
Oleh: Hasrina Arum Maulida
USU, wacana.org – Kementerian Pertanian bersama Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar kuliah umum bertema “Inovasi dan Kolaborasi Generasi Muda Swasembada Pangan” di Auditorium USU, Rabu (15/7/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia (RI) Andi Amran Sulaiman sebagai narasumber, didampingi Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya, Rektor USU Muryanto Amin, serta Wakil Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Wakapolda Sumut) Brigjen Pol. Sonny Irawan.
Dalam sambutannya, Rektor USU, Muryanto, menyampaikan bahwa Menteri Pertanian merupakan salah seorang figur inspiratif yang dihadirkan untuk memberikan motivasi serta berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para peserta. “Pak Menteri Pertanian ini adalah salah seorang figur yang terus menjadi inspirasi bagi kita semua. Nanti adik-adik sekalian, Bapak atau Ibu, serta seluruh hadirin dapat mendengarkan secara langsung,” ujarnya.
Ia juga berharap kuliah umum tersebut mampu memberikan manfaat serta mendorong peserta untuk terus mengembangkan potensi diri masing-masing. “Kami berharap agar kuliah umum dapat memberikan banyak dampak bagi kita semua dalam melanjutkan pengembangan kualitas diri kita masing-masing,” ungkap Muryanto.
Dalam pemaparan materinya, Mentan RI, Amran, menyampaikan bahwa Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan tercepat dan tertinggi sepanjang Indonesia merdeka.
“Alhamdulillah di tahun 2025, kita capai swasembada tercepat dan tertinggi sepanjang republik ini merdeka. Salah satu penyumbang terbaik adalah Sumatra Utara,” ujarnya.
Amran menambahkan, berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO), produksi sektor pertanian Indonesia mencapai 35,6 juta ton sehingga menempatkan Indonesia pada peringkat kedua dunia di sektor pertanian.
Di tengah berlangsungnya kegiatan, dua mahasiswa USU, menyampaikan aksi protes melalui orasi. Adapun beberapa tuntutan yang disampaikan, yakni; (1) Kritik terhadap proyek strategis nasional di Papua, (2) Penolakan terhadap pengambilalihan lahan adat dan alih fungsi, dan (3) Penolakan terhadap kapitalisme.
Salah satu orator, Andreas menyoroti masih adanya ketergantungan Indonesia terhadap impor sejumlah komoditas pangan, seperti kedelai, bawang putih, dan daging sapi. Ia juga menyinggung persoalan distribusi pangan, penyusutan lahan pertanian, serta regenerasi petani.
“Jika memang surplus terus terjadi, mengapa masyarakat masih harus membeli pangan dengan harga tinggi dan petani tetap dirugikan saat panen raya?,” ujarnya.
Kemudian, Hazel turut menyoroti kondisi Indonesia yang dinilainya semakin mengarah pada negara kapitalis dan berdampak pada kehidupan masyarakat. Ia juga mempertanyakan upaya pemerintah dalam mengatasi ketimpangan yang menurutnya masih dirasakan oleh masyarakat.
“Dengan Bapak memberikan uang kepada mereka, bukankah itu juga menunjukkan kapitalisme? Lalu bagaimana cara Bapak menghentikan kapitalisme tersebut?,” ujar Hazel.
Hanna Hutauruk, mahasiswa Ekonomi Pembangunan stambuk 2023, menilai kuliah umum tersebut memberikan wawasan baru bagi mahasiswa terkait isu pertanian, termasuk swasembada pangan dan pembukaan lahan yang belakangan menjadi perhatian publik.
“Dengan adanya kegiatan ini yang menghadirkan secara langsung Menteri Pertanian sebagai narasumber, saya rasa itu dapat menjawab kebingungan sebagai mahasiswa yang masih awam. Selain itu, adanya ruang komunikasi dua arah antara mahasiswa dan pemerintah juga menjadi hal yang sangat baik,” tuturnya.



