
Oleh: Muhammad Nabil Farish
“Masyarakat akan berubah melalui pendidikan yang tidak mencerabut dari akar budaya mereka sendiri.”
Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Samera Indonesia berdiri di jalan besar Tuntungan I, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang. Seperti layaknya perpustakaan, TBM ini juga menyediakan buku untuk dipinjam, tetapi tidak hanya itu mereka juga menjalankan berbagai program literasi bagi anak-anak, ibu-ibu, hingga lansia.
Kali ini, BOPM Wacana berbincang dengan Laila Sari, penggagas TBM Samera Indonesia sekaligus pendiri Yayasan Ila Education dalam menelusuri akar, keresahan, dan visi gerakan literasi yang tumbuh dari dapur keluarganya sendiri.
Bagaimana awal mula berdirinya TBM Samera Indonesia?
Awalnya namanya Yayasan Ila Education. Sebelum yayasan ini berdiri, saya sudah fokus pada kegiatan literasi baca tulis Al-Qur’an sejak 1993. Nama education dipilih karena yayasan ini berada di bidang pendidikan.
Yayasan Ila Education sendiri baru mendapat izin pada 2020, dengan tiga program utama. Pertama, pendidikan kesetaraan melalui PKBM Samera Indonesia. Kedua, TBM Samera sebagai pusat kegiatan literasi dan numerasi. Ketiga, Ila Education Center yang bergerak di bidang pendidikan perempuan, keluarga, dan masyarakat.
Apa yang membedakan TBM Samera dengan keberadaan perpustakaan?
Kalau perpustakaan umumnya menyediakan buku untuk dipinjam dan aktivitasnya berpusat di dalam gedung. Sementara TBM itu lebih fleksibel, kami tidak hanya meminjamkan buku, tetapi juga menghadirkan berbagai kegiatan literasi. Misalnya, kami pernah membawa buku-buku dari TBM ini ke Aceh Tamiang. Kami membawa satu dispenser buku dan mengadakan kegiatan literasi di sekolah-sekolah kemudian anak-anak diajak membaca, menggambar, mewarnai, bercerita, hingga melakukan read aloud.
Kita juga membina kelompok-kelompok di luar TBM. Beberapa tempat pengajian dipinjami buku secara bergilir. Jadi sifatnya bergerak, tidak diam di satu tempat. Selain koleksi yang telah dimiliki, kami juga mendapat bantuan 1000 judul buku dari Perpusnas.
Dari mana sumber pendanaan dan relawan yang menghidupi TBM selama ini?
Ini yayasan keluarga. Jadi pendanaan lebih banyak bersumber dari keluarga kami sendiri. Untuk finansial, kami juga mengandalkan kerja sama dengan Universitas Terbuka, Universitas Sari Mutiara, dan institusi lainnya. Selain itu kami juga mendapat titipan dari lembaga dan LSM lain.
Untuk relawan, anggota inti berasal dari keluarga kami sendiri yaitu suami dan kelima anak saya. Selain itu, ada pula relawan dari kalangan mahasiswa yang ingin melakukan penelitian atau sekadar terlibat dalam kegiatan sosial, mereka biasanya hanya membantu pada kegiatan tertentu.
Apa hal yang mendorong tertarik mengembangkan komunitas di bidang literasi dan pendidikan masyarakat?
Hidup saya memang dekat dengan masyarakat sejak SMA di tahun 1990-an. Saya menganggap masyarakat akan berubah melalui pendidikan yang tidak mencerabut dari akar budaya mereka sendiri. Latar belakang pendidikan saya S-1 Psikologi, juga pernah belajar di pendidikan guru PAUD, lalu melanjutkan ke S-2 Manajemen Pendidikan dengan fokus kurikulum nonformal jadi hal ini selaras dengan bakcground pendidikan saya.
Selama mendirikan TBM, momen apa yang paling berkesan?
Saat 2018, saya dan suami dinobatkan sebagai Orang Tua Hebat Indonesia oleh Kementerian Pendidikan. Kami tidak mendaftar, melainkan diusulkan. Saat itu ada 10 keluarga yang mendapat penghargaan dari Direktorat Keluarga Kemendikbudristek. Dari situlah kami mulai aktif di media sosial, membuka kelas-kelas parenting, dan menjangkau komunitas yang lebih luas.
Bagaimana pandangan Anda melihat rendahnya minat baca dan ketimpangan akses bacaan berkualitas di Indonesia?
Jika dikatakan akses rendah, saya tidak sepenuhnya setuju. Menurut saya, persoalannya terletak pada dorongan untuk mencari sesuatu yang benar-benar dibutuhkan. Jika seseorang sudah merasa membutuhkan sesuatu, ia pasti akan mencarinya, termasuk hal-hal yang sesuai dengan minatnya.
Kalau anak-anak menyukai TikTok atau ChatGPT? Tidak masalah, kita bisa masuk dari hal yang mereka sukai, lalu mengarahkannya ke literasi. Di sinilah TBM berperan sebagai tempat pendampingan. Bukan sekadar menyediakan buku, melainkan menghadirkan aktivitas yang membuat orang punya pengalaman langsung untuk mencintai buku dan punya kenangan yang melekat darinya.
Mengapa buku fisik tidak bisa tergantikan, bahkan di era digital sekarang?
Sama seperti uang digital yang menghilangkan sense of money ketika kita transfer, kita tidak merasakan beratnya mengeluarkan uang. Buku fisik bekerja dengan cara yang sama. Ketika anak memegang buku secara fisik, semua sensorinya bekerja: taktil, visual, auditorial. Dia menyentuh, membaca, dan mendengar suaranya sendiri.
Semua itu tidak terjadi ketika dia memegang gawai dan terus menggulir layar. Perhatian anak saat menggunakan gawai cenderung terfragmentasi, sedangkan saat membaca buku fisik, mereka lebih terfokus terhadap bacaan.
Bagaimana TBM merancang program agar literasi cetak tetap relevan?
Kami memiliki program bertajuk “Satu Jam Tanpa Gawai”. Dalam program tersebut, anak-anak membaca, bercerita, menghasilkan karya, bermain permainan tradisional, menggunting, dan mewarnai.
Kami juga memiliki program “Ramadan Bercahaya”, tempat di mana anak-anak melakukan aktivitas literasi seperti bercerita, membaca, dan menghasilkan karya. Program itu dinamakan “Bercahaya” karena dari buku lahir karya, cerita, dan kenangan bagi anak-anak.
Apa keresahan terbesar yang terjadi di lapangan saat ini?
Keresahan terbesar saya adalah melihat remaja. Subuh-subuh sudah berkumpul, hanya bermain gawai. Malam hari mereka masih berkeliaran, menggunakan bahasa yang tidak santun, merokok padahal masih SMP bahkan SD. Yang lebih memprihatinkan, orang tuanya tidak mencari. Kami berada di daerah urban tanggung bukan kota, bukan desa di mana norma dan karakter lama makin pudar.
Kami pernah memiliki program “Maghrib Mengaji” yang berhasil mengumpulkan hampir 60 anak setiap sore hingga waktu Isya. Program tersebut dijalankan oleh 11 relawan. Tetapi, setelah terhenti selama pandemi, memulai kembali program tersebut terasa sangat berat. Itu yang terus menghantui saya. Saya butuh orang-orang yang punya pola sendiri, tidak harus sama, tetapi mengarah pada bagaimana menjadi problem solver bagi masyarakat.
Seperti apa proyeksi dan visi jangka panjang TBM ke depan?
Saya menjalani semuanya mengalir, tetapi tetap punya rancangan. Karena kalau kita mengurusi masyarakat, kita tidak bisa memasang ekspektasi yang terlalu tinggi. Pernah saya ajak remaja di sini sekali, dua kali semangat; ketiga, keempat kali mulai menurun. Ternyata yang justru bertumbuh adalah ibu-ibu dan lansia. Dari situ saya belajar bahwa sasaran utama kami adalah ibu, karena satu ibu akan mempengaruhi seluruh keluarganya.
Untuk proyeksi konkretnya, 8 tahun ke depan saat saya berusia 60 tahun, seluruh aktivitas yayasan, TBM, PKBM akan saya serahkan sepenuhnya kepada anak-anak. Saya dan suami hanya akan menjadi pembina. Kalau saat ini masih pola saya yang dominan, ke depan biarlah mereka yang membentuknya dengan cara mereka.



