BOPM Wacana

Cinta Untuk Ibu Pertiwi

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Nurhanifah

 

Foto: Sumber Istimewa
Foto: Sumber Istimewa

 

Judul : Rudy Habibie (Habibie dan Ainun 2)
Sutradara : Hanung Bramantyo
Penulis Skenario : Ginanti S. Noer
Pemeran : Reza Rahardian, Chelsea Islan, Ernest Prakasa, Boris Bokir
Tahun : 2016
Durasi : 142 Menit

 

Siapa sangka cinta justru jadi alasan sebuah ikatan terpisahkan, bukan karena orang ketiga tapi karena negara. Bagaimana bisa ibu pertiwi ia duakan?

 

Dimulai dengan sebuah peperangan, perjuangan untuk bertahan hidup meski suara tembakan terus bersahutan. Bocah itu mulai membangun mimpinya, ia ingin membuat pesawat. Bahkan di tengah bom yang meledak dan suara tembakan, ia berlari kembali ke rumah hanya karena sebuah mainan. Sebuah pesawat. Anak kecil memang tidak bisa dipisahkan dari mainannya bukan?

 

Maka dari mainan inilah semua kisah dimulai. Sebuah langkah seorang anak Indonesia menggegerkan dunia. Ia menjadi seorang yang membanggakan di Jerman. Ia menjadi Mahasiswa Universitas Rheinisch Westfalische Technische Hochschule di Aachen. Tapi, di balik pria hebat tentu ada wanita yang hebat. Saya rasa pepatah itu ada benarnya. Di balik Habibie muda ada seseorang yang selalu menjaga apinya, wanita itu paham betul cara menyulutkan dan menenangkan api Habibie.

Bukan, ini bukan Ainun yang sebelumnya selalu dipasang-pasangkan oleh kebanyakan orang. Wanita itu adalah Ilona, wanita kelahiran Polandia yang ia temui di Jerman. Perihal paspor yang berbeda, sehingga sempat dikucilkan oleh kawan-kawannya sendiri. Mencoba bertahan saat mimpinya dianggap omong kosong oleh orang lain. Pun, ketika orang memandang aneh saat ia beribadah di koridor kampus, wanita ini justru menghargainya. Wanita ini benar-benar membuatnya merasa dipercaya.

Tapi, kisah cinta tidak selalu berakhir bahagia. Bahwa cinta tak melulu tentang rasa. Cinta bisa jadi sebuah penghormatan, sebuah pengabdian. Bagaimana seorang anak menghormati ibu pertiwi, belajar melepaskan cintanya agar tak menduakan ibu pertiwi. Ia bukanlah orang sembarangan, Jerman berani membayar lebih untuknya. Tapi ia menolaknya, hanya untuk kembali kepada ibu pertiwi.

Terlebih ketika Jerman mewarkan status kewarganegaraan agar ia melanjutkan penelitian mengenai pesawat. Mengenai impiannya sejak kecil, impian yang mengantarkannya bersekolah ke tanah Jerman. Ia menolak, sungguh suatu pilihan yang mengkin akan dipertimbangkan secara matang oleh pemuda-pemuda lain jika berada diposisinya.

Tak hanya konflik tersebut, konflik percintaan dengan Ilona juga bisa jadi gejolak yang mengaduk-aduk perasaan penonton. Ketika Habibie berlari membawa koper ke stasiun untuk bertemu dengan Ilona yang akan kembali kenegaranya. Saya bahkan mengira bahwa Habibie akan mengiyakan permintaan Ilona, ia akan menuju Polandia sesuai dengan permintaan kekasihnya. Ternyata yang terjadi justru sebaliknya, pemuda ini tidak bisa menghianati ibu pertiwi.

Lepas dari kisah yang mengharu-biru, peran pemain bisa dibilang sangat memuaskan. Ayah Habibie yang tampil sejenak, justru memiliki peran yang sangat kuat. Dialah jiwa sesunguhnya dalam film ini. Bagaimana pesan ‘menjadi mata air’ membuat semangat bagi Habibie. Pun, Reza Rahardian tampak fasih berbahasa Jerman dan memiliki gerak-gerik seperti Habibie sesungguhnya, meski fisik aslinya berbeda. Kisah persahabatan yang sangat kental antar mahasiswa tanah air juga bisa jadi nilai lebih film ini.

Namun, ada bagian yang kurang rapi. Meski hanya adegan numpang lewat, penampilan Bung Karno nampak tak tepat. Ia terlihat tampil dengan baju putih kebesaran, tanpa atribut kemiliteran di bajunya. Padahal kita tahu betul Bung Karno terkenal sangat rapi dan selalu memakai atribut kemiliterannya. Meski begitu fokus pada bahu dan kepalan tangannya, nampak cukup memperlihatkan sisi Bung Karno.

Lagi, adegan yang terlalu dibuat-buat. Pertengkaran di sebuah ruangan yang dilakukan hanya karena berbeda pendapat antara dua kubu. Pun, penyelesaian dilakukan dengan mudah oleh seorang wanita Jawa yang tiba-tiba masuk. Terlalu menye sekali sepertinya.

Keberpihakan pada Soeharto pun terasa sekali. Tampak Habibie yang begitu kecewa karena acaranya disabotase oleh Laskar Pelajar—namanya mirip dengan Tentara Pelajar—atas nama Pemerintah Soekarno. Pun, adengan Habibie menudingkan tangan terhadap Soekarno secara langsung atas kekecewaannya nampak berlebihan.

Lepas dari kekurangan tersebut, film ini tetap layak ditonton. Terkhusus bagi muda-mudi yang memiliki mimpi untuk bersekolah di luar negeri. Habibie benar-benar menunjukkan bagaimana menjadi seorang mahasiswa yang tak kenal menyerah dan selalu berusaha dalam menjajaki studinya. Ia juga menunjukan bahwa cinta tanah air sangalah penting, bagaimana mempertahankan kebangsaan meski melalui banyak tekanan.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).