
Oleh: Iyusarah Pakpahan
| Judul | Avatar: Fire and Ash |
| Sutradara | James Cameron |
| Pemeran | Sam Worthington, Zoe Saldaña, Sigourney Weaver, Stephen Lang, Oona Chaplin, Kate Windslet, David Thewlis |
| Durasi | 197 menit |
| Rilis | 17 Desember 2025 |
| Genre | Action, Adventure, Fantasy and Science Fiction (Sci-Fi) |
| Tersedia di | Cinema XXI, CGV, Cinépolis, dan FLIX Cinema, |
“Kalau kita tidak berjuang, maka manusia langit itu akan memusnahkan hutan, laut, udara dan dunia kita, seperti mereka merusak bumi.”
Avatar: Fire and Ash merupakan sekuel ketiga film Avatar yang melanjutkan kisah keluarga Jake Sully dalam suasana yang jauh lebih gelap. Sejak awal penayangannya, film ini telah dinantikan banyak penonton, dan dalam tiga minggu pertama berhasil mencatatkan pendapatan lebih dari satu miliar dolar Amerika Serikat.
Pasalnya, film ini tidak hanya mengandalkan keindahan visual, tetapi juga mengajak penonton menyelami konflik emosional dalam keluarga Sully serta peperangan besar yang membawa Pandora ke titik paling rapuh. Duka, kemarahan, dan dendam yang selama ini dipendam perlahan berubah menjadi konflik brutal yang mempertaruhkan masa depan keluarga dan keseimbangan Pandora.
Duka Keluarga Sully dan Munculnya Ancaman Baru
Film ini dibuka dengan suasana berkabung dan duka mendalam yang dialami keluarga Sully setelah kematian Neteyam. Jake Sully digambarkan semakin tertutup dan berhati-hati dalam mengambil keputusan. Neytiri tampil lebih pendiam, menyimpan amarah yang mendalam, terutama terhadap Spider. Sementara itu, Lo’ak terus dihantui rasa bersalah atas kematian kakaknya.
Untuk mencegah konflik semakin meluas, Jake memutuskan memindahkan Spider serta membawa keluarganya bergabung dengan klan Tlalim, kelompok wind traders yang hidup nomaden dan menggantungkan hidup pada perdagangan udara menggunakan kendaraan terbang. Keputusan ini diambil sebagai upaya terakhir untuk menjauhkan keluarga dari peperangan. Jake pun berjanji akan melindungi klan tersebut dari ancaman perampok dan konflik bersenjata.
Namun, di tengah perjalanan, ancaman tersebut benar-benar datang. Klan Mangkwan atau Ash People, yang merupakan kelompok Na’vi brutal pemuja api sebagai simbol kekuatan, melancarkan serangan terhadap mereka. Kelompok ini dipimpin oleh Varang, seorang tsahik ahli api yang meyakini bahwa Pandora hanya dapat diselamatkan melalui kekuatan dan penghancuran terhadap siapa pun yang dianggap lemah.
Di tengah kekacauan tersebut, musuh lama Jake Sully kembali muncul. Kolonel Miles Quaritch, yang kini hidup dalam tubuh Avatar, kembali memburu Jake. Kemunculan Quaritch pada adegan ini menegaskan bahwa, Jake adalah pengkhianat umat manusia, mantan prajurit yang memilih berpihak pada Na’vi dan menggagalkan ambisi manusia di Pandora. Dendam pribadi dan keyakinan ideologis membuat Quaritch tidak pernah berhenti memburu Jake.
Varang dan Quaritch kemudian menjalin kerja sama. Varang melihat Quaritch sebagai alat untuk menghancurkan pengaruh Jake Sully, sementara Quaritch memanfaatkan kekuatan Ash People untuk membalas dendam pribadinya sekaligus membantu manusia langit untuk menguasai Pandora. Aliansi ini mempertemukan teknologi manusia dengan kemarahan klan api, sehingga menciptakan ancaman besar bagi keseimbangan Pandora.
Pasca kerja sama Quaritch dan Varang, pasukan gabungan manusia langit dan Ash People kembali mendatangi Pandora dengan teknologi canggih dan kekuatan besar. Demi keselamatan keluarga dan klannya, Jake memutuskan untuk menyerahkan diri. Dalam situasi tersebut, Spider pun akhirnya ikut tertangkap. Menyaksikan itu, Neytiri tidak tinggal diam. Ia menyusup ke fasilitas Resource Development Administration (RDA) untuk menyelamatkan Jake.
Pada saat yang sama, Spider berhasil melarikan diri dari selnya serta membantu Jake melepaskan dirinya. Upaya ini turut dibantu oleh Dr. Ian Garvin, seorang ahli biologi kelautan yang menentang tindakan RDA, terutama pembunuhan terhadap Tulkun. Lalu dengan menggunakan buldoser, Garvin menghancurkan wadah kaca tempat Jake ditahan, sehingga memungkinkan mereka melarikan diri.
Dalam perjalanan kembali ke Pandora, Jake dan Neytiri terlibat perdebatan emosional. Jake menyadari bahwa setelah Kiri menggunakan kekuatan Eywa untuk memungkinkan Spider bernapas di atmosfer Pandora tanpa masker, kemampuan tersebut berpotensi menjadi ancaman baru. Ia meyakini bahwa kekuatan itu dapat dieksploitasi oleh manusia langit, sehingga ia memutuskan untuk membunuh Spider demi melindungi suku mereka.
Pada akhirnya Jake tidak sanggup melakukannya karena telah menganggap Spider sebagai anak sendiri. Neytiri pun akhirnya menghentikan rencana tersebut, setelah menyadari bahwa Spider telah menyelamatkan Jake dari RDA.
Peperangan Api dan Abu di Pandora

Jake kemudian mengambil keputusan terakhir, yakni berperang. Ia kembali menunggangi Toruk, menegaskan posisinya sebagai Toruk Makto. Jake berupaya menyatukan seluruh klan Pandora, termasuk menjalin kerja sama dengan klan laut dan para Tulkun.
Awalnya, Tulkun menolak terlibat. Sebagai makhluk yang menjunjung perdamaian, mereka menghindari kekerasan. Namun, setelah melihat banyak Tulkun dibunuh dan disiksa oleh manusia, serta melalui peran Lo’ak dan Tulkun terasing bernama Payakan, para pemimpin Tulkun akhirnya menyadari bahwa melawan adalah satu-satunya cara untuk bertahan.
Puncak konflik pada film ini terjadi saat peperangan besar pecah. Pasukan Ash People dan manusia langit berhadapan langsung dengan gabungan klan Na’vi, Toruk Makto, dan Tulkun.
Di tengah pertarungan yang memanas, Kiri kembali memanggil Eywa. Alam pun bangkit membantu Na’vi dan mengubah jalannya peperangan. Melalui bantuan Eywa, pasukan Ash People dan manusia langit berhasil dipukul mundur.
Di sisi lain, Jake dan Quaritch terlibat dalam pertarungan personal yang sengit. Namun, kehadiran Spider memaksa keduanya bekerja sama demi menyelamatkannya. Pertarungan belum usai, Varang melarikan diri setelah dikalahkan, sementara Quaritch menghilang setelah terjatuh ke dalam api dan air.
Pada akhirnya, peperangan ini tidak menghadirkan kemenangan yang mutlak. Api memang berhasil dipadamkan, tetapi Pandora menyisakan abu dan luka yang mendalam. Beberapa karakter kehilangan orang terdekat, dan keseimbangan alam kembali terguncang. Akhir cerita ini membuat banyak penonton bertanya-tanya dan penasaran terhadap sekuel Avatar selanjutnya.
Melalui karakter Jake, Neytiri, dan anak-anaknya, film ini berhasil menyampaikan pesan kuat tentang keluarga, kehilangan, keserakahan manusia dan siklus kekerasan. Avatar: Fire and Ash mengingatkan bahwa perang yang lahir dari dendam tidak pernah benar-benar usai, dan bahwa alam akan selalu menyimpan ingatan atas luka yang ditinggalkan oleh manusia maupun penghuninya sendiri.



