
Oleh: Muhammad Nabil Farish
Medan, wacana.org – Aksi Kamisan Medan menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi karya Dhandy Laksono di Kedeboox Space, Jl. Hitam, Perintis, Kecamatan Medan Timur, pada Selasa (28/4/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa, jurnalis, dan aktivis yang turut menyuarakan kepedulian terhadap nasib masyarakat Papua.
Isu yang diangkat dalam film ini terkait kehidupan masyarakat adat Papua di tengah tekanan Pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan berbagai kebijakan yang dinilai mengancam ruang hidup mereka. Pemutaran film turut menghadirkan tiga narasumber, yakni Diana Srimilana Saragih (filmmaker), Marselina Sondegau selaku perwakilan Ikatan Mahasiswa Papua (IMP) dan Prayugo Utomo (jurnalis dan aktivis hutan).
Salah satu pemateri yakni Diana, menjelaskan bahwa acara ini bukan sekadar tontonan biasa. Ia menyebut pertemuan malam itu sebagai momen yang telah lama dinantikan di tengah kondisi yang ia nilai penuh frustrasi. “Kesempatan yang baik untuk kita berjumpa, karena sudah cukup lama tidur, melihat kondisi politik belakangan ini semakin vulgar namun belum mampu menggerakkan masyarakat secara lebih luas,” terangnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada WatchDoc atas konsistensi mereka dalam mendokumentasikan dan mengedukasi publik selama ini. Meski demikian, Diana menilai film Pesta Babi masih memiliki ruang yang belum tergali. “Walau sudah banyak informasi, di akhir masih ada banyak hal yang dirasakan masyarakat Papua yang belum tergambarkan,” ungkapnya.
Diana juga mendorong penonton agar tidak berhenti di bangku nobar. “Kita harus follow-up apa yang ditampilkan Dhandy dalam film ini. Kita tidak boleh apatis dan harus tetap melakukan sesuatu,” tegasnya.
Sejalan dengan itu, Prayugo Utomo juga menyampaikan harapan agar film ini tidak hanya menjadi konsumsi hiburan. “Kita yang datang hari ini bukan sebagai pengganggu negara, tetapi sebagai bukti bahwa kita peduli pada negara ini,” ujarnya.
Prayugo juga mendorong agar solidaritas di antara penonton terus diperkuat pasca pemutaran film. “Harapannya, ini tidak berhenti sebagai tontonan semata, tetapi mendorong kita untuk semakin solid,” tutupnya.



