
Oleh: Dinar Fazira Fitri
Medan, wacana.org – Diskusi publik yang diselenggarakan oleh AJI Medan mengundang pembicara dari latar belakang jurnalis dan akademisi untuk membahas tantangan jurnalisme di era digital. Pemimpin Redaksi Harian Mistar, Rika Suartiningsih, menyatakan bahwa media sebagai perusahaan tidak ada yang benar-benar bebas dan merdeka. Hal ini disampaikannya dalam diskusi kebebasan pers yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan di Arteri Coffe & Coworking Space, Selasa (5/5/2026).
Rika menjelaskan saat ini audiens media massa mulai beralih ke media sosial, sehingga sulit bersaing dalam pemasangan iklan. “Sekarang, perusahaan-perusahaan buka media sosial sendiri, buka tim media sendiri, bahkan pemerintahan saja sudah punya tim media sendiri,” ucapnya.
Ia berujar bahwa akibat menurunnya iklan banyak media yang tidak lagi menggaji wartawan dengan upah yang sesuai. “Iklan masih akan tetap berjalan, asalkan fungsi media sebagai kontrol sosial juga berlaku pada tempatnya.” Kebebasan pers, lanjut Rika, bukan hanya soal fisik, tetapi juga psikis. “Media tetap independen melaksanakan fungsinya, tetapi tetap menyesuaikan kritis pada porsi dan tingkatannya,” ujarnya.
Selain dari sisi jurnalis, diskusi ini juga menghadirkan narasumber akademisi yaitu Iskandar Zulkarnain, seorang Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU). Ia menyinggung soal masa depan pers di era disinformasi digital yang diatur oleh algoritma. “Kita pada hari ini hidup dalam era informasi bukan hanya melimpah tetapi sering kali juga menyesatkan,” ujarnya.
Iskandar menyebut bahwa hal tersebut disebabkan oleh berita kini tidak hanya diproduksi oleh media profesional, tetapi juga oleh masyarakat lewat media sosial. “Jurnalis harus bersaing dalam kecepatan publikasi, tetapi di sisi lain tetap harus menjaga akurasi. Makanya verifikasi menjadi prinsip utama dalam profesi jurnalisme,” sebutnya.
Ia juga menyinggung Artificial Intelligence (AI) juga bisa menjadi tantangan dalam jurnalistik. Menurutnya, kode etik jurnalistik menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa informasi yang disampaikan kepada publik adalah yang dipertanggungjawabkan. “Ada satu perumpamaan di jurnalistik, semua berita itu adalah informasi, tapi tidak semua informasi disebut berita. Jadi agar informasi bisa menjadi sebuah berita haruslah memenuhi fakta,” tegas Iskandar.



