BOPM Wacana

Membunuh Tuhan

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi: Putra P Purba

 

Oleh: Putra P. Purba

“Ini tentang hidup sebagai pertanyaan dan bagaimana kita menjalaninya adalah jawaban.”

Malam gemerlap bertakhta megah. Cahaya temaram lampu diskotik mempercantik kenyal dada biduan yang menggoda. Harga diri bagai kue tar cokelat yang dijajakan di jalanan. Mewah dan murah.

Hidup memang punya arahnya masing-masing. Di malam ini, aku menerima pengakuan seorang pelanggan yang masuk jajaran orang penting negeri ini. Burhan, ia politisi sebuah partai besar. Istrinya seorang karyawan bank senior dan mereka sudah memiliki empat orang anak.

“Istriku jarang memberi perhatian padaku. Ia seorang karyawan yang sibuk dan giat. Barangkali cintanya terhadap uang lebih menarik baginya sehingga kadang aku merasa kesepian seperti ditinggalkan.”

Aku prihatin padanya sehingga kurelakan ia menjelajahi tubuhku semampunya. Tapi aku juga senyum bangga karena ia seorang yang memiliki banyak uang. Barangkali dicopet dari kantong-kantong rakyat. Orgasme adalah puncak cerita genit ini dengan tubuh tiada daya. Aku hanya dibayar untuk membuat para pelangganku merasa senang. Kesenangan yang tak seujung kuku pun bertahan.

***

“Dasar pelacur!”

“Gatel! Nggak tau diri”

“Nggak laku ya jadi cewek? Sampai suami orang pun diembat juga”

Masih banyak makian lain yang mampir di telingaku ketika melewati gang kecil yang menghubungkan apartemenku dengan jalan raya tempat ku biasa mangkal.

Banyak orang yang bilang gampang jadi pelacur. Cuma ngangkang maka uang akan berdatangan. Bodohnya mereka. Kata siapa cuma ngangkang maka uang akan datang? Buktinya aku harus mematikan hati dan perasaanku dulu, baru bisa ngangkang. Aku harus menyibukkan otakku baru bisa ngangkang. Dan tidak jarang aku harus dipukuli dulu oleh orang-orang yang memberiku uang baru aku bisa ngangkang. Aku harus jadi cantik seperti imajinasi para pelangganku kalau mau tetap dipakai. Apalagi sekarang persaingan semakin ketat, kalau wajahku biasa-biasa saja, bisa-bisa aku tidak dapat pelanggan kelas kakap. Tidak hanya wajah, badanku juga harus seindah gitar Spanyol, dengan lekuk bahenol bagian dada dan pantat.

Membosankan, mungkin aku ditakdirkan Tuhan menjadi pelacur selamanya karena itu aku akan terus menjadi pendosa. Aku sering terpikir hal itu hingga aku patah semangat. Di lain sisi cap diriku sebagai pelacur sangat sulit dihapuskan. Bahkan jikalau aku meninggalkan dunia pelacuran ini, sebutan “bekas pelacur” tetap saja memalukan. Di dunia ini sesungguhnya aku telah dihukum secara sosial dan psikologis. Jadi sekali lagi, hukuman itu bagiku tampak sebagai keniscayaan.

Pikiranku kalut dan akhirnya aku nekat bunuh diri. Ya, bunuh diri. Bukankah sama saja mati nanti dengan mati sekarang, toh hukuman sudah menanti. Lagi pula tak ada jaminan aku masih hidup esok hari, dan tak ada jaminan aku akan mati dalam keadaan bertobat. Memang benar aku pernah dengar sifat-Nya yang Maha Pengampun.

Sekarang aku harus memikirkan cara bunuh diri yang paling efisien dan tidak menyakitkan. Aku memilih lompat dari apartemenku yang tinggi. Berharap diriku meninggal sesegera mungkin.

Esoknya, rencana itu aku lakukan. Aku menuju atap gedung yang berada di lantai 20. Setelah sampai, sejenak aku bimbang, bibirku terkatup. Lalu kupejamkan mata, seiring hembusan angin aku mengangkat kaki maju ke depan. Aku mendengar suara kicau burung. Riuh pikuk kendaraan berlalu lalang. Merekalah suara terakhir yang kudengar dari dunia ini.

Bukk…

Aku terjatuh. Di saat yang menentukan itu sebuah tangan menarik badanku dengan keras dari belakang. Aku gagal mati.

Aku meringis kesakitan, lalu menoleh ke belakang. Ada seorang lelaki setengah baya, sedikit beruban, memanggul karung goni yang telah berisi hasil mulungnya. Lelaki itu tersenyum. “Kenapa?” tanyanya pelan, sambil meletakkan karung goninya, lalu menolongku berdiri. Heran sejenak, aku tak tahu harus kecewa, sedih atau marah, lalu aku duduk bersila di lantai. Kemudian, isak tangisku terdengar di kesunyian bersama hembusan angin. Lelaki itu membiarkanku menangis. Setelah beberapa lama isakku semakin pelan, lalu berhenti.

“Kenapa?” kembali ia bertanya. Aku terdiam. Angin menderu sedikit lebih kencang.

“Mengapa bapak menyelamatkanku?” protesku.

“Aku hanya mengikuti kata hatiku. Bunuh diri itu perbuatan buruk, maka aku mencegahmu. Tampaknya kau menanggung beban persoalan yang sangat berat hingga kau berbuat nekat. Ceritalah, barangkali bisa meringankannya.”

“Tak usahlah. Aku sudah berminggu-minggu mencoba menguranginya, tapi malah menambah bebanku. Lagi pula aku tak ingin membebani bapak dengan persoalanku.”

Lelaki itu tersenyum. “Ceritakan saja, aku tak kan merasa terbebani.” Setelah ragu sejenak, aku menurut. Lelaki itu duduk di depanku.

Hening sesaat. Aku hanya menundukkan kepala. Angin bertambah kencang, rambutku berkibar, dan beberapa helai menutupi wajahku. Burung di langit itu masih berputar, seperti tak hendak melewatkan peristiwa ini. Lalu aku mulai menceritakan semuanya, ya, semuanya, dari awal hingga akhir perasaanku.

Setelah selesai, mataku kembali berlinang. “Sungguh keras. Tuhanmu itu. Jadi Ia tak memberimu pilihan selain melacur.” Katanya meyakinkanku.

Aku hanya menganggukkan kepala. Sementara itu matahari mulai mengirimkan hawa panasnya. Tetapi angin masih kencang. “Seandainya ada orang yang membebaskanmu dari dunia pelacuran, apakah kau masih yakin Tuhan akan menghukummu?”

Sejenak aku berpikir. “Ya,” jawabku.

“Mengapa?” tanyanya kembali.

“Sebab aku terlampau kotor, dan hanya api neraka saja yang bisa menghapusnya. Bukankah Dia itu Hakim Maha Adil? Tentunya kesalahan tak dihapus begitu saja. Bukankah menurut kitab suci yang pernah aku baca perbuatan buruk sebesar zarah sekalipun akan mendapat balasannya?”

“Jadi menurutmu Tuhan itu bagaimana?” tanyanya lagi

“Dia Maha Adil. Dia pasti menepati janji. Aku ingat dulu ulama di desaku mengatakan begitu. Dia nanti akan menghukumku.” Aku menangis lagi.

Lelaki itu menggelengkan kepalanya. Ia sadar bahwa aku sudah banyak mendapat nasihat, jadi dia merasa tak perlu memberiku nasihat lagi.

“Kau tertekan sekali. Hidupmu demikian pedih karena Tuhanmu menghendaki begitu, kan? Dan Ia tentu akan menghukummu,” katanya.

Aku mengangguk, “Ya, Dia tak memberiku banyak pilihan.”

“Jadi kalau begitu Tuhanmu itulah sumber masalahnya, sebab Dia-lah yang menjadikanmu tertekan begini.”

Mendengar ini, aku terkejut. Benarkah Tuhanku yang menjadi sumber masalah? Benarkah takdir-Nyalah yang menciptakan semua persoalan yang menimpaku kini? Aku bimbang, tak tahu apa yang mesti dikatakan. Seketika aku jadi takut sendiri. Apakah takdir Tuhan yang mempermainkanku? Pikiranku melayang dan bingung. Tapi aku merasa jengkel, sebab lelaki ini justru menambah persoalan bagiku. Bukankah lebih baik aku mati tadi?

“Jika menurutmu Tuhan itu sumber masalah, kau abaikan saja Dia, atau… ” Sejenak dia berhenti. Lalu dengan pelan berkata sambil tersenyum misterius. “Bunuhlah Dia. Kujamin masalahmu hilang.”

Membunuh Tuhan? “Apa maksud bapak?” tanyaku jengkel.

“Ya, tinggalkan dia. Hiduplah tanpa Tuhan.” tuturnya.

Aku menjadi ragu, jangan-jangan lelaki ini tak waras. Tapi, setelah berpikir agak lama, rasanya anjurannya tampak masuk akal. Jika aku tak memikirkan Tuhanku lagi, tak memikirkan surga neraka, tentunya tak perlu takut lagi, walau hati kecilku masih cemas tentang keadaanku setelah mati.

Tetapi jika aku tak takut lagi kepada Tuhanku yang keras itu, bukankah aku dapat hidup dengan lebih nyaman dan tenang? Ketidakpastian nasibku di akhirat akan lenyap, sebab aku telah membunuh Tuhan yang menguasai dunia-akhirat. Memikirkan hal ini, seketika hatiku menjadi tenang. Aku akan bunuh atau tinggalkan saja Tuhan itu. Aku akan menapak hidup dengan riang dan bebas dari beban dosa dan kecemasan akan murka-Nya.

Setelah aku berterima kasih kepada lelaki itu, segera aku pulang ke lokalisasi. Aku kini merasa siap menentukan nasib sendiri. Aku tak mau tunduk pada takdir yang menetapkan aku jadi pelacur. Karena aku sudah membunuh Tuhan, bukankah takdir itu sudah tak berlaku lagi? Pokoknya sejak aku membunuh Tuhan, pilihan tak lagi terbatas.

Takdir-Nya sudah dihancurkan! Ah benar sekali nasihat lelaki itu. Membunuh Tuhan yang jadi sumber masalahku. Kenapa tidak dari dulu saja. Sekarang aku tenang dan bahagia dengan keadaanku yang sekarang. Pagi ini aku merasa dadaku sangat lapang.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4