BOPM Wacana

Irsan Mulyadi: Foto Jurnalistik Tidak Hanya Visual

Dark Mode | Moda Gelap
Fotografer Kantor Berita Antara Irsan Mulyadi sedang menjelaskan materi tentang foto jurnalistik dalam Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar yang diadakan LPM Dinamika UINSU di Aula Pusbinsa, Minggu (13/5). || Mayang Sari Sirait.

 

Oleh: Mayang Sari Sirait

BOPM WACANA — Fotografer Kantor Berita Antara Irsan Mulyadi mengatakan foto jurnalistik tidak hanya visual, namun harus menggunakan teks sebagai keterangan foto. “Kalau hanya foto tanpa teks, jadi tidak jelas dan menimbulkan persepsi yang berbeda,” ujarnya saat menjadi pemateri dalam Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) yang diadakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Dinamika Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) di Aula Pusbinsa UINSU, Minggu (13/5).

Irsan menjelaskan foto jurnalistik adalah bagian dari dunia jurnalistik yang menggunakan visual dan teks untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat yang terikat kode etik. “Kode etik juga perlu, misalnya aturan soal manipulasi gambar,” ungkapnya.

Dalam materinya, Irsan memberi contoh kisah fotografer Reuters News Agency, Adnan Hajj yang dipecat karena manipulasi foto yang menghebohkan dunia. Adnan Hajj dengan sengaja menebalkan asap pemboman tentara Israel terhadap warga Libanon. “Karena foto jurnalistik itu harus jujur, bisa dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.

Salah satu peserta PJTD, Mahasiswa Ekonomi Islam 2017 UINSU Kiki Meisya Putri menganggap materi fotografi ini sangat menarik. Kiki mengaku baru mengetahui betapa pentingnya teks dalam foto jurnalistik agar tidak menimbulkan ambiguitas. “Saya juga dapat tentang pentingnya kejujuran dalam foto jurnalistik, nilai kejujuran atas dasar fakta,” tambahnya.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4