BOPM Wacana

Earth Hour, Biarkan Bumi Beristirahat Meski Hanya Satu Jam

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Dewi Annisa Putri

Suhu global terus meningkat setiap tahun dan kini mencapai titik terparahnya. Setiap tahun pula, World Wide Fund for Nature (WWF) menginisiasi kegiatan Earth Hour agar bumi dapat beristirahat.

Akhir-akhir ini, informasi terbaru mengenai perubahan iklim semakin sering diberitakan oleh media nasional maupun internasional. Semuanya melaporkan pemanasan global membawa dampak yang semakin buruk bagi keadaan bumi.

Bulan lalu, National Geographic Indonesia dalam situs beritanya merangkum sejumlah dampak tersebut. Di antaranya peningkatan suhu bumi yang menyebabkan es meleleh di seluruh dunia—terutama di kutub-kutub bumi seperti gletser pegununungan, lapisan es di Antarktika Barat, Greenland, dan lautan Arktik.

Selain itu, populasi penguin Adelie di Antarktika menurun dari 32 ribu pasang menjadi 11 ribu dalam tiga puluh tahun terakhir. Pun, populasi hewan berbahaya yang hidup di daerah tropis terus meledak jumlahnya—misalnya kumbang kulit cemara yang telah mengunyah lebih dari empat juta hektar pohon cemara.

Sebenarnya, kabar mengenai perubahan iklim dan dampaknya ini tak pernah ada habisnya dan selalu saja membawa kabar yang sama. Pada intinya kondisi bumi semakin memburuk. Sehingga saat World Meteorological Organization (WMO) melaporkan bahwa 2016 memecahkan rekor sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah pada Januari lalu, kabar ini tak lagi terlalu mengejutkan. Bahkan, tiga hari lalu, WMO kembali merilis pernyataan bahwa rekor 2016 akan berlanjut tahun ini. Artinya, suhu bumi akan semakin panas lagi.

Kelompok ilmuwan yang dibentuk oleh PBB yaitu Intergovernmental Panel on Climate Change (IPPC) mempelajari efek gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Mereka menemukan faktor penyumbang emisi gas terbesar di atmosfer dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar fosil pada mobil, pabrik, dan produksi listrik.

Menanggapi hal ini, sejak tahun 2006, WWF memulai sebuah gerakan untuk memberikan waktu beristirat bagi bumi. Earth Hour namanya. Sebuah kampanye inisiasi publik, untuk menyatukan masyarakat dari seluruh dunia untuk merayakan komitmen gaya hidup hemat energi dengan cara mematikan lampu dan alat elektronik selama satu jam.

Hingga kini Earth Hour menjadi kegiatan tahunan di lebih dari tujuh puluh negara. Indonesia sendiri telah mulai bergabung sejak tahun 2008 dan setiap tahunnya jumlah daerah yang mengikuti aksi ini terus bertambah. Warga Indonesia di 28 kota kini mulai bergabung mematikan lampu di rumahnya dan ikut mengampanyekan kegiatan ini.

Meski tak akan mudah untuk mengurangi efek rumah kaca yang sudah terlanjur parah ini, namun bergabungnya Indonesia setidaknya akan dapat mencegah peningkatan pemanasan global yang lebih signifikan. Sebab konsumsi listrik terus meningkat setiap tahunnya di negeri ini. Data terakhir yang dihimpun Badan Pusat Statistik, pada 2015 produksi tenaga listrik mencapai 239.579,02 GWh. Angka ini hampir meningkat dua kali lipat dari tahun 2011 yaitu 184.173,2 GWh.

Dari jumlah tersebut, pengguna listrik di Indonesia mencapai angka 61.167.980. dengan rincian jumlah terbanyak dipegang oleh pelanggan rumah tangga yaitu 56.605.260. Sisanya sebanyak 63.314 pelanggan industri, 2.894.990 untuk usaha komersial dan sejumlah 1.604.416 untuk kebutuhan lainnya seperti penerangan umum.

Jika sepuluh persen penduduk Jakarta (tujuh ratus ribu rumah) mematikan dua lampu selama satu jam, maka sama dengan mengistirahatkan satu pembangkit listrik. Jumlah ini setara dengan listrik untuk menyalakan 900 desa, mengurangi emisi ±267 ton karbon dioksida (CO2), daya serap emisi dari 267 pohon berusia dua puluh tahun, serta ketersediaan O2 untuk ±534 orang.

Earth Hour dilaksanakan setiap tahun pada hari Sabtu minggu terakhir bulan Maret. Pemilihan waktu ini karena hari Sabtu merupakan akhir pekan dan tak banyak orang yang bekerja. Sebaliknya, orang-orang berkumpul bersama keluarga sehingga pada saat mematikan lampu di rumah, keluarga dapat berkumpul dan mengadakan kegiatan lainnya bersama. Pada tahun ini Earth Hour akan berlangsung pada 25 Maret 2017, pukul 20.30–21.30 waktu setempat.

Jadi, apakah Anda, di mana pun berada, akan ikut dalam aksi penyelamatan bumi ini?

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4