BOPM Wacana

Ibu Petakilan dan Mulut Nyinyir

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Aulia Adam

 

Ibu itu petakilan… Tatonya banyak

Rambutnya kusut masai, dua suami sudah dicampakkannya

Linting-linting rokok dikantonginya kemana pun kakinya melangkah

Dulu dia juga tak selesai sekolah

Ada yang bilang karena orangtuanya miskin, ada yang bilang karena tingkah lakunya buat ubun-ubun guru terbakar

Yang mana pun cerita yang benar, si ibu tetaplah si ibu, dia tak pernah punya ijazah SMA

Tapi nasib baik memang tak pernah bisa tertebak. Dia bisa hampiri siapa saja.

Si ibu kaya raya. Dia memang senang jadi aktivis. Jaringan buat dia kaya dan bangun perusahaan.

Kerja kerasnya selalu berbuah hasil

Dasar ia memang petakilan

Sibuk sana-sini, cari duit tapi tak lupa kawan-kawan miskin

Nelayan diperhatikannya. Kesejahteraan mereka jadi salah satu prioritas hidupnya

Sebelum Pak Presiden panggil si ibu petakilan, hidupnya tenang

Tapi setelah jabat posisi menteri, mulut-mulut nyinyir usik ketenangan hidupnya

Bukan tak pernah jumpa mulut nyinyir, tapi yang kali ini datang berkali-kali lipat banyaknya

Oh, Bapak Presidenku!! Kenapa rakyat-rakyatmu dikutuk Tuhan dengan mulut-mulut nyinyir!

Ah ya, supaya kita semua tak semena-mena dalam berpikir dan berbuat

Tuhan pasti punya maksud baik. Tapi manusia selalu mengubahnya jadi niat celaka.

Kadang, yang dinyinyiri bukan hal penting untuk dinyinyiri

Fokus saja nyinyiri kinerja ibu petakilan, bukan pilihan-pilihan hidupnya yang substansial

Ah sudahlah. Tak semua orang mau mendengar. Tapi semua orang bisa mengerti.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).