BOPM Wacana

Andini Nur Bahri: Tidak Berbuat Kebaikan Sehari, Ibarat Rugi Kehilangan Uang

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Sri Handayani Tampubolon

Niatnya hanya untuk membantu mereka yang kurang beruntung. Bukan hanya niat, ia juga melakukan tindakan sosial.

Andini Nur Bahri“Satu hari saja tidak berbuat kebaikan, saya akan merasa rugi sekali”. Demikian pengakuan Andini Nur Bahri, Mahasiswi Magister Program Studi Komunikasi Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara (Sumut). Menurutnya, kerugian itu layaknya kehilangan uang, jika sehari saja tidak melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi orang lain. Sekecil apa pun itu yang penting berbuat baik adalah wajib bagi semua orang.

Sejak lulus kuliah tahun 2010, Andini Nur Bahri adalah seorang pengajar bahasa Jepang di Singapore International Academy. Di sana Andini mengajar bahasa Jepang namun menggunakan bahasa Inggris, sebagai pengantar belajar. Ia mengajar banyak murid dengan latar belakang keluarga kaya. Bagaimana tidak, dengan mudahnya mereka belajar karena memiliki banyak uang. Wanita kelahiran Medan 13 juni 1987 ini merasa sangat miris mengingat banyak anak yang tidak mampu di sekitar rumahnya yang tidak mendapat kesempatan untuk belajar bahasa Inggris. Lantas bagaimana nasib mereka, “Jangankan untuk belajar tambahan, untuk sekolah saja mereka harus berusaha banting tulang membantu orang tua bekerja,” ungkap Andini.

Dengan niat ingin membantu, ia memiliki ide untuk membuka satu tempat di mana ia bisa mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak yang tidak mampu di sekitar rumahnya. Bermodal ilmu bahasa Inggris yang ia dapatkankan sejak SD sampai SMA dan sebagai Alumni Australian Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) pada 2009 lalu. Ia yakin dan percaya dengan ilmu yang telah ia dapatkan bisa membantu anak-anak yang kurang mampu tersebut.

Andini memulai niatnya itu saat ia tinggal di rumah neneknya. Ruangan 6×6 meter dibentuk menjadi ruangan kelas. Layaknya kelas pada umumnya, ruang tamu tersebut memiliki kursi berjumlah 40, ada white board, dan televisi. Seiring perkembangan waktu tempat itu dikenal dengan nama Big A Power English Courses. Namun kini telah pindah ke daerah Kampung Nelayan, Belawan. “Ternyata lebih banyak anak-anak yang membutuhkan di sana,” tambahnya.

Sejak kecil sudah terlihat bahwa Andini memiliki jiwa sosial. Saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), ia sering membantu adik-adiknya dan tetangga untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Selain itu, Andini juga adalah anak yang aktif dan berprestasi. Nuraslinda, ibu Andini mengatakan, anak sulungnya itu adalah sosok yang yang gigih dan sungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu.

Setahun berdiri Big A Power, jiwa sosial Andini terus berkembang. Niat membantu anak-anak yang tidak mampu semakin bergejolak. Andini kembali menemukan ide baru, yaitu mengajar di panti asuhan yang ada di Kota Medan.

Bergerak dari ide tersebut, ia dan keempat orang temannya alumni pertukaran pelajar ke Australia yang tergabung di AIYEP bertukar pikiran dengan ide yang dikemukakan Andini. Kemudian ide tersebut berkembang dan akhirnya mereka mengajar di panti asuhan.

Bersama teman-teman yang memiliki pemikiran serta motivasi yang sama, muncul ide untuk membentuk suatu komunitas anak muda yang peduli atas kehidupan anak-anak panti. Awal 2102 tercetuslah komunitas Pemuda Peduli Panti (Triple-P). Triple-P merupakan sebuah komunitas yang peduli terhadap anak-anak panti. Andini dan keempat temannya mulai mengajar pertama sekali di Panti Asuhan Al-Wasliyah.

Kegiatan Triple-P difokuskan pada proses mengajar. Andini dan teman-temannya mengajar dengan pengetahuan yang mereka miliki, seperti mengajar bahasa Inggris, bahas Jepang, matematika, public speaking, dan nantinya juga direncanakan akan ada kelas fotografi. Andini dan teman-temannya memang berniat membantu anak-anak panti asuhan sehingga mereka mengajar dengan sukarelawan, tanpa pungutan biaya sedikit pun.

Selain Panti Asuhan Al-Wasliyah, Triple-P juga mengajar di Rumah Madani, Panti Muhammadiyah, Panti Padang Bulan, dan Panti Pelita Harapan. Tujuan Triple-P untuk membantu agar anak-anak panti bisa menjadi orang pintar, menumbuhkan rasa empati, dan memperkaya kualitas diri.

Mengajar di lima panti asuhan bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan tenaga pengajar yang lebih banyak. Andini mengaku dibutuhkan pemuda yang bukan saja memiliki pengetahuan, namun juga memiliki motivasi yang sama yaitu membantu anak-anak panti asuhan. Dan akhirnya Andini berhasil mengumpulkan anggota pengajar di Triple-P yang sekarang jumlahnya adalah 25 orang. “Namun yang sangat aktif, hanya beberapa saja, ya namanya juga komunitas,” jelas Andini.

Bukan hanya tenaga pengajar, dana juga menjadi hal yang terpenting dalam kelanjutan segala kegiatan Triple-P. Saat ini tenaga pengajar sudah memiliki upah. Namun gaji yang mereka dapatkan tidak berasal dari panti melainkan dari donatur.

Sebenarnya, beberapa kali Andini pernah mengeluarkan uang pribadi untuk pengajar di Triple-P. Namun, menurutnya itu tidak menjadi masalah bagi Andini. Ia tidak pernah merasa rugi. Mengingat niatnya membantu anak-anak panti. Segala hal ia lakukan. Ia yakin niatnya itu selalu di mudahkan oleh Tuhan.

Andini mengatakan semakin tidak provit maka akan semakin menguntungkan bagi dirinya. Dengan begitu ia telah bersedekah sangat banyak. “Kalau tidak begitu, belum tentu saya bisa bersedekah sebanyak itu,” ucap Andini sambil tertawa kecil.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).