BOPM Wacana

Debat, Cagub-Wagub FISIP Kenakan Pakaian Khusus

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Audira Ainindya

Pasangan cagub-wagub FISIP duduk bersama sambil menjawab pertanyaan dari moderator, Senin (8/12). | Yulien Lovenny Ester G
Ketiga pasangan cagub-wagub FISIP duduk bersama sambil menjawab pertanyaan dari moderator, Senin (8/12). | Yulien Lovenny Ester G

BOPM WACANA Ketiga calon gubernur-wakil gubernur (cagub-wagub) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) mengenakan pakaian khusus pada debat kandidat Pemilihan Umum Raya (Pemira) FISIP, Senin (8/12) lalu. Masing-masing cagub-wagub mengatakan punya alasan khusus terhadap pakaiannya.

Dalam debat, cagub nomor urut satu Christian Perdana Pakpahan mengatakan ia dan wakilnya Tomy Tamba mengenakan pakaian hitam untuk memperingati dua tahun vakumnya Pemerintahan Mahasiswa (Pema) FISIP. “Ini tanda duka karena Pema FISIP yang sudah dua tahun tak ada,” ujar Christian.

Christian juga menambahkan pakaian hitam ini dikenakannya sejak rangkaian acara pemira pertama. Ia berharap dengan begitu mahasiswa FISIP dapat sadar bahwa FISIP sedang berduka karena tak ada wadah yang menaungi mereka untuk menyampaikan aspirasi ke dekanat.

Beda dengan Christian, cagub-wagub nomor urut tiga Jeffri Wanda dan Wiro Oktavius Ginting mengenakan jaket almamater saat debat. “Ini bentuk rasa kebanggaan kita terhadap almamater,” kata Jeffri.

Sementara itu, cagub-wagub nomor urut dua Mujahid Widian Saragih dan Fritz Octo Saragih yang memakai baju kemeja kotak-kotak juga ikut memaknai pakaian yang mereka kenakan. Mujahid bilang sebenarnya tak ada yang istimewa dari baju yang mereka kenakan. “Ini representatif mahasiswa, kan biasanya pakai kemeja,” ujar Mujahid. “Dengan begitu lebih terlihat mana yang membawa kepentingan mahasiswa,” tambahnya.

Debat kandidat ini dilaksanakan Komisi Pemilihan Umum FISIP sebagai rangkaian Pemira FISIP menjelang hari H, Kamis, 11 Desember mendatang.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).