
Oleh: Iyusarah Pakpahan
| Judul | Ghost in the Cell |
| Sutradara | Joko Anwar |
| Pemeran | Abimana Aryasatya, Aming Sugandhi, Tora Sudiro, Bront Palarae, Yoga Pratama, Rio Dewanto, Lukman Sardi,
Morgan Oey, Endy Arfian, Arswendy Bening Swara, Marissa Anita, Kiki Narendra, dan Mike Lucock. |
| Rilis | 16 April 2026 |
| Durasi | (106 menit) |
| Genre | Horor, Komedi satire, Thriller |
| Tersedia di | Cinema XXI, CGV Cinemas, Cinépolis, Flix Cinema. |
“Manfaat kita di negara ini pasti ada, kalo tidak, enggak mungkin hidup sesia-sia itu.”
Film Ghost in the Cell karya Joko Anwar menghadirkan kisah horor berlatar penjara dengan balutan kritik sosial yang tajam. Atmosfernya suram, penuh tekanan, serta diisi dengan teror sadis yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga menyentil realitas. Narasi utamanya mengikuti para narapidana yang berusaha bertahan hidup dari ancaman makhluk tak kasatmata, tak hanya itu scene yang dihadirkan juga menyindir kebobrokan sistem lembaga pemasyarakatan di Indonesia.
Awal Mula Teror di Balik Jeruji
Cerita bermula dari Dimas, seorang jurnalis investigasi yang tengah meliput kasus deforestasi dan kematian misterius pekerja tambang nikel ilegal milik anak Wakil Presiden Indonesia di Kalimantan. Di tengah upayanya menulis artikel tentang praktik tersebut, ia justru dituduh membunuh atasannya sendiri secara keji. Tanpa proses yang benar-benar tuntas, Dimas akhirnya dijebloskan ke penjara.
Setibanya di Lapas Labuan Angsana, ia harus melalui serangkaian pemeriksaan fisik dari sipir sebelum akhirnya dikenalkan dengan kehidupan di dalam penjara oleh Irfan, salah satu narapidana. Dimas diperlihatkan berbagai “kelompok” yang menguasai penjara, mulai dari kelompok artis, mafia, preman, bandar narkoba, hingga kelompok yang bertugas menjaga napi korupsi kelas atas.
Dalam situasi yang penuh tekanan, Dimas memilih bergabung dengan kelompok Irfan yang Six, terdiri dari Anggoro, Pendi, dan Wildan, yang merupakan para tahanan dengan latar belakang dan kasus yang berbeda-beda. Tetapi, sejak awal, ia sudah menjadi perhatian Bos Tokek, sosok paling ditakuti di penjara.

Kebetulan, Dimas juga ditempatkan dalam sel yang sama dengannya. Irfan pun memperingatkan Dimas untuk berhati-hati. Beruntungnya kehadiran Anggoro turut menjaga Dimas dalam situasi bahaya.
Tak lama sejak kehadirannya, kejadian-kejadian janggal mulai muncul. Satu per satu napi ditemukan tewas secara misterius dan mengenaskan, seolah dibunuh oleh sesuatu yang tak kasat mata. Situasi ini membuat Dimas yang masih baru langsung dicurigai, terlebih karena ia datang tepat sebelum teror dimulai.
Kematian pertama yang mengguncang adalah Bos Tokek. Sosok yang selama ini paling ditakuti justru tewas dengan cara yang brutal. Hal ini memicu kemarahan anak buahnya dan kepanikan di pihak pengelola penjara. Kepala sipir Jefry dan kepala pengelola penjara, Pak Sapto, khawatir kejadian ini akan terbongkar ke polisi dan media. Ia takut kejadian ini mengancam jabatan mereka, terutama karena adanya blok eksklusif untuk napi korupsi seperti Prakasa Kitabuming, seorang mantan aktivis pembela rakyat yang di masa tuanya justru menjadi koruptor.
Jefry kemudian mengumpulkan seluruh napi dan memaksa pelaku untuk mengaku. Karena tidak ada yang merasa bersalah, tak satu pun mengaku. Amarah Jefry memuncak hingga ia mengancam tidak akan memberi mereka makan dan air sampai ada yang mengaku. Di sisi lain, Pak Sapto memilih menutup rapat kasus ini agar tidak sampai ke tahanan “kelas atas”.
Namun, teror tidak juga berhenti. Justru semakin banyak korban berjatuhan. Bahkan, Jefry sendiri akhirnya menjadi korban. Situasi penjara berubah semakin mencekam, penuh ketakutan, dan tidak terkendali.
Kecurigaan, Misteri, dan Upaya Bertahan
Di tengah kekacauan itu, Six yang memiliki kepekaan terhadap hal-hal gaib mulai menyadari pola di balik pembunuhan tersebut. Ia melihat bahwa makhluk tak kasatmata itu tidak menyerang secara acak, melainkan menargetkan napi dengan “aura merah”, yakni mereka yang dipenuhi emosi dan kemarahan.
Temuan ini mengubah cara para napi bertahan hidup. Mereka mulai menahan emosi, beribadah, belajar, seni, bahkan berusaha menghindari konflik. Situasi yang biasanya penuh kekerasan seketika berubah menjadi canggung, para napi berusaha bersikap tenang demi tidak menjadi target berikutnya. Di sinilah film ini menghadirkan nuansa komedi satire yang unik di tengah teror brutal.
Namun, ada satu hal yang janggal, Six tidak bisa melihat aura Dimas. Hal ini memicu kecurigaan kembali dari kelompoknya sendiri. Dimas pun didesak untuk menjelaskan apa yang sebenarnya ia ketahui. Ia mengaku tidak memahami sepenuhnya, tetapi mengingat bahwa saat melakukan investigasi di Kalimantan, para pekerja di sana juga mengalami kematian misterius dengan pola serupa. Dari sini, muncul dugaan bahwa makhluk tersebut berasal dari Kalimantan dan “mengikuti” Dimas ke penjara untuk mengincar salah satu napi yang ada di sana.
Dibayangi kematian brutal yang dapat menimpa siapa saja, membuat para napi dari berbagai kelompok yang sebelumnya saling bermusuhan mulai bekerja sama termasuk kepala sipir baru yang jujur. Mereka mencoba memahami pola serangan, mengendalikan emosi, dan mencari siapa sebenarnya target utama dari teror tersebut. Ketegangan tetap terasa, tetapi dibalut nuansa komedi satire dengan dinamika baru. Melalui keadaan ini juga menciptakan aliansi tak terduga, dan usaha kolektif untuk bertahan hidup.
Di balik kisah supranaturalnya, Ghost in the Cell menyimpan kritik tajam terhadap sistem sosial, khususnya kondisi lembaga pemasyarakatan. Film ini menyoroti ketimpangan perlakuan antara napi biasa dan napi “kelas atas”, praktik penyalahgunaan kekuasaan, hingga upaya menutup-nutupi kebenaran demi kepentingan jabatan.
Konsep “aura merah” juga menjadi metafora yang kuat. Amarah, dendam, dan tekanan hidup digambarkan bukan hanya sebagai emosi, tetapi sebagai sesuatu yang dapat menghancurkan, baik secara psikologis maupun fisik. Dalam film ini, teror yang muncul terasa dekat dengan realitas sehingga menghadirkan suasana horor yang tidak sekadar menakutkan, tetapi juga penuh makna.
Lagi dan lagi, Joko Anwar berhasil membuat film ini unggul dalam membangun suasana mencekam yang konsisten sejak awal. Visualnya kuat, dengan penggambaran adegan kematian yang artistik melalui tata properti, pencahayaan gelap, serta efek darah dan luka yang terlihat nyata sehingga menambah kesan brutal dan menegangkan.
Perpaduan antara kisah horor dan komedi satire juga membuat suasana menggairahkan, menciptakan pengalaman menonton yang tidak monoton. Pemilihan karakter yang kuat dan beragam, serta dinamika antar tokoh, berhasil menghidupkan cerita. Tak heran, film ini memecahkan rekor sebagai film Indonesia yang terjual ke 86 negara. Pencapaian ini melampaui rekor sebelumnya dan menandai jangkauan internasional terbesar dalam sejarah perfilman nasional yang didistribusikan oleh Plaion Pictures.
Di sisi lain, alur cerita dalam beberapa bagian terasa bergerak terlalu cepat, sehingga ada detail yang kurang tergali secara mendalam. Beberapa penonton mungkin merasa logika cerita tidak sepenuhnya dijelaskan. Meski demikian, kekuatan karakter, dinamika antarnapi, serta cara film ini mengemas kritik sosial menjadikannya tetap menarik untuk diikuti hingga akhir.
Ghost in the Cell bukan hanya kisah teror di dalam penjara, tetapi juga tentang bagaimana emosi, ketidakadilan, dan sistem yang rusak dapat melahirkan kengerian yang lebih nyata daripada sekadar makhluk tak kasatmata.



