
Oleh: Alya Rahmayani Hutagalung
“Rating seberapa picky eater aku: tidak mau makan ikan karena…, tidak mau makan nasi dingin karena…”
Picky eater atau perilaku memilih-milih makanan ini sempat menjadi tren di platform TikTok. Fenomena ini menarik perhatian karena banyak orang menganggap picky eating hanya terjadi pada anak-anak, padahal kebiasaan tersebut dapat berlanjut hingga remaja dan dewasa.
Menurut Ridharini et al (2022), picky eater merupakan perilaku pada anak yang ditandai dengan kebiasaan memilih-milih makanan, di mana mereka hanya menerima jenis makanan dalam jumlah yang terbatas, enggan mencoba makanan baru, cenderung menghindari makanan yang dianggap asing atau tidak familier, serta tetap terpaku pada beberapa jenis makanan yang mereka sukai.
Penyebab Picky Eater
- Kondisi Medis Tertentu dan Keterlambatan Perkembangan Anak — Setiap anak memiliki tahapan perkembangan yang berbeda, dan kebiasaan ini bukan semata-mata karena sikap “manja” atau sekadar “pilih-pilih,” melainkan pada beberapa kasus, anak dengan gangguan motorik oral mengalami kesulitan untuk menggerakkan otot mulut, lidah, bibir, dan rahang dalam melakukan fungsi seperti mengunyah, mengisap, menggigit, menelan, atau mengenali rasa dan tekstur makanan.
- Kurangnya Eksplorasi Tekstur dan Rasa Makanan — Perilaku picky eater dapat disebabkan oleh minimnya variasi rasa dan tekstur yang dikenalkan pada masa awal makan. Contohnya pada masa MPASI yang didominasi oleh jenis menu yang sama, sehingga kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai rasa dan tekstur menjadi berkurang.
- Pengalaman Buruk saat Makan — Picky eater juga dapat dipicu oleh pengalaman tidak menyenangkan saat makan, seperti dipaksa menghabiskan makanan, diberi tekanan, atau disajikan makanan yang tidak disukai. Pengalaman tersebut bisa menimbulkan kecemasan ketika makan dan mendorong anak memilih makanan yang terasa lebih familier.
- Pola Asuh yang Kurang Tepat — Jadwal makan yang tidak konsisten dapat membuat anak sulit mengenali rasa lapar dan kenyang, sehingga menurunkan minat makan. Selain itu, kebiasaan makan sambil menonton layar (screen time) atau melakukan aktivitas lain dapat mengurangi fokus saat makan.
Adapun jenis picky eater berdasarkan perilakunya, antara lain:
- Regresor: Anak dalam kategori ini awalnya memiliki nafsu makan baik dan dapat mengonsumsi berbagai jenis makanan. Namun, pada usia tertentu mereka tiba-tiba menolak beberapa makanan atau hanya ingin makanan tertentu.
- Pembenci Rasa: Anak yang hanya menyukai makanan dengan rasa yang ringan atau bahkan hambar, contohnya susu murni, unsalted butter, sereal gandum, atau biskuit tawar.
- Penyuka Minum: Anak dalam kategori ini sulit diberi makanan padat dan lebih memilih mendapatkan asupan dari minuman, contohnya susu, jus, atau minuman lainnya.
- Perasa Tekstur: Anak dengan tipe ini menolak makanan karena sensasi teksturnya di mulut. Hal ini membuat mereka hanya mau memakan makanan dengan tekstur yang dianggap familier.
- Pemuntah: Tipe pemuntah adalah anak yang menunjukkan respons seperti menahan mual dengan menutup mulut atau bahkan muntah ketika makan. Pemicu dapat berasal dari rasa, tekstur, ataupun aroma makanan.
- Pemilih Bentuk: Anak yang termasuk pemilih bentuk, hanya mau makan jika makanan disajikan dengan bentuk atau tampilan tertentu. Contohnya, anak hanya mau makan sup jika seluruh bahan makanannya dipisah di piring terpisah, bukan disatukan dalam satu mangkuk.
- Pemilih Warna: Anak yang hanya ingin makan makanan dengan warna tertentu. Misalnya hanya mau makanan berwarna putih, kuning, atau merah, sedangkan warna lain langsung ditolak tanpa dicoba.
Pengaruh Picky Eater terhadap Status Gizi
Perilaku picky eater dapat memengaruhi status gizi, karena kebiasaan memilih-milih makanan sering membuat asupan nutrisi menjadi tidak seimbang. Seseorang yang hanya mengonsumsi jenis makanan tertentu berisiko mengalami kekurangan vitamin, mineral, maupun nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang.
Namun, menurut suatu penelitian, perilaku picky eater tidak selamanya menjadi faktor penentu bahwa seseorang memiliki status gizi buruk. Penelitian yang melibatkan 68 responden menunjukkan bahwa 54 di antaranya mengalamai picky eater. Meskipun demikian, sebagian besar anak tersebut tetap memiliki status gizi normal.
Akan tetapi, dalam jangka panjang, kondisi ini tak hanya memengaruhi status gizi seseorang, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup, termasuk produktivitas dan kesehatan mental. Oleh karena itu, upaya perbaikan pola makan dan konsultasi dengan ahli gizi penting dilakukan untuk mencegah masalah gizi yang lebih serius serta menghindari kemungkinan terdiagnosis Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID), yakni gangguan makan yang ditandai dengan asupan nutrisi dan energi yang tidak mencukupi secara terus-menerus.



