BOPM Wacana

Bouche d’Ombre

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Aulia Adam

 

Jadis, si je me souviens bien,

ma vie était un festin où s’ouvraient tous les cœurs,

où tous les vins coulaient.

Un soir, j’ai assis la Beauté sur mes genoux.

 

Ia berkata-kata, aku menunduk

“Bouche d’Ombre!” teriaknya padaku

Bukan! Bukan padaku, tapi pada kami berdua

Lantas ia diam, terpekur

Kelelahan, tapi tetap berbisik: “Bouche d’Ombre… Bouche d’Ombre…”

Aku masih diam. Berpikir.Tergenang dalam memori.

Lalu, meski fasih, lamat-lamat berujar:

“I’m not Arthur Rimbaud. I’m not ‘Une Saison en Enfer’

I’m now making myself as scummy as I can.

Why?

I want to be a poet, and I’m working at turning myself into a seer.”

Aku diam dan kau menggeleng-geleng

“You won’t understand any of this, and I’m almost incapable of explaining it to you.”

Kataku lantang.Berdiri.Tegas.

“The idea is to reach the unknown by the derangement of all the senses. It involves enormous suffering, but one must be strong and…

be a born poet. It’s really not my fault.”

 

Kami berbicara bukan tentang demokrasi, liberasi, dan ekonomi

Hanya sebatas tentang jati diri dan eksistensi…

Aku berkeras demikian, tapi katanya: “Dont be la Bouche d’Ombre..”

Ia mengingatkan, “Kita adalah kita. Kita yang ingin merdeka.”

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).