantu mencari dana justru dapat menjadi pengeluaran, terlebih jika dalam satu periode terdapat beberapa kegiatan atau program kerja.

Jadi, menurut saya, taken list tidak sepenuhnya buruk karena memang memiliki manfaat bagi organisasi. Namun, beban yang diberikan kepada anggota perlu diperhatikan karena kondisi keuangan setiap orang berbeda. Selama targetnya masih wajar, penggunaannya jelas, dan tidak sampai membuat anggota merasa terbebani, taken list masih dapat dimaklumi.

Ihsan Handzholah – Sastra Arab 2024

Ihsan Handzholah | Sumber Pribadi

Sisi positifnya, taken list dapat menjadi bentuk gotong royong dan tanggung jawab bersama dalam membantu pendanaan kegiatan. Setiap panitia ikut berkontribusi mencari dukungan sehingga beban pembiayaan tidak hanya ditanggung oleh satu pihak.

Di sisi lain, sistem ini berpotensi menimbulkan tekanan apabila setiap panitia diwajibkan memenuhi target, misalnya mencari 10 orang. Hal tersebut dapat membuat sumbangan yang seharusnya bersifat sukarela menjadi seperti kewajiban. Taken list boleh dilakukan selama sifatnya benar-benar sukarela, tidak memaksa, target tidak menjadi beban pribadi panitia, serta terdapat transparansi mengenai penggunaan dana yang terkumpul.

Samawati – Peternakan 2024

Samawati | Sumber Pribadi

Menurut saya, taken list dapat membantu panitia dalam memenuhi kebutuhan dana kegiatan, tetapi saya pribadi kurang setuju jika sampai menjadi kewajiban atau terdapat unsur paksaan. Jika memang ingin membantu, seharusnya berdasarkan kemauan sendiri, bukan karena merasa tidak enak atau takut dianggap tidak mendukung. Jadi, taken list boleh dilakukan, tetapi harus benar-benar bersifat sukarela dan tidak membebani orang lain.

Muhammad Rizky – Ilmu Kesehatan Masyarakat 2024

Muhammad Rizky | Sumber Pribadi

Sebenarnya adanya pengumpulan donasi dalam suatu kepanitiaan tidak selalu negatif. Misalnya dalam acara 17 Agustus, pengumpulan donasi secara sukarela biasanya dilakukan untuk mendukung kegiatan. Jika dilakukan secara sukarela dan orang yang dimintai donasi juga bersedia, menurut saya hal tersebut merupakan sesuatu yang positif.

Namun, masalah muncul ketika setiap panitia diberikan target, misalnya harus mencari 10 orang yang bersedia memberikan donasi. Adanya target dapat membuat panitia merasa terbebani, terutama jika waktu yang diberikan terbatas. Selain itu, ketika panitia terlalu fokus mengejar target, mereka dapat tanpa sadar memaksa mahasiswa atau orang lain untuk memberikan donasi, padahal belum tentu orang tersebut mau atau mampu.

Jadi, yang perlu diperhatikan bukan hanya boleh atau tidaknya mengumpulkan donasi, tetapi bagaimana sistem taken list tersebut dijalankan. Jika memang ingin diterapkan, sebaiknya sejak awal panitia diberikan penjelasan secara terbuka mengenai tugas dan targetnya pada masa seleksi, sehingga mereka dapat mempersiapkan diri untuk bersedia dan bertanggung jawab atas tugas tersebut.

Dimer Ferdinan Simanjuntak – Fisika 2024

Dimer Ferdinan Simanjuntak | Sumber Pribadi

Taken list memiliki sisi positif dan negatif. Jika pelaksanaannya baik dan tidak ada unsur paksaan, sistem ini lebih banyak memberikan dampak positif karena dapat membantu panitia dalam memenuhi kebutuhan dana kegiatan. Selain itu, anggota panitia juga dapat belajar berkomunikasi dengan orang lain, menyampaikan tujuan kegiatan, dan bertanggung jawab atas tugas yang diberikan.

Sisi negatifnya dapat muncul apabila target yang diberikan terlalu tinggi atau anggota merasa diwajibkan mendapatkan nominal tertentu. Hal tersebut dapat membuat anggota merasa terbebani, terlebih jika sampai harus memaksa orang lain untuk memberikan sumbangan. Taken list tidak menjadi masalah selama dijalankan secara wajar, tidak memaksa, dan orang yang dimintai bantuan diberikan kebebasan untuk membantu sesuai dengan kemampuannya. Yang perlu diperhatikan lebih kepada cara pelaksanaannya, bukan sekadar sistem taken list-nya.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus