
Oleh: Muhammad Nabil Farish
Medan, wacana.org – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatra Utara (Sumut) menggelar Seminar dan Konsolidasi Publik bertajuk “Jejak Ekstraktivisme di Ekosistem Esensial Sumatra Utara” pada 26–27 Oktober 2026. Hal ini disampaikan oleh Staf WALHI Sumut, Maulana Shiddiq, yang sekaligus menjadi moderator dalam sesi pembukaan diskusi di Coju Coffee, Kota Medan, Senin (26/10/2026).
Staf Advokasi WALHI Sumut, Reza Anggi Riziqo, mengatakan bahwa kegiatan hari pertama bertujuan membahas data BMKG terkait perubahan iklim yang terjadi di Sumatra Utara serta isu proyek energi di tiga lanskap.
“Kegiatan hari pertama ini kita lakukan di awal untuk membahas data perubahan iklim yang terjadi di Sumatra. Seminar ini juga mempertemukan pengalaman warga dari tiga lanskap: Leuser, Batang Toru, dan Batang Gadis di sekitar PLTP Sorik Marapi. Kami menempatkan pengalaman masyarakat terdampak sebagai sumber pengetahuan, bukan sekadar ilustrasi,” ujarnya.
Reza juga mengatakan bahwa forum ini tidak bertujuan menyamakan seluruh persoalan, melainkan mencari pola yang dapat dibandingkan. Oleh karena itu, forum ini turut dihadiri beberapa jejaring organisasi.
“Adanya forum ini tidak untuk menyatukan seluruh persoalan dan permasalahan, tetapi membandingkan dari setiap elemen masyarakat, apa celah yang dapat dilihat. Makanya, acara ini tidak hanya menghadirkan masyarakat terdampak, tetapi juga dari jejaring lainnya. Ada dari YPDK, BAKUMSU, ELSAKA, dan BMKG,” tuturnya.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU) angkatan 2024, Christian Timothy Sinaga, menilai seminar ini berkesan karena menghadirkan langsung pihak yang terdampak.
“Menurut saya, seminar ini sangat berkesan. Informasi tentang dampak tambang, deforestasi, dan perampasan tanah penting disampaikan secara merata kepada masyarakat, apalagi seminar ini mendatangkan langsung saksi bisu yang terdampak kegiatan tambang ilegal,” ujarnya.
Christian juga berharap masyarakat awam semakin sadar akan dampak tersebut. “Harapan saya, masyarakat awam lebih sadar akan dampak pertambangan ilegal sebelum masyarakat lain merasakan dampaknya langsung. Kegiatan ini juga jangan berhenti di seminar saja, tetapi berlanjut menjadi gerakan-gerakan lainnya,” katanya.



