BOPM Wacana

FISIP USU Gelar Guest Lecturer dalam Rangka Pembukaan Dies Natalis ke-46

Dark Mode | Moda Gelap
Moderator melayangkan pertanyaan kepada narasumber terkait materi Transformasi Politik dan Demokrasi di Kawasan Asia Tenggara di Aula FISIP USU, Kamis (22/10/2026). | Ervan Daniel Girsang
Dari kiri, moderator dan narasumber saat pemaparan materi “Transformasi Politik dan Demokrasi di Kawasan Asia Tenggara” di Aula FISIP USU, Kamis (22/10/2026). | Ervan Daniel Girsang

Oleh: Ervan Daniel Girsang

USU, wacana.org – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar kegiatan Guest Lecturer yang bertajuk “Transformasi Politik dan Demokrasi di Kawasan Asia Tenggara”, dalam rangka pembukaan Dies Natalis ke-46 di Aula FISIP USU, Kamis (22/10/2026).

Kegiatan ini dihadiri oleh Muryanto Amin (Rektor USU), Arifin Nasution (Wakil Rektor II), Dekanat serta staff dan mahasiswa FISIP USU. Materi ini dibawakan oleh Vice Dean Centre for Islamic Development (ISDEV) Universiti Sains Malaysia (USM), Mohd Syakir Mohd Rosdi, yang membahas perjalanan politik dari negara-negara di Asia Tenggara, sejak masa kemerdekaan hingga perkembangan demokrasi di era modern.

Saat penyampaian materi, Syakir, mengatakan bahwa perkembangan politik di setiap negara di Asia Tenggara berbeda-beda. “Berbicara tentang perkembangan politik di setiap negara yang ada di Asia Tenggara, pastinya berbeda-beda. Hal ini bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti sejarah politik setiap negara, sistem pemerintahannya, kondisi sosial, dan kepentingan politik di masing-masing negara,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa, Indonesia menjadi salah satu contoh negara yang mengalami perubahan politik yang sangat signifikan, terutama pasca Reformasi tahun 1998. Perubahan yang terjadi memperlihatkan Indonesia menuju sistem yang lebih demokratis, melalui Pemilihan Umum (Pemilu) dan melibatkan partisipasi masyarakat.

Namun, Syakir sempat menyoroti sekilas tentang sistem pemerintahan Indonesia saat ini yang minim oposisi. “Kalau Presiden Indonesia (Prabowo) mencoba menyatukan parlemen dengan eksekutif itu bagus, tapi untuk sebuah negara yang sistem pemerintahannya presidensial, ini akan menjadi masalah di check and balances karena tidak adanya oposisi di pemerintahan,” ungkapnya.

Salah satu mahasiswa Ilmu Politik stambuk 2025, Raphael Tampubolon, menyampaikan tanggapan terkait materi yang disampaikan. “Menurut saya, meskipun terhalang dari segi bahasa, tetapi materi yang disampaikan cukup jelas, mengenai situasi demokrasi di Asia Tenggara saat ini. Bagaimana beliau menjelaskan mengenai beberapa jenis demokrasi yang diterapkan dari Asia Tenggara mulai dari tahun 1945 hingga sekarang,” tuturnya.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus