BOPM Wacana

Perjuangan Perempuan Merebut ‘Haq’ yang Dirampas

Dark Mode | Moda Gelap
Cover film Haq. | Sumber Istimewa
Cover Film Haq. | Sumber Istimewa

Oleh: Jennifer Smith L. Tobing

Judul Haq
Sutradara Suparn Verma
Pemeran Emraan Hashmi, Yami Gautam Dhar, Vartika Singh, Sheeba Chadha,

Danish Husain, Aseem Hattangady, Jaimini Pathak, Piloo Vidyarthi

Rilis 7 November 2025
Durasi 136 menit
Genre Drama
Tersedia di Netflix

“Mengapa semua hukuman dan hukum hanya berlaku untuk wanita, sementara kaum pria tidak akan terkena dampaknya?”

Sebuah pertanyaan tajam dan menggugah dilontarkan oleh Shazia Bano, seorang perempuan bersahaja dari Sankhani, Uttar Pradesh, di hadapan Qazi India. Pertanyaan ini bukan sekadar luapan emosi, melainkan sebuah gugatan besar terhadap ketidakadilan gender yang berlindung di balik narasi dogma.

Terinspirasi dari kasus nyata Shah Bano yang legendaris di India serta adaptasi dari buku Bano: Bharat Ki Beti karya Jigna Vora, HAQ membawa penonton kembali ke atmosfer akhir tahun 1970 hingga 1980-an. Film ini bagaikan cermin retak yang merekam perjuangan seorang perempuan dalam mempertaruhkan harga diri, hak nafkah anak, dan martabatnya yang runtuh akibat sistem patriarki.

Kisah bermula dari romansa indah antara Shazia Bano dan seorang pengacara terkemuka, Abbas Khan. Di awal pernikahan, Abbas memuliakan Shazia sepenuhnya, namun keindahan itu memudar saat Shazia mengandung anak ketiga mereka. Jarak perlahan tercipta ketika Abbas pergi ke luar kota untuk urusan bisnis properti dan berjanji kembali dalam tiga minggu.

Salah satu adegan dalam film Haq. | Sumber Istimewa
Salah satu adegan dalam film Haq. | Sumber Istimewa

Janji itu menguap setelah Abbas menghilang tanpa kabar selama tiga bulan. Saat pulang, ia membawa Saira sebagai istri kedua dengan dalih “amal” untuk menolong janda. Kepercayaan Shazia runtuh seketika saat Saira mengungkap bahwa Abbas sebenarnya sudah mencintainya sebelum menikahi Shazia.

Puncak penderitaan Shazia terjadi ketika ia menagih janji nafkah anak sebesar 400 rupee per bulan atau sekitar 0,5% dari penghasilan Abbas. Demi lari dari tanggung jawab, Abbas memilih menggunakan otoritasnya dengan menjatuhkan Talaq E-Biddat dan hanya membayar mas kawin.

Diusir dan ditolak oleh Dewan Ulama Islam setempat, Shazia menolak menyerah pasrah. Didukung ayahnya, Maulvi Basheer, serta pengacara yang gigih, Bela Jain, ia membawa kasus ini ke jalur hukum sekuler melalui Pasal 125 KUHAP tentang hak nafkah wanita bercerai.

Salah satu adegan dalam film Haq pada saat persidangan. | Sumber Istimewa
Salah satu adegan dalam film Haq pada saat persidangan. | Sumber Istimewa

Pertarungan hukum ini bergulir panjang dari kemenangan nafkah 22 rupee di pengadilan tingkat rendah, naik menjadi 180 rupee di pengadilan kedua, hingga akhirnya Abbas membawa kasus ini ke Mahkamah Agung demi membatalkan semua keputusan sebelumnya. Di ruang sidang tertinggi inilah, kasus Shazia bertransformasi menjadi simbol perlawanan konstitusional bagi jutaan perempuan di India.

Perpaduan Elegansi Naskah dan Bahasa Kamera

Kekuatan utama dari film HAQ terletak pada bagaimana naskah yang ditulis oleh Reshu Nath mampu mengalirkan narasi perjuangan hak perempuan secara tajam, seimbang, dan menggugah emosi penonton tanpa pernah terasa menceramahi. Ketegangan yang dibangun oleh sutradara Suparn S. Varma pada paruh pertama film begitu mengikat, membuat penonton sulit untuk mengalihkan pandangan dari layar saat melihat bagaimana ruang aman seorang perempuan direnggut secara sepihak.

Keberhasilan ini didukung penuh oleh jajaran departemen aktingnya, terutama Yami Gautam yang mampu menakar emosinya dengan kontrol yang matang, memancarkan perpaduan antara rasa sakit yang mendalam, keterkejutan atas pengkhianatan, namun di saat yang sama menyiratkan tekad serta perlawanan yang sunyi demi mempertahankan martabatnya.

Penampilan Yami tersebut diimbangi dengan sangat apik oleh Emraan Hashmi. Alih-alih menampilkan sosok antagonis yang klise, Emraan justru membawakan karakter suami dengan agresivitas yang terkontrol dan penuh ambiguitas moral.

Kehadiran tokoh pendukung seperti Bela Jain, pengacara perempuan yang galak, serta Maulvi Basheer yang penuh empati, semakin memperkokoh pesan film bahwa perjuangan seorang perempuan dalam menuntut hak konstitusionalnya membutuhkan ruang dukungan yang solid.

Meski demikian, HAQ bukan tanpa celah. Kelemahan film ini mulai terasa pada babak kedua, di mana tempo penceritaan sedikit melambat dan terasa agak berlarut-larut sebelum akhirnya kembali menegangkan di 20 menit terakhir menjelang sidang Mahkamah Agung. Selain itu, keputusan sutradara untuk menaruh momen krusial pengucapan talak tiga saat jeda film membuat dampak trauma emosionalnya kurang tereksekusi dengan maksimal bagi penonton.

Aspek visual dalam film HAQ secara cerdas memanfaatkan variasi shot size dan sudut kamera untuk mempertegas posisi sosial serta emosi karakter perempuan di dalam cerita. Perubahan emosi dan atmosfer cerita dialirkan secara halus melalui pemilihan warna dan pencahayaan.

Di awal film, saat Shazia merasa dicintai dan dimuliakan, visual didominasi oleh pencahayaan terang dengan warna-warna hangat yang memancarkan keceriaan. Kontras visual yang tajam terjadi ketika Abbas pulang membawa istri kedua; atmosfer seketika berubah menjadi suram dengan dominasi pencahayaan kontras tinggi yang pekat, menciptakan bayangan-bayangan tebal di dalam rumah.

Kamera pun lebih intens memanfaatkan teknik extreme close-up untuk menangkap setiap gurat kesedihan, air mata yang tertahan, hingga kilat perlawanan di mata Shazia. Pergerakan yang awalnya tenang dan statis bertransformasi menjadi dinamis lewat bidikan kamera yang bergerak lambat (slow pan dan dolly shot) saat melintasi ruang sidang Mahkamah Agung, secara efektif mempertegas ketegangan moral yang terjadi di antara kedua belah pihak.

Keindahan era lampau tidak hanya dibangun lewat koper metalik atau bungkus kado pernikahan yang autentik, melainkan lewat sebuah metafora visual yang brilian di area dapur. Saat memasuki dapur rumah barunya yang mewah, Shazia menemukan tiga kompor yang rusak.

Melalui penjelasan pelayan, terungkap bahwa Abbas Khan tidak pernah percaya pada konsep memperbaiki barang, ia selalu memilih untuk langsung membeli yang baru. Komposisi gambar yang menyorot kompor-kompor rusak ini menjadi simbol visual yang menyayat hati, sebuah firasat tajam yang kemudian disadari Shazia bahwa dirinya telah tertipu oleh seorang pria yang memperlakukan ikatan pernikahan layaknya barang komoditas: lebih suka mengganti dengan yang baru daripada memperbaiki sistem dan hubungan yang rusak.

Menolak Tunduk pada Aturan yang Bias

Di balik ketegangan drama ruang sidang yang disajikan, HAQ menyimpan pesan moral yang sangat mendalam mengenai urgensi pemulihan hak asasi, keadilan finansial, serta perlindungan martabat perempuan. Film ini dengan berani menyuarakan kritik sosial yang tajam mengenai bagaimana sebuah sistem hukum dan norma sosial sering kali bias gender. Melalui perjalanan panjang Shazia Bano, penonton disadarkan pada realitas pahit bahwa dalam struktur masyarakat tertentu, banyak aturan yang cenderung menguntungkan kaum laki-laki.

Keteguhan Shazia yang menolak untuk  tunduk pada keputusan sepihak membuktikan bahwa perempuan memiliki hak konstitusional yang setara untuk dilindungi oleh negaranya. Dialog dalam film ini secara tidak langsung mengingatkan kita bahwa tidak ada kelompok yang sepenuhnya baik atau buruk, yang ada hanyalah individu yang memilih tindakan mereka. Perjuangan yang memakan waktu hampir satu dekade ini menyampaikan pesan kuat bahwa hak dan kehormatan  perempuan adalah sesuatu yang mutlak untuk diperjuangkan hingga akhir.

Pada akhirnya, HAQ berdiri tegak sebagai sebuah capaian yang luar biasa di dalam dunia perfilman, sebuah karya berani yang menolak tunduk pada arus utama tontonan komersial. Hal utama yang membuat HAQ sangat menarik dan wajib ditonton adalah relevansinya yang luar biasa tinggi terhadap realitas kehidupan perempuan saat ini, meskipun akar kasusnya sudah berusia hampir empat dekade.

Film ini memilih untuk menyoroti esensi universal dari sebuah pengkhianatan, perjuangan hak finansial, dan harapan bagi kaum perempuan yang kerap kali suaranya dibungkam oleh dominasi patriarki. Menonton HAQ akan membuka mata kita bahwa perjuangan kesetaraan hak adalah sebuah estafet panjang yang terus berlanjut hingga kini. Dengan penampilan akting terbaik dari jajaran pemerannya, film ini berhasil membuktikan bahwa kebenaran, ketika disuarakan dengan kejujuran dan kesederhanaan, mampu bertransformasi menjadi bentuk protes yang paling kuat di dunia.

Komentar Facebook Anda

Jennifer Smith L. Tobing

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Administrasi Publik FISIP USU Stambuk 2023. Saat ini Jennifer menjabat sebagai Bendahara Umum BOPM Wacana.

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus