
Oleh: Derista Putri
“Menyampaikan pesan kepada anak-anak tidak selalu harus lewat ceramah panjang. Kadang, sebuah cerita sederhana melalui boneka justru lebih mudah mereka ingat.”
Bagi Nur Fadilla, dongeng adalah cara yang paling dekat untuk berbicara dengan anak-anak. Mahasiswa Sastra Arab Universitas Sumatera Utara (USU) stambuk 2023 ini kerap tampil membawa boneka tangan bernama Lani. Boneka kecil itu menjadi teman bercerita sekaligus penghubung antara dirinya dengan anak-anak yang mendengarkan.
Dila tidak langsung menjadi pendongeng seperti sekarang, perjalanan itu bermula saat ia masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs). Ketika itu gurunya meminta ia mengikuti lomba mendongeng di sekolah.
Dengan persiapan seadanya, ia mencoba belajar secara otodidak melalui video di Youtube. Properti yang digunakan pun tidak rumit. “Saya dulu pakai gambar yang ditempel di karton, lalu diberi pegangan seperti wayang,” tuturnya. Pengalaman pertama itu justru berakhir tak terduga, ia keluar sebagai juara.
Kemenangan tersebut adalah titik awal yang membuatnya mulai menaruh perhatian pada dunia mendongeng. Ia mencoba memainkan berbagai karakter, mengganti suara untuk setiap tokoh, hingga perlahan menemukan kebahagiannya ketika melihat orang lain menikmati cerita yang ia bawakan.
Ketertarikannya semakin berkembang setelah ia melihat seorang pendongeng tampil menggunakan boneka tangan. Dari situ Dila mulai mencoba metode yang sama dalam penampilannya.

Boneka yang sering ia gunakan bernama Lani. Karakter Lani digambarkan sebagai anak kecil berusia sekitar lima tahun yang cerewet, penuh rasa ingin tahu, dan gemar bernyanyi. Melalui percakapan antara dirinya dan boneka itulah cerita biasanya berjalan dan menarik.
Menurut Dila, pendekatan seperti ini membuat anak-anak lebih mudah fokus pada isi cerita. Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga dapat ikut merespons, tertawa, atau menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Lani dalam dongengnya.
Awalnya, Dila lebih sering menyampaikan pesan melalui ceramah atau pidato. Namun dirinya merasa cara tersebut tidak selalu efektif khususnya pada anak-anak. Dongeng, baginya, menjadi media yang lebih ramah dan mudah diterima untuk semua kalangan.
Seiring berjalan waktu, kegiatan mendongeng membawanya ke berbagai tempat, mulai dari sekolah hingga kegiatan sosial. Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika ia terlibat sebagai relawan untuk anak-anak penyintas banjir November lalu di Langkat dan Aceh.
Dalam kegiatan tersebut, Dila tidak hanya membawakan dongeng sebagai hiburan. Tetapi juga bisa digunakan sebagai pendekatan untuk menghibur anak-anak sekaligus menyampaikan pesan yang relevan dengan yang mereka alami sekarang.
Dari pengalaman-pengalaman itulah yang membuat Dila semakin yakin bahwa dari mendongeng, bisa menjadi sarana yang lebih luas dari sekadar pertunjukan. Ia kemudian mulai merintis sebuah komunitas kecil bernama Ekspedisi Dongeng.
Komunitas tersebut bertujuan membawa kegiatan mendongeng dan gerakan literasi ke tempat-tempat yang jarang tersentuh, seperti wilayah-wilayah pinggir kota. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak tidak hanya diajak mendengarkan cerita, tetapi juga akan dikenalkan dengan buku dan kegiatan membaca.
Meski masih dalam tahap pengembangan, Ekspedisi Dongeng menjadi langkah kecil yang ingin terus ia jalankan. Baginya, dongeng bukan hanya tentang bercerita, tetapi juga tentang membangun ruang belajar yang lebih dekat dengan anak-anak. Melalui cerita yang sederhana, Dila berharap semakin banyak anak yang mengenal buku, imajinasi, dan nilai-nilai baik dalam kehidupan sehari-hari.



