
Oleh: Derista Putri
Medan, wacana.org – Selasa Diskusi (SADIS) Vol. 4 menggelar diskusi mengenai polemik pajak pembalut perempuan. Diskusi ini membahas persoalan menstruasi sebagai kebutuhan biologis perempuan serta kaitannya dengan kebijakan perpajakan dan pemenuhan hak reproduksi. Kegiatan ini berlangsung di Lapangan Merdeka, Selasa (3/11/2026).
Salah satu pemantik diskusi, Akim, selaku penggiat isu gender. Menilai bahwa mitos menstruasi, seperti anggapan darah kotor, masih memengaruhi kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan menstruasi. Ia juga menyoroti kurangnya perhatian negara terhadap akses pembalut, sanitasi, dan pengelolaan limbah menstruasi.
“Negara memang belum bisa memahami komponen-komponen ini. Ketika membicarakan menstruasi, ada banyak hal yang perlu diperhatikan, termasuk akses terhadap pembalut, sanitasi yang layak, dan pembuangan limbahnya,” ungkapnya.
Pemantik lainnya, Nayla, selaku penggiat isu perempuan dan lingkungan, turut menyoroti persoalan pemenuhan kebutuhan menstruasi dalam penyaluran bantuan bencana. Menurutnya, bantuan yang disalurkan masih cenderung berfokus pada kebutuhan makanan, sementara kebutuhan khusus perempuan belum mendapatkan perhatian yang memadai.
“Pembalut adalah salah satu hal yang paling wajib kita berikan. Jangan berlomba-lomba hanya memberikan mi instan dan air, karena ini juga hal yang penting,” ujarnya.
Salah satu peserta diskusi, Damai Sihotang, menilai SADIS Vol. 4 berlangsung kritis dan terarah berkat pengalaman para pemantik. “Ini pertama kali saya mengikuti SADIS dan saya belajar banyak hal dari obrolan ini. Pengalaman pertama ini cukup untuk membawa saya datang ke diskusi SADIS berikutnya,” pungkasnya.



