
Oleh: Putri Salwa Assyifa
USU, wacana.org – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar forum konsolidasi pada Jumat, 12 Juni 2026 di depan Gedung Kesekretariatan BEM USU. Forum tersebut membahas berbagai isu kebangsaan yang sedang berkembang. Hasil pembahasan dan aspirasi yang dihimpun akan menjadi dasar penyusunan tuntutan serta arah gerakan mahasiswa dalam aksi mendatang.
Menteri Koordinator Sosial Politik BEM USU, Thoriq Al Fatih, selaku moderator menjelaskan pembahasan mengenai rasionalisasi harga BBM tetap relevan meskipun kenaikan harga yang saat ini menyasar BBM non-subsidi.
“Target utama BBM subsidi adalah masyarakat yang membutuhkan. Namun ketika harga BBM non-subsidi naik, banyak pengguna yang sebelumnya menggunakan BBM non-subsidi beralih ke BBM subsidi. Akibatnya, stok mengalami kelangkaan karena lebih cepat habis dan akses masyarakat yang menjadi sasaran utama subsidi dapat terganggu,” ujar Thoriq.
Dalam forum tersebut, BEM USU melalui Kementerian Kajian dan Strategi (Kastrad) mengawali diskusi dengan pemaparan kajian sementara mengenai tiga isu utama, yakni regulasi keamanan Undang-Undang Kepolisian (UU Polri), harga Bahan Bakar Minyak (BBM), dan kondisi ekonomi nasional. Forum juga membahas kondisi ekonomi nasional yang dinilai turut memengaruhi kesejahteraan masyarakat.
Selain tiga isu utama tersebut, forum juga menghasilkan sejumlah isu tambahan yang dinilai perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut, di antaranya Program Makan Bergizi Gratis (MBG), energi, pendidikan, dan lingkungan.
Perwakilan BEM Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) USU bidang Kastrad, Adithya Pranata, mengusulkan agar isu MBG menjadi salah satu prioritas yang harus dievaluasi. “Kami menilai MBG perlu menjadi salah satu isu yang diprioritaskan. Selain efektivitas program, kami juga menuntut adanya transparansi terkait latar belakang dan kompetensi jajaran pengelola program MBG sesuai dengan bidang dan tanggung jawab yang diemban,” tegasnya.
Salah satu perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang turut hadir, berpendapat terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang menciptakan inflasi. “Lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar menyebabkan inflasi yang berdampak pada kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Indonesia juga masih banyak mengandalkan barang impor sehingga semakin bergantung pada pasar luar negeri,” ujarnya.



