BOPM Wacana

Manusia Silver: Potret Sektor Informal di Tengah Kompleksitas Daerah Perkotaan

Dark Mode | Moda Gelap
Di siang hari, seorang manusia silver berdiri di trotoar jalan Iskandar Muda, Rabu (13/5/2026). Hasrina Arum Maulida
Di siang hari, seorang manusia silver berdiri di trotoar jalan Iskandar Muda, Rabu (13/5/2026). Hasrina Arum Maulida

Oleh: Ruth Cinthia Sianturi. Hasrina Arum Maulida

“Awak lebih takut nggak makan, Kak

Tubuh yang dipulas cat perak kini menjadi pemandangan yang akrab di berbagai persimpangan jalan. Berbalut celana lusuh dan sekujur tubuh yang dilapisi cat berwarna perak, mereka melangkah di antara deretan kendaraan yang berhenti saat lampu merah menyala. Di tangan mereka tergenggam kantong plastik bekas sebagai wadah uang. “Sedikit rezekinya, Buk,” atau “Sedikit rezekinya, Bang,” menjadi sapaan yang berulang kali terlontar kepada pengendara sebelum ia melangkah ke kendaraan berikutnya.

Studi yang dilakukan oleh Nikita Harum Nisa, dkk. (2025) menjelaskan bahwa fenomena manusia silver yang kini banyak dijumpai di berbagai kota di Indonesia dapat ditelusuri sekitar tahun 2012 di Kota Bandung melalui Komunitas Silver Peduli. Saat itu, tubuh bercat perak digunakan sebagai bagian dari aksi seni jalanan untuk menggalang donasi bagi anak yatim. Namun, seiring waktu aktivitas tersebut berkembang menjadi sumber penghasilan bagi sebagian orang yang menggantungkan hidup di jalanan.

Pandemi Covid-19 kemudian mempercepat penyebaran fenomena ini. Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan semakin sempitnya lapangan pekerjaan membuat manusia silver bermunculan di berbagai kota. Tubuh yang semula menjadi media pertunjukan berubah menjadi cara bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi. Hal tersebut dijelaskan dalam studi Rawit Sartika, dkk. (2022).

Mengais Rezeki di Simpang Pintu 1 USU

Dua manusia silver tengah duduk di pinggiran toko di jalan Dr Mansyur, Simpang pintu 1 USU, Rabu (17/6/2026)
Dua manusia silver tengah duduk di pinggiran toko di jalan Dr Mansyur, Simpang Pintu 1 USU, Rabu (17/6/2026)

Di balik tubuh yang dipulas cat perak, Bonar (16) menyimpan harapan yang belum sempat ia wujudkan. Sejak berusia 13 tahun, remaja itu telah menghabiskan sebagian besar waktunya di Simpang Pintu 1 Universitas Sumatera Utara (USU), berjalan dari satu kendaraan ke kendaraan lain ketika lampu merah menyala. Kantong plastik bekas di tangannya menjadi tempat menampung uang yang diberikan pengendara.

Usianya masih belia. Pendidikan terakhirnya hanya sampai sekolah dasar (SD). Namun, keadaan ekonomi keluarga membuat langkahnya berbelok. Sejak itu, lampu merah menjadi penanda dimulainya ikhtiar mencari rezeki.

“Ya gapapa la, Kak, daripada mencuri. Ekonomi keluarga lagi susah. Kami jadi manusia silver sekalian juga nyari-nyari kerja. Bukan berarti kami mau selamanya kayak gini,” ujarnya.

Setiap hari, Bonar tidak memiliki jam kerja yang pasti. Kadang ia mulai sejak pagi, kadang baru turun pada siang atau malam hari. Semua bergantung pada rezeki hari itu. Selama masih ada kesempatan memperoleh uang, ia akan tetap bertahan di bawah terik matahari ataupun gerimis yang membuat cat di tubuhnya perlahan luntur.

“Kalau hujan ya luntur Kak. Nanti dicat lagi,” katanya singkat.

Uang yang didapat Bonar tak pernah benar-benar menetap di tangannya. Sebagian digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebagian lagi diberikan kepada ibunya. Menjadi manusia silver bukan pekerjaan yang ingin terus dijalaninya. Setiap kali ada kesempatan, ia tetap berusaha mencari pekerjaan lain yang lebih layak.

Tak jauh dari tempat Bonar mencari nafkah, Iko (26) juga menjalani profesi yang sama. Ia sudah sekitar dua tahun menjadi manusia silver, meski sebelumnya bekerja membuat sandal di rumah. Usaha tersebut perlahan berhenti karena kekurangan modal dan semakin sedikitnya peminat. Ajakan seorang teman akhirnya membawanya mencoba pekerjaan yang sama seperti Bonar.

“Kurang modal, kurang minat orang-orang. Kawan yang ngajak juga, jadi ya kucoba,” ucap Iko.

Bagi Iko, uang yang diperoleh setiap hari digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika masih ada sisa, uang itu disimpan untuk membayar biaya kontrakan. Ia mengaku memilih tetap bekerja di jalan daripada tidak memiliki penghasilan sama sekali.

Namun, bekerja di persimpangan jalan tidak hanya berarti menghadapi panas dan hujan. Bonar mengatakan, mereka juga pernah menerima cibiran dari sebagian masyarakat. Tak sedikit yang menganggap manusia silver malas bekerja atau hanya meminta-minta demi membeli narkoba.

“Kerja la kau, jangan taunya cuman mintak. Nyari kau cuman untuk sabu,” tutur Bonar, menirukan perkataan yang pernah diterimanya dari pengguna jalan.

Mendengar anggapan itu, Iko hanya tersenyum tipis. Menurutnya, orang-orang sering kali melihat cat perak di tubuh mereka tanpa mengetahui alasan di balik keputusan mereka turun ke jalan.

“Padahal kami lagi kelaparan, Kak. Kami kerja kayak gini bukan kemauan kami sebenarnya, tapi kemauan hidup. Daripada ikut yang bukan-bukan, ya udahlah. Mana tahu suatu saat nanti ada kerjaan yang lebih baik,” katanya.

Selain stigma masyarakat, penertiban oleh Dinas Sosial juga menjadi bagian dari keseharian mereka. Bonar mengaku sudah beberapa kali terjaring razia. Biasanya, mereka didata, kemudian orang tua dihubungi untuk menjemput. Sementara bagi mereka yang tidak memiliki keluarga, akan dibawa ke panti untuk menjalani pembinaan dan bekerja di sana.

Meski begitu, baik Bonar maupun Iko mengaku tidak ingin selamanya menjadi manusia silver. Keduanya sepakat akan meninggalkan profesi tersebut apabila mendapat pekerjaan yang lebih layak. Ketika ditanya mengenai pekerjaan impiannya, Bonar menjawab singkat sambil tersenyum, “Jadi pilot.” Berbeda dengan Bonar, Iko tak memasang harapan yang muluk. “Jadi apa aja, Kak, yang penting halal.”

Jalanan yang Menjadi Ruang Hidup

Di siang hari, seorang manusia silver berdiri di trotoar jalan Iskandar Muda, Rabu (13/5/2026). Hasrina Arum Maulida
Di siang hari, seorang manusia silver berdiri di trotoar jalan Iskandar Muda, Rabu (13/5/2026). Hasrina Arum Maulida

Sekitar satu kilometer dari Simpang Pintu 1 USU, tepatnya di persimpangan Tugu Jamin Ginting, tepatnya di jalan Iskandar Muda, Hafiz duduk bersandar di tepi jalan bersama seorang rekannya. Hujan yang baru saja reda membuat sebagian cat perak di tubuh mereka tampak memudar. Di sela waktu istirahat, keduanya menyantap nasi bungkus sebelum kembali berdiri di persimpangan saat lampu merah menyala.

Bagi Hafiz, hujan bukan alasan untuk berhenti bekerja. Selama masih ada kesempatan memperoleh uang, ia memilih tetap turun ke jalan.

“Ya gimana, Kak. Mau nggak mau harus kerjalah apa pun risikonya,” ujarnya sambil menggaruk kepala yang warnanya senada dengan cat di tubuhnya.

Meski hanya tamatan sekolah dasar Hafiz mengaku justru banyak mendapatkan pelajaran selama hidup di jalananan. Baginya jalanan bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan ruang yang membentuk perjalanan hidupnya. Sebelum menjadi manusia silver, ia pernah mengamen di beberapa titik di Kota Medan. Keputusan turun ke jalan bermula dari pertengkaran kedua orang tuanya membuatnya memilih jalanan sebagai rumah barunya.

“Aku dulu turun ke jalan bukan untuk ngamen. Setelah bapak sama mamak bertengkar, ya akhirnya nyaman di jalan. Di sini ketemu kawan-kawan baru, banyak juga pelajaran yang kudapat. Pola pikirku malah lebih maju,” katanya.

Berbeda dengan anggapan sebagian orang, Hafiz mengaku tak terlalu memikirkan cibiran yang diterimanya. Tatapan sinis dari pengguna jalan memang sering ia rasakan.

“Mungkin dari mata mereka kita bisa nilai lah bagaimana mereka lihat kami. Tapi aku fine aja. Apa pun pekerjaannya, yang penting kami kerja,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Pilihan menjadi manusia silver bagi Hafiz, memberikan penghasilan yang lebih baik dibanding saat ia masih mengamen. Jika sedang ramai, pendapatannya bisa mencapai ratusan ribu dalam sehari.

“Bukan pande-pandean ya kak, kalau dibilang gaji kantoran pun kalah. Kalau rajin, sehari bisa dapat Rp500 ribu. Tapi kan beli nasi dan kebutuhan lainnya,” ungkapnya dengan perasaan bangga.

Hafiz juga bercerita cat yang menutupi tubuhnya terkadang menimbulkan rasa gatal jika bahan racikan campurannya tidak pas. Namun, dibandingkan risiko tersebut, ada hal lain yang lebih ia khawatirkan.

“Awak lebih takut nggak makan, Kak,” ucapnya dengan nada parau.

Produk Masalah Sosial Perkotaan

Prof. Dr. Drs. Bengkel, M.Si, Dosen Kesejahteraan Sosial USU, saat dijumpai di Ruangan Pascasarjana FISIP USU, Senin (18/5/2026). | Ruth Cinthia Sianturi
Prof. Dr. Drs. Bengkel, M.Si, Dosen Kesejahteraan Sosial USU, saat dijumpai di Ruangan Pascasarjana FISIP USU, Senin (18/5/2026). | Ruth Cinthia Sianturi

Menjadi manusia silver bukan sekadar soal pilihan. Di balik tubuh yang dilapisi cat perak mengkilap, terdapat persoalan ekonomi, keluarga, hingga sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak di perkotaan. Fenomena ini, menurut Dosen Kesejahteraan Sosial USU, Prof. Dr. Drs. Bengkel, M.Si, perlu dipandang lebih luas sebagai bagian dari masalah sosial di perkotaan.

Ia menjelaskan, dalam perspektif kesejahteraan sosial, suatu kondisi disebut sebagai masalah sosial ketika telah mengganggu kepentingan masyarakat luas. Namun sebelum mencapai tahap tersebut, seseorang dapat lebih dulu mengalami masalah sosial non-patologis, yakni kondisi yang dampaknya masih dirasakan oleh dirinya sendiri, seperti pengangguran atau kemiskinan.

“Ketika seseorang menganggur, dampaknya mungkin masih kepada dirinya sendiri. Tetapi ketika karena kondisi itu dia melakukan aktivitas di ruang publik yang mulai mengganggu kepentingan orang banyak, di situlah persoalan itu berkembang menjadi masalah sosial,” jelasnya.

Menurutnya, manusia silver merupakan salah satu wujud persoalan tersebut. Kehadiran mereka di persimpangan jalan bukan berdiri sendiri, melainkan merupakan produk dari persoalan sosial yang berkembang di perkotaan. Salah satu faktor yang kerap melatarbelakanginya ialah disorganisasi keluarga. Kondisi keluarga yang mengalami perceraian, konflik berkepanjangan, hingga kehilangan orang tua dapat mendorong anak atau anggota keluarga lain mencari cara bertahan hidup di jalanan.

Selain faktor keluarga, ia juga menyoroti derasnya urbanisasi menuju Kota Medan. Perpindahan penduduk dari desa ke kota tidak selalu diikuti kemampuan beradaptasi dengan kehidupan perkotaan. Sebagian mampu terserap ke sektor formal karena memiliki pendidikan dan keterampilan yang memadai. Namun sebagian lainnya harus bertahan di sektor informal, bahkan memilih aktivitas yang berada di luar sistem ekonomi formal.

“Kalau secara teoritikal, ketika masyarakat tidak tertampung di sektor formal dan tidak mampu mengembangkan sektor informal yang produktif, mereka mulai menyandang berbagai bentuk masalah sosial. Manusia silver menjadi salah satunya,” ujarnya.

Ia membedakan sektor informal yang masih bersifat produktif, seperti pedagang kaki lima. Menurutnya, manusia silver lebih tepat dipandang sebagai bagian dari shadow economy atau ekonomi bayangan, yakni aktivitas ekonomi yang berlangsung di luar pencatatan resmi negara tetapi tetap menjadi cara sebagian masyarakat bertahan hidup.

“Shadow economy itu banyak bentuknya. Ada tukang parkir, pemulung, sampai manusia silver inilah. Mereka hidup dari aktivitas yang tidak tercatat dalam statistik ekonomi, tetapi tetap menjadi cara untuk bertahan hidup,” katanya.

Meski demikian, ia menilai fenomena manusia silver tidak dapat terus dipandang sebagai persoalan individu semata. Penanganan yang hanya mengandalkan razia justru berpotensi membuat persoalan terus berulang.

“Kalau hanya dirazia, nanti kembali lagi. Jadinya seperti kucing-kucingan. Penertiban harus diikuti pembinaan dan penyaluran. Kalau tidak, penyelesaiannya hanya bersifat sementara,” ujarnya.

Menurutnya, penanganan fenomena manusia silver memerlukan kolaborasi lintas instansi, mulai dari Dinas Sosial, Dinas Ketenagakerjaan, Satpol PP, hingga pemerintah daerah Kota Medan. Sebab, beberapa temuan pada manusia silver, mereka kebanyakan berasal dari luar wilayah Kota Medan seperti Deli Serdang, Binjai, juga Serdang Bedagai.

Di sisi lain, ia juga mengingatkan agar persoalan ini tidak hanya dilihat dari sisi ketertiban kota. Penggunaan cat yang dipoles pada tubuh secara berkala dapat berpotensi menimbulkan persoalan Kesehatan bagi diri sendiri maupun orang lain yang dapat terdampak.

“Kalau kita saja memakai minyak urut seharian tidak tahan, bagaimana pula mereka yang setiap hari tubuhnya dilapisi cat? Ini juga perlu menjadi perhatian,” ujarnya dengan nada prihatin.

Ketika Penanganan Belum Menyentuh Akar Persoalan 

Trisno Mulyono Hutagalung, Ketua Tim Kerja Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang, Bidang Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Kota Medan, saat di jumpai di Rumah Perlindungan Sosial Kota Medan, Rabu (17/6/2026). | Hasrina Arum Maulida
Trisno Mulyono Hutagalung, Ketua Tim Kerja Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang, Bidang Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Kota Medan, saat di jumpai di Rumah Perlindungan Sosial Kota Medan, Rabu (17/6/2026). | Hasrina Arum Maulida

 Fenomena manusia silver bukan lagi persoalan baru bagi Dinas Sosial Kota Medan. Hampir setiap hari petugas melakukan pengawasan dan penjangkauan di sejumlah persimpangan yang menjadi titik rawan, seperti Simpang Jamin Ginting, Dr. Mansyur, Iskandar Muda, Glugur, hingga Krakatau.

Ketua Tim Kerja Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang, Bidang Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Kota Medan, Trisno Mulyono Hutagalung, mengatakan penanganan terhadap manusia silver dilakukan bersama Satpol PP. Menurutnya, Satpol PP bertugas melakukan penertiban sesuai Peraturan Daerah, sedangkan Dinas Sosial berperan melakukan pengawasan, asesmen, hingga pembinaan terhadap mereka yang diamankan.

“Kalau penertiban itu kewenangan Satpol PP. Kami melakukan pengawasan dan penjangkauan. Hampir setiap hari ada tim yang turun ke lapangan,” ujarnya.

Setiap manusia silver yang diamankan akan dibawa ke Rumah Perlindungan Sosial Kota Medan untuk menjalani asesmen oleh pekerja sosial. Identitas mereka terlebih dahulu diverifikasi melalui pemindaian iris mata sebelum Dinas Sosial menelusuri keluarga maupun daerah asal. Jika keluarga berhasil ditemukan, mereka dipulangkan. Apabila tidak, mereka dirujuk ke panti sosial milik Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk mengikuti pembinaan dan pelatihan keterampilan.

Berdasarkan data Dinas Sosial, sepanjang 2024 terdapat 62 penanganan manusia silver yang terdiri atas 51 orang dewasa dan 11 anak. Namun angka tersebut bukan menunjukkan banyaknya individu yang berbeda. Sebagian besar merupakan orang yang sama yang berulang kali kembali ke jalan setelah menjalani pembinaan.

“Sudah dibina, dijemput keluarganya, tetap kembali lagi. Bahkan ada yang sampai sepuluh kali diamankan,” ucapTrisno terheran-heran.

Menurutnya, persoalan manusia silver tidak semata-mata dipicu faktor ekonomi. Dari hasil asesmen yang dilakukan Dinas Sosial, sebagian di antaranya merupakan anak putus sekolah, berasal dari keluarga yang broken home, hingga terindikasi menggunakan narkoba. Kondisi tersebut membuat mereka memilih pekerjaan yang dianggap mampu menghasilkan uang secara cepat.

“Faktor ekonomi memang ada. Tapi ada juga yang maunya mendapatkan uang secara instan. Rata-rata yang kami tangani juga terindikasi menggunakan narkoba,” ujarnya.

Dinas Sosial bahkan mengaku pernah berupaya mencarikan pekerjaan formal bagi beberapa mantan manusia silver. Mereka sempat diterima bekerja di rumah makan, bengkel, hingga pabrik. Namun, upaya tersebut tidak bertahan lama.

“Sudah diterima kerja, besoknya malah kabur. Kami sudah beberapa kali mencarikan pekerjaan, tetapi mereka kembali lagi ke jalan,” katanya.

Di lapangan, proses penjangkauan juga tidak mudah. Petugas kerap terlibat aksi kejar-kejaran dengan manusia silver yang telah mengenali kendaraan operasional Dinas Sosial. Tidak jarang mereka nekat berlari menyeberang jalan bahkan melompat ke sungai demi menghindari petugas. Situasi itu, menurut Trisno, justru membahayakan keselamatan mereka sendiri maupun pengguna jalan.

Karena itu, ia menilai penanganan tidak bisa hanya mengandalkan razia. Pembinaan harus dilakukan secara berkelanjutan melalui kerja sama antara Dinas Sosial, Satpol PP, Dinas Tenaga Kerja, pemerintah daerah asal, hingga masyarakat. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan uang kepada manusia silver di persimpangan jalan.

“Kalau masyarakat terus memberi, mereka akan terus datang ke lampu merah. Lebih baik bantuan disalurkan ke lembaga atau panti yang memang membutuhkan,” tutupnya.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus