BOPM Wacana

Komunisme: Benarkah Anti-Pancasila dan Agama?

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi: Surya Dua Artha Simanjuntak

 

Oleh: Surya Dua Artha Simanjuntak

Komunisme: sebuah istilah “horor” yang seringkali menghantui masyarakat Indonesia. Namun benarkah istilah komunisme sehoror itu? Benarkah para kaum komunis anti-Pancasila dan agama? Atau hanya kambing hitam dan fatamorgana semata?

Dilihat dari sejarahnya, istilah komunisme pertama kali dicetus oleh Joseph Alexandre Victor d’Hupay, seorang filsuf sekaligus penulis asal Perancis, dalam bukunya berjudul Projet de communauté philosophe (1777). Namun, konsep awal komunisme pertama kali digagas oleh dua filsuf ekonomi-politik terkemuka, Karl Marx dan Friedrich Engels, dalam buku The Communist Manifesto (1848).

Di Indonesia, komunisme baru muncul pada 1920-an, saat Partai Komunis Indonesia (PKI) lahir. Dengan membawa paham marxisme/komunisme, tak perlu waktu lama bagi PKI untuk berkembang pesat. Hanya saja pemberontakan PKI pada 1926/1927 membuat aktualisasi ideologi marxisme/komunisme sempat redup dari arena gerakan politik di Indonesia.

PKI kembali dapat menunjukkan taringnya setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 diterbitkan. Dalam kurun waktu enam tahun, tampak antara Soekarno, PKI, dan TNI-AD saling bersaing. Berkat kelihaian PKI dalam memobilisasi massa sampai pelosok desa, memberi mereka keyakinan bahwa kemenangan akan diraih, dan suatu saat akan dilakukan pengambilalihan kekuasaan dengan cara mengucilkan kekuatan TNI-AD. Inilah malapetaka yang dikenal dengan pemberontakan G30S/PKI.

Dari malapetaka ini, segenap potensi bangsa kemudian sepaham sekata menumpas PKI dan paham komunisme. Bukti nyatanya adalah dengan diterbitkan Tap MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang pembubaran PKI, pernyataan PKI sebagai organisasi terlarang, dan larangan menyebarkan atau mengembangkan paham komunisme/marxisme-leninisme. Tak sampai disitu, pada 1984 dirilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI, yang disponsori langsung oleh pemerintahan Orde Baru Soeharto. Film ini bahkan menjadi tontonan wajib bagi siswa sekolah dan ditayangkan stasiun televisi nasional setiap 30 September malam—peratuan ini kemudian dicabut setelah pelengseran Soeharto pada 1998.

Setelah semua propaganda itu, maka tak heran jika istilah komunisme menjadi “horor” bagi masyarakat Indonesia dan akhirnya para komunis dianggap sebagai kaum pemberontak yang anti-Pancasila dan anti-agama.Tak perlu dipertanyakan lagi, G30S/PKI merupakan peristiwa paling kelam dalam catatan sejarah bangsa Indonesia. Namun dari segala kekelaman itu, peristiwa ini juga menyisakan banyak misteri dan kontroversi: sebuah hipotesa menyatakan bahwa PKI digunakan  sebagai kambing hitam untuk menggulingkan rezim Soekarno.

Hipotesa tersebut tak lepas dari keganjalan hasil otopsi ketujuh jendral yang dilakukan oleh tim visum, yang terdiri dari: dr. Brigjen Roebiono Kertopati, dr. Kol. Frans Pattiasina, Prof. dr. Sutomo Tjokronegoro, dr. Liauw Yan Siang, dan dr. Liem Joe Thay (alias dr. Arief Budianto). Kelima dokter tersebut sepakat menyatakan bahwa tidak ditemukan adanya bekas penyiksaan di tubuh para jendral –bekas cungkilan mata, sayatan, dan pemotongan alat kelamin—seperti yang diklaim oleh media milik TNI saat itu: Harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha.

Hasil otopsi ini diungkapkan oleh seorang Indonesialis bernama Benedict Anderson, dari Cornell University, dalam sebuah artikel berjudul How did the General Dies? yang diterbitkan dalam Indonesia Journal edisi April 1987. Lantas jika begitu, mengapa media milik TNI berbohong dan mengarang cerita seperti itu? Silahkan renungkan. Selain itu, hipotesa tadi juga diperkuat oleh bukti yang menyatakan ada campur tangan Amerika dalam G30S/PKI.

Dalam sebuah artikel Wikipedia—yang merujuk dokumen resmi Central Intelligence Agency (CIA) —berjudul CIA activities in Indonesia, secara implisit menyatakan bahwa CIA terlibat dalam gerakan penculikan dan pembunuhan tujuh perwira tinggi militer Indonesia. Dalam kasus ini, Amerika tidak ingin Indonesia menganut paham komunisme —saat itu Soekarno sedang gencar menyuarakan ide Nasionalisme, Agama, dan Komunisme (NASAKOM)— sehingga menjadikan PKI yang berideologi komunisme sebagai kambing hitam. Hal ini diperjelas oleh mantan Diplomat Amerika Robert J. Mertens pada tahun 1990 silam, yang membeberkan keterlibatan CIA dalam proses peralihan kekuasaan Indonesia pada tahun 1965. Serta upaya penghapusan ideologi komunisme di Indonesia.

Ya, kedua bukti di atas memang tidak bisa menjawab teka-teki G30S/PKI secara keseluruhan. Namun sedikit banyaknya dapat membuka wawasan bahwa komunisme tidak sehoror yang dikira banyak masyarakat Indonesia—memandang komunisme sebagai paham yang anti-Pancasila dan anti-agama. Jika kembali pada konsep awalnya, komunisme yang digagas Karl Marx & Friedrich Engels sama sekali tidak ada hubungan dengan agama dan bahkan mencerminkan nilai sila ke-5 Pancasila.

Marx dan Engels mengonsepkan paham komunisme untuk menentang sistem ekonomi kapitalis yang berkembang saat Revolusi Industri. Dilansir dari zenius.net, komunisme menurut Marx adalah sebuah fase akhir dari proses perubahan sistem ekonomi-politik, di mana ketika negara (sosialis) telah berhasil mendayagunakan alat produksi untuk pemenuhan kebutuhan rakyatnya, maka suatu saat akan terbentuk suatu masyarakat ideal yang saling memenuhi kebutuhan satu sama lain, tanpa perlu adanya peran dari pemerintah.

Intinya, Marx mencita-citakan sebuah masyarakat yang setara, tidak ada lagi kelas sosial, tidak ada lagi kepemilikan pribadi, tidak ada sektor swasta, tidak ada negara, tidak ada konsep uang, tidak ada pasar, dan tidak ada perdagangan. Semua orang akan mengerjakan apa yang mereka inginkan, serta saling memenuhi kebutuhan satu sama lain secara sukarela.

Jika dilihat dari konsep di atas, maka sudah saatnya para petinggi negeri ini membuka mata dan menyadari bahwa komunisme hanya fatamorgana semata: khayalan yang tidak mungkin tercapai. Secara konsep, komunisme sudah lumpuh di seluruh dunia. Negara-negara komunisme yang kita kenal sekarang seperti Rusia, Tingkok, ataupun Vietnam lebih tepat dianggap sebagai negara penganut sosialisme-Marxist, bukan komunisme.

Mirisnya, isu komunisme masih dirasa menguntungkan oleh para elite negara ini untuk permainan politik. Contoh nyata pada pemilihan presiden 2014, dimana Joko Widodo diserang isu komunisme yang menyebabkan ia kehilangan banyak suara. Terakhir terjadi pada pemilihan gubernur Banten 2017, dimana pasangan Rano Karno-Embay Mulya diserang isu yang sama dan akhirnya kalah tipis dari lawannya. Jadi dari segala pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa perspektif yang menyatakan komunisme anti-Pancasila dan anti-agama memang anomali.

Sebagai kaum intelektual muda, sudah seharusnya kita tak langsung menerima mentah-mentah sebuah doktrin ataupun propaganda tanpa mengetahui luar dalamnya. Jangan biarkan perspektif orang menggagalkan rencanamu untuk belajar dan mencari ilmu. Apa salahnya mencari wawasan? Toh, semakin luas wawasan, semakin luas juga perspektifmu melihat dunia ini.

Komentar Facebook Anda

Surya Dua Artha Simanjuntak

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU Stambuk 2017.

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4