
Oleh: Jennifer Smith L. Tobing
“Andai rutinitas ku sebatas ikut perkuliahan saja”
Siang di kampus itu terasa seperti terjebak di antara dua musim. Udara di luar panas, tetapi ruang kelas terasa lembap oleh bayangan awan gelap yang menutupi matahari. Lampu neon di langit-langit berkedip pelan, seolah lelah menjaga terang sendirian. Di baris belakang, Arga dan Naya duduk berdampingan tanpa pernah merasa benar-benar bersebelahan. Mereka berada dalam ruang yang sama, tetapi datang dari dua kehidupan yang seolah tak pernah dirancang untuk bertemu.
Arga selalu tiba di kampus dengan langkah sedikit terburu-buru, seperti seseorang yang baru saja berkejaran dengan waktu. Sejak pagi ia sudah berpindah dari dapur sempit rumahnya, ke jalanan pasar, lalu ke kios gorengan milik ibunya. Setelah ayahnya meninggal, hidup seperti mengambil sesuatu dari Arga, lalu menuntut sesuatu yang lebih besar sebagai gantinya. Ia menjadi kepala keluarga tanpa pernah sempat menyiapkan diri.
Tenaga, waktu, bahkan harapan diukur dengan teliti agar cukup untuk hari itu. Lelah baginya bukanlah gangguan, melainkan bagian dari rutinitas, setara dengan bangun tidur atau berangkat kuliah.
Naya datang dari arah yang berbeda. Hidupnya berjalan tenang seperti jam yang selalu diservis tepat waktu. Setiap langkahnya ringan, tidak pernah dihalangi kekhawatiran tentang uang, kekurangan, atau dunia yang bisa runtuh sewaktu-waktu. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja, bukan karena ia kuat, tetapi karena keluarganya cukup kaya untuk memastikan itu.
Di kelas, ia sering menatap layar ponselnya, memeriksa barang-barang yang ia pesan semalam atau memilih tempat makan untuk sore nanti. Sesekali ia menatap ke depan, mencoba mendengar penjelasan dosen, namun pikirannya melayang ke hal lain yang lebih berwarna. Kuliah baginya hanyalah jeda, bukan tujuan.
Suatu hari, hujan turun tanpa aba-aba, kelas dibubarkan lebih cepat. Mahasiswa lain berlarian keluar, tetapi Arga tetap duduk, memperbaiki file tugas di laptopnya yang layarnya retak seperti kaca yang menyimpan seluruh penat hidupnya. Naya yang baru sadar hujan mengguyur halaman memutuskan tetap tinggal. Ia tidak ingin sepatu putihnya basah.
Keheningan menggantung, di sela suara hujan yang mengetuk jendela seperti meminta masuk.
“Kamu capek ya?” tanya Naya tanpa menoleh. Pertanyaan itu muncul begitu saja, mungkin karena ia terlalu lama duduk di dekat seseorang yang auranya selalu tampak seperti sedang memikul sesuatu.
Arga tertawa kecil. “Kalau capek berarti masih hidup.”
Jawaban itu berhasil membuat Naya menoleh. Ada sesuatu yang jujur, tidak ringan, tapi juga tidak pahit. Ia menelan kata-kata yang sempat ingin diucapkannya. Hujan terus mengetuk, dan untuk pertama kalinya jarak di antara mereka terasa menyusut.
Beberapa minggu kemudian, dosen memberikan tugas besar berupa proyek sosial. Ketika pembagian kelompok diumumkan, nama Naya dan Arga muncul dalam kelompok yang sama. Mereka saling menatap sekilas, seperti dua orang yang tidak menyangka akan berjalan dalam arah yang serupa.
Proyek itu membawa mereka ke berbagai tempat. Arga tampak seperti seseorang yang terbiasa menghadapi kenyataan yang keras tetapi tetap ramah. Ia berbicara dengan anak-anak dari keluarga sederhana dengan senyum yang tidak dibuat-buat. Ada kilau di matanya ketika melihat semangat yang sederhana. Naya mengikutinya dari belakang. Untuk pertama kalinya ia melihat dunia di luar dinding nyaman hidupnya.
Ia melihat rumah-rumah yang belum pernah ia kunjungi, mendengar cerita yang tidak pernah ia bayangkan, dan menyadari bahwa hidup tidak selalu selembut yang ia kenal.
“Kenapa kamu yakin banget sama apa yang kamu lakukan?” tanya Naya saat mereka berjalan pulang. Langit sore tampak sayu, seperti ikut menyimak.
Arga menatap jalan di depan. “Kalau tidak yakin, semuanya terasa lebih berat. Jadi aku pilih percaya saja.”
Jawaban itu membuat Naya terdiam lama. Ia mulai merasakan sesuatu yang tumbuh perlahan, semacam rasa malu yang tidak menyakitkan, tetapi cukup untuk mendorongnya berubah.
Saat hari presentasi tiba, kelas penuh oleh suara bising yang perlahan mereda ketika kelompok mereka maju. Naya berbicara dengan nada berbeda, lebih dalam dan tidak terburu-buru. Ia menceritakan hasil temuan kelompok mereka dengan tulus, seolah melihat dunia lewat kaca baru. Arga menyampaikan kisahnya dengan tenang, tanpa perlu membesar-besarkan apa pun. Keheningan kelas menjadi bukti bahwa kata-katanya masuk ke telinga orang, dan mungkin menempel lebih lama di ingatan.
Setelah kelas selesai, mereka berjalan keluar gedung. Gerimis turun seperti ingin mengulang pertemuan mereka yang dahulu.
“Aku mau coba kerja sambilan,” kata Naya tiba-tiba. Arga berhenti, menatapnya dengan sedikit heran. “Kamu yakin?”
“Aku tidak tahu harus mulai dari mana, yapi sekarang aku mengerti kenapa orang perlu merasa lelah,” jawab Naya. Arga tersenyum. “Nanti kalau capek, istirahat. Tapi jangan berhenti.”
Naya mengangguk. Mereka berjalan lagi, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh, seperti dua garis yang tidak berusaha bertemu tetapi tetap bergerak ke arah yang sama.
Kadang dunia tidak mempertemukan dua orang untuk menjadi teman dekat. Kadang pertemuan hanya dibuat agar seseorang bisa melihat hidupnya dari sudut baru, dan melanjutkan langkah dengan cara yang berbeda. Dan hari itu, keduanya pulang dengan langkah yang sama-sama baru, meski berasal dari arah yang berbeda.



