
Oleh: Muhammad Rifqy Ramadhan Lubis
Medan, wacana.org – Solidaritas Masyarakat Sipil Sumatra Utara (Sumut) yang terdiri dari sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) meminta negara untuk memastikan pemulihan secara menyeluruh terkait kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Bidang Eksternal Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, oleh orang tidak dikenal (OTK). Seruan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di kantor KontraS Sumut, Senin (16/3/2026).
Pembacaan seruan dipimpin oleh Kepala Operasional KontraS Sumut, Adinda Zahra Noviyanti, dan diikuti oleh seluruh organisasi masyarakat sipil yang tergabung. Poin-poin seruan terdiri atas; (1) Mengungkap dan bertanggung jawab dalam memberikan kejelasan terkait penanganan kasus dan langkah-langkah perlindungan terhadap masyarakat yang aktif menyuarakan pendapat, termasuk pembela HAM. Kami mengingatkan agar kasus ini tidak berakhir seperti banyak kasus teror dan kekerasan terhadap pembela HAM lainnya yang menguap tanpa kejelasan.
(2) Segera menangkap dan mengadili pelaku serta mengungkap semua pelaku yang terlibat dan aktor intelektual di balik serangan ini, bukan sekadar berhenti pada pelaku lapangan, (3) Melakukan langkah-langkah konkret dalam menjamin keselamatan dan memberikan perlindungan nyata terhadap Andrie Yunus dan pembela HAM lainnya yang terus mendapatkan intimidasi dan kekerasan, tidak hanya sekadar memberikan pernyataan formal.
Kemudian, (4) Memastikan pemulihan secara menyeluruh, menjamin perawatan medis terbaik, dan rehabilitasi bagi korban dan keluarga korban atas serangan brutal yang dialaminya, termasuk mengganti seluruh kerugian materil maupun immateril, (5) Negara harus menjamin ruang yang aman bagi para aktivis dan organisasi masyarakat sipil agar mereka dapat menjalankan perannya tanpa rasa takut, serta memastikan bahwa segala bentuk kekerasan terhadap pembela hak asasi manusia tidak terjadi lagi di masa mendatang.
Direktur Pelaksana Yayasan Bina Keterampilan Pedesaan (BITRA) Medan, Diana, turut menyampaikan sikapnya dalam aksi solidaritas tersebut. Ia menilai kekerasan yang dialami Andrie sebagai bentuk ancaman serius terhadap kebebasan sipil dan keberanian individu dalam menyuarakan kebenaran.
“Kita semua yang telah hadir hari ini dalam rangka bersolidaritas terhadap rekan kita, Andrie, yang beberapa waktu lalu mengalami kekerasan dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Sepertinya hari ini saya harus mengucapkan Innalillahi wa innailaihi raji’un atas matinya demokrasi di negeri yang kita cintai ini. Sehingga rekan kita Andrie mengalami penyerangan air keras karena menyuarakan kebenaran,” lugasnya.
Senada dengan itu, Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Sumatera Utara (USU), Nikolas Supriyanto, melihat serangan terhadap Andri Yunus sebagai upaya sistematis untuk menebar ketakutan di tengah masyarakat sipil. “Penyerangan terhadap Andrie Yunus merupakan bentuk rasa takut terhadap kerja-kerja aktivisme yang dia lakukan,” ujarnya.
Menurut Nikolas, pihak-pihak yang merasa takut tersebut, tidak ingin menanggung rasa takutnya sendiri. “Mereka justru menularkannya kepada kelompok masyarakat sipil dengan menyerang bagian dari kita. Penyerangan ini bukan hanya bentuk penganiayaan dan pencelaan terhadap HAM, namun juga sebagai percobaan pembunuhan,” pungkasnya.



