BOPM Wacana

Jemari yang Terbelah

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi. | Tio Hasianna Vincentia Hutahaean
Ilustrasi. | Tio Hasianna Vincentia Hutahaean

Oleh: Tio Hasianna Vincentia Hutahaean

Laura berada seorang diri di ruang latihan, duduk membisu di depan grand piano berwarna hitam legam, jari-jarinya gemetar. Barisan tuts putih dan hitam berdiri kokoh di depannya, membangun suasana yang jelas-jelas menekan. Ia menarik napas dalam-dalam. Fakta bahwa tiket konser tunggalnya esok hari telah habis terjual tidak mampu menambah kepercayaan dirinya, bahkan menambah beban yang ia tanggung.

Sejak kanak-kanak, sang ibu menanamkan ekspektasi-ekspektasi tinggi pada Laura, dengan keyakinan bahwa ia “dilahirkan untuk menjadi pianis besar”. Buku notasinya penuh catatan merah, kritis, bahkan kadang tajam. Dentuman metronom menjadi suara sehari-hari yang tidak pernah absen dalam rutinitas hariannya. Semua itu membentuk, atau mungkin sekaligus membebani perkembangan identitas diri Laura.

Dalam konser esok hari, Laura dijadwalkan membawakan Sonata Appassionata karya Beethoven, sebuah repertoar dengan tingkat kompleksitas teknis dan tuntutan ekspresi emosional yang luar biasa. Salah satu gurunya, Maestro Yohanes, pernah menegaskan, “Appassionata bukan sekadar keindahan nada, melainkan pertarungan batin. Kau harus membiarkan dirimu tebakar di dalamnya.” Pandangan ini kerap membayangi proses interpretasi Laura.

Pada suatu malam, sesi latihan, terjadi fenomena tak lazim, dari permukaan piano yang mengilap, Laura menangkap refleksi dirinya sendiri yang tampak berbeda, pandangan mata liar, senyum tipis, dan rambut berantakan. Refleksi itu berbisik, “Aku bisa memainkan ini lebih baik darimu.” Laura berusaha bermain kembali, namun ketegangan yang muncul justru mengacaukan musiknya. Sosok bayangan di kaca itu tertawa pelan, menambah intensitas kegelisahan.

Sejak saat itu, figur bayangan Laura secara konsisten bermunculan dalam aktivitasnya, kadang dari cermin studio, kadang dari jendela. Kadang ia memberi koreksi teknis, namun lebih sering justru meremehkan kemampuan Laura. Intensitas kehadiran suara tersebut mengikat seiring waktu mendekati konser.

Hari konser tiba. Atmosfer auditorium begitu tegang. Laura berdiri di balik panggung, mengenakan gaun hitam sederhana, tubuh dan pikirannya diliputi kecemasan yang sulit ia kendalikan. Saat ia melangkah ke panggung, irama nadinya melebihi hiruk pikuk penonton yang menantikan penampilannya. Ia memejamkan mata, mempersiapkan diri.

Bagian awal sonata berjalan lancar, presisi. Namun, suara internal kembali mengganggu konsentrasi, “Kau hanya menirukan. Kau bukan api itu sendiri.” Pada suatu momen, tekanan pedal menyebabkan suara piano tidak lagi jernih. Ketegangan pun semakin meningkat.

Dari sudut panggung, Laura melihat refleksi dirinya, kini dalam gaun merah, memainkan karya yang sama, dengan ekspresi yang lebih hidup dan dinamis. Di sisi lain, Laura merasakan amarah sekaligus keterpesonaan terhadap refleksi tersebut. Ia terus berusaha bermain, mencoba menembus batas yang selama ini membelenggu meskipun hasilnya justru membuat permainan semakin kasar. Pada akhirnya, Laura mengambil keputusan untuk membiarkan dirinya larut dalam “bayangan” yang selama ini ia hindari.

Pada titik transformasi tersebut, interpretasinya berubah sekaligus radikal. Energi musikal mengalir bebas, ekspresi emosional semakin kuat, Sonata Beethoven bergema dengan daya magnetis. Penonton terdiam, sebagian menahan napas.

Keterlibatan emosional Laura mencapai puncaknya, hingga ia hilang kendali. Tekanan pada tuts menyebabkan jarinya terluka, namun permainan terus berlangsung, seolah terdapat pribadi lain yang mengambil alih dirinya. Penampilan berakhir dengan hentakan akor yang kuat, menghasilkan resonansi mendalam.

Keheningan menyelimuti ruangan, sampai audiens memberikan standing ovation. Laura sempat tersenyum, terapi dalam batinnya ia menyadari bahwa tepuk tangan itu tidak sepenuhnya untuk dirinya, melainkan untuk sisi “bayangan” yang selama ini tersembunyi dan kini tampil di depan publik.

Selepas konser, Laura kembali ke ruang latihan dan duduk di depan cermin besar. Bayangan itu muncul lagi, kali ini dengan senyum kemenangan, dan berkata, “Kau akhirnya mengerti, kau dan aku adalah satu.” Laura menyentuh permukaan cermin, tenggelam dalam realitas yang penuh keraguan. Ia berbisik pelan, “Kalau begitu, entah siapa sebenarnya diriku.”

Denting piano masih bergema dalam kesunyian ruangan, menandai bahwa bayangan Laura menetap, tidak benar-benar memberikan ruang bagi Laura untuk beristirahat atau menemukan kembali identitas dirinya.

Komentar Facebook Anda

Tio Hasianna Vincentia Hutahaean

Penulis adalah Mahasiswa Psikologi FPsi USU Stambuk 2023. Saat ini Tio menjabat sebagai Redaktur Artistik BOPM Wacana.

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus