Oleh: Amelia Ramadhani

BOPM WACANA — Indonesia belum siap hadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Pasalnya Indonesia dinilai belum mampu bersaing dalam segi ekonomi. Hal ini dikatakan Wahyu Ario Pratomo, pembicara dari bidang ekonomi di dialog interaktif bertema Indonesia, Are You Ready For ASEAN Economic Comunity 2015 di Peradilan Semu, Fakultas Hukum (FH), Sabtu (18/10).
Tuntutan MEA adalah seluruh negara anggota ASEAN membuka diri untuk menerima investasi dari negara tetangga. Negara anggota ASEAN akan memberlakukan sistem perdagangan bebas, sehingga seluruh hasil produk suatu negara bisa dipasarkan negara lain.
Dijelaskan Wahyu, saat ini hasil produksi yang dihasilkan oleh Indonesia belum bisa bersaing dengan produk negara lain seperti Malaysia, Thailand, Brunai Darussalam dan Singapura. Hal ini akan menimbulkan masalah terhadap penduduk Indonesia yang umumnya masih berada dalam skala usaha kecil dan menengah (UKM). Akan sulit bagi UKM untuk menyaingi standar produksi negara lain.
Pembicara dari bidang hukum Mahmul Siregar bilang hal serupa. Ia menyatakan Indonesia belum siap untuk MEA. Indonesia sampai saat ini masih belum memiliki safe guard yang benar-benar bisa melindungi masyarakat UKM , walaupun belum menerapkan sistem perdangan bebas seperti saat ini.
Menurut Mahmul, sistem safe guard yang harus dibuat Indonesia adalah politik anti dumping, yaitu melarang menjual produk asing di Indonesia dengan harga di bawah produk UKM. “Jika tidak dibuat politik anti dumping, akan bertambah parah jika Indonesia bergabung dengan MEA,” jelasnya.
Masih menurut Wahyu, pemberlakuan perdagangan bebas akan menimbulkan permasalahan baru. Yakni tidak meratanya pembangunan dan pendapatan masyarakat Indonesia. “Belum ikut MEA belum merata, ditambah lagi nanti MEA,” pungkasnya.
Dialog interaktif ini digelar Perkumpulan Gemar Belajar (Gembel) FH.