BOPM Wacana

Dengan Endra, Singkong pun Bisa Bicara

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Kartini Zalukhu

Endra saat sedang menyelesaikan lukisan Wayang Singkong Scene 5 di Lindi Fine Art Gallery, Kamis (14/4) | Kartini Zalukhu
Endra saat sedang menyelesaikan lukisan Wayang Singkong Scene 5 di Lindi Fine Art Gallery, Kamis (14/4) | Kartini Zalukhu

Apa yang Anda ketahui tentang singkong? Singkong merupakan makanan tradisional untuk semua kalangan. Ia dapat dijadikan teman minum kopi di pagi hari. Umbi yang berasal dari keluarga euphorbiceae ini dapat diolah menjadi tepung pengganti gandum. Ia makanan pokok penghasil karbohidrat yang tinggi. Mungkin sedikit yang tahu bahwa sepotong singkong memenuhi 66 persen kebutuhan vitamin C dalam sehari. Tapi bagi Endra, singkong adalah kekasih, singkong adalah hikayat dan singkong adalah sumber filosofi hidup.

Tepat 19 Mei 2011, Pameran Nusantara 2011 bertajuk Imaji Ornamen dibuka hingga 29 Mei di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Pameran ini akan menyajikan karya-karya seni perupa terbaik dari seluruh Indonesia. Untuk wilayah Sumatera Utara sendiri terpilih dua orang yang berhak memamerkan karyanya. Satu di antaranya adalah karya Endra yang berjudul Wayang Singkong Scene 5.

Sebelumnya, Minggu, 14 April 2011. Saya putuskan untuk mengunjungi Lindi Fine Art Gallery, sebuah galeri yang saya ketahui milik salah satu dosen di USU, Linda T Maas. Nama Lindi merupakan singkatan dari Linda dan Dimardi Abas, suaminya. Dari Endra, saya ketahui bahwa galeri tersebut hadiah untuk pernikahan mereka. Di sinilah markas Endra. Tempat ia menelurkan lukisan-lukisan singkong masa depan.

Di hari itu juga, saya berkesempatan melihat langsung bagaimana jemari kuas bersentuhan langsung dengan tubuh kanvas putih berukuran 150×150 cm. Endra sangat tenang, tampak dari cara ia menikmati goresan-goresan kuasnya.

Panjang lebar Endra menjelaskan apa yang sedang ia lukis. Endra ingin menyampaikan kisah Indonesia yang saat ini sedang dirundung banyak masalah. Meskipun kaya dan raya akan segala materi, hasil bumi, dan sumber daya alam lainnya, masyarakat di nusantara tetap saja berstatus miskin di sana sini. Lukisannya Endra pun seperti parade wayang Indonesia. Ia beri judul Wayang Singkong Scene 5, yang saat ini sudah berada di Galeri Nasional Indonesia. Pada saat itu, pengerjaan sudah 70 persen. “Tinggal melukis mayat singkongnya,” jelas Endra sambil menunjuk tempat mayat singkong yang ia maksud.

Endra memang perupa. Pemuda kelahiran 8 September 1980 ini meraup prestasi yang sangat panjang. Tidak sependek namanya yang hanya terdiri dari lima huruf, Endra. Mahasiswa jebolan Jurusan Pendidikan Seni Rupa Unimed ini sudah mendapatkan penghargaan sebagai mahasiswa lulusan terbaik Jurusan Senirupa di Unimed pada 2006. Di 2007 ia mendapatkan penghargaan sebagai 10 Nominees Indonesia of Visual Art Competition of “The Thousand Mysteries of Borobudur”.

Kala itu, karyanya yang berjudul Telobudur terpilih untuk dipamerkan bersama karya para maestro seni lukis Indonesia seperti Affandi, Doed Joesoef, Ismail, dan Dani Agus Yuniarto serta karya-karya dari Bruce W Carpenter dan WOJ Nieuwenkamp. Telobudur sendiri adalah lukisan Candi Borobudur dengan oranamen ubi sebagai candi-candinya. Oleh perupa lain, karya ini dianggap orisinil dan gagasannya kreatif.

Di 2008 Endra juga mengukir prestasi. Penghargaan The Best Carricature yang diberikan di Aryaduta International Hotel Medan jatuh di tangannya. Masih di tahun yang sama, karya Endra dipamerkan pada Pameran Besar Senirupa Indonesia 2008, Jakarta. Begitu juga di 2009, pelukis yang aktif dalamIndonesia’s Sketcher ini mendapat penghargaan sebagai Karya Undangan Terbaik mewakili Sumut di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Selebihnya, dengan berbagai pengalamannya dengan sejumlah seniman dan kolektor seni di Jakarta, Bandung, Bali, dan Yogyakarta ia selalu di pilih untuk menjadi kurator di sejumlah pameran.

Membuat Singkong Berbicara

Endra kecil, yang dulu masih duduk di kelas empat SD memang sudah menunjukkan geliat seni rupanya. Sasaran empuknya selalu tanah, pohon serta objek lain yang bisa meninggalkan rupa hasil coretan tanganya. Kini,  Endra, pelukis yang dilahirkan di Kisaran, tempat Sujojono, pelukis maestro seni lukis Indonesia dilahirkan, dikenal banyak orang. Ciri khasnya yang selalu mengeksplorkan singkong membuatnya menjadi perupa yang mudah dikenali.

Kenapa harus singkong? “Singkong dekat dengan kita, masyarakat Indonesia. Singkong menggambarkan kesederhanaan, dan saya suka itu,” terang Endra. Alasan lainnya, singkong unik, ia bisa jadi simbol ketahanan, harganya murah dan tempat masyarakat miskin Indonesia mengadu. Ya, ketika harga beras hanya bisa di jangkau kalangan tertentu.

Lukisan singkong Endra banyak dibicarakan kurator-kurator Indonesia. Kreasinya dianggap karya yang penuh dengan filosofi hidup masyarakat Indonesia.

Pernah sekali, lukisannya dianggap meresahkan masyarakat. Lukisannya yang berjudul Haji Ubi mendapat protes dari sejumlah kalangan. Karyanya dicurigai memberi citra buruk terhadap kaum muslim karena haji-hajinya bukan orang, tapi singkong. Dengan tegas Endra, yang notabene seorang muslim juga menjelaskan bahwa lukisan tersebut diilhami oleh adanya orang-orang di Indonesia yang bisa berangkat haji karena jualan singkong, dan protes pun mereda.

Kini lukisan Haji Ubi sudah berada di negeri Paman Sam, Washington DC, Amerika Serikat. Lukisan berukuran 150×150 cm itu dikoleksi kolektor asal Amerika. Bila dijabarkan, ada begitu banyak lukisan Endra yang fenomenal. Seperti Legislatif Ubi, Jema’at Jumat, Last Tsunami dan lain-lain. Semuanya berbicara, semuanya berornamen singkong.

Saya setuju, guratan-guratan lukisannya sangat lezat dinikmati mata. Aspek visualnya sangat nyata, peka. Mereka hidup, membuat yang lihat berimajinasi. Penuh makna. Awam pun tahu. Dan yang paling penting, Endra telah berhasil membuat singkong berbicara.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).