BOPM Wacana

Medan Book Party Kupas Simbol Perjuangan Perempuan dalam Buku “Entrok” Karya Okky Madasari

Dark Mode | Moda Gelap
Sesi foto peserta bersama pemateri dan moderator pada kegiatan "Ngobrolin Buku" oleh Medan Book Party di Third Space Library YPSA, Minggu (25/10/2026). | Sumber Istimewa
Sesi foto peserta bersama pemateri dan moderator pada kegiatan “Ngobrolin Buku” oleh Medan Book Party di Third Space Library YPSA, Minggu (25/10/2026). | Sumber Istimewa

Oleh: Dinar Fazira Fitri

Medan, wacana.org – Medan Book Party (MBP), sebuah komunitas baca buku di Medan, berbincang mengenai buku Entrok oleh Okky Madasari yang berisi kritik sosial tentang kehidupan perempuan dalam kepungan norma. Kegiatan ini berlangsung di Third Space Library YPSA, Minggu (25/10/2026).

Diskusi buku dibuka oleh moderator, Mayang, yang mengenalkan isi buku Entrok tentang seorang Ibu bernama Marni dan anaknya, Rahayu. Mereka menjadi potret dua generasi perempuan yang hidup dalam kondisi tubuh mereka dikontrol, suara mereka dibungkam, dan kebenaran hanya milik negara.

“Mereka bukan hanya karakter fiksi, tetapi perwakilan dari jutaan perempuan Indonesia yang hidup dalam rezim represif sehingga membuat mereka tak punya kuasa atas diri sendiri,” ungkap Mayang.

Entrok dimulai dengan perjalanan hidup Marni di tahun 50–60an. Di masa itu, ia adalah anak yang baru beranjak remaja dan tidak mengetahui umurnya. Pasalnya, Marni tidak bisa membaca tahun karena buta huruf dan buta angka. Ia sadar dirinya beranjak remaja karena ada bagian tubuhnya yang berubah.

“Akhirnya, Marni melihat tetangga perempuan seumurannya yang bisa aktif loncat-loncat, ternyata dia pakai “entrok”, bahasa Jawa dari bra yang merupakan barang mewah pada saat itu,” jelas Mayang.

Di era itu, lanjut Mayang, perempuan yang bekerja tidak lazim menerima upah uang. Mereka hanya diupah dengan bahan makanan seperti singkong. “Kenapa judulnya Entrok? Karena inilah awal mula simbol harapan, ambisi, dan perlawanan Marni sebagai perempuan,” lugasnya.

Diskusi dilanjutkan bersama Sry Lestari Samosir, seorang Dosen Sosiologi UNIMED yang aktif mengampanyekan isu feminisme di sosial media. Ia berujar bahwa Entrok sangat membuka mata kita bahwa perempuan zaman dulu sangat terkekang dan terbelenggu oleh norma.

“Norma itu adalah konstruksi sosial yang dibangkitkan oleh masyarakat, kemudian dipercaya lalu dipertahankan, bahkan dilanggengkan oleh perempuan itu sendiri,” ujarnya.

Berefleksi dari kisah Marni, yang hanya ingin sebuah bra tetapi tidak bisa memenuhinya karena tidak punya uang. “Ternyata kalangan bawah itu sebegitu berjuangnya, apalagi ketika dia perempuan. Jadi ada langsung beban ganda, lapisan yang melingkupi ketubuhan dirinya, yang diperkuat oleh norma-norma tadi,” ujar Sry.

Sosok Marni, menurutnya, ialah seorang perempuan yang berani mendobrak stigma dan norma. Ia berani menentukan jalan hidupnya dan tidak mendengar norma-norma yang membelenggu tadi. Hingga akhirnya, Marni berhasil membeli “entrok” untuk pertama kali dari tabungannya bekerja sebagai kuli panggul di pasar.

Dalam diskusi juga diungkap konflik lain pada buku, seperti saat Marni harus menghadapi rezim represif di orde baru. Berlanjut hingga perseteruan bersama anaknya, Rahayu, akibat perbedaan kepercayaan yang mereka anut.

“Relasi kuasa yang terjadi pada perempuan memang harus dihadapi dengan jiwa-jiwa yang melawan, jangan gampang tunduk, jangan gampang menyerah. Semuanya harus tercermin dari tutur kata, tindakan, dan pikiran bahwa kita perempuan yang punya kemampuan untuk menentukan masa depan kita sendiri,” tutup Sry.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus