
Oleh: Dwi Yolanda Naro Situmorang
Medan, wacana.org – Komunitas Seabolga menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Harmony untuk Bumi”. Kegiatan ini berlangsung di Aula Jabal Nur Kecil, Asrama Haji Medan, Sabtu (7/3/2026).
Koordinator kegiatan, Yuli Efriani, mengatakan bahwa FGD ini bertujuan membangun kolaborasi lintas agama dan komunitas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana. “Kami menyoroti masalah kepadatan penduduk dan seringnya bencana ekologis yang terjadi di Medan,” jelasnya.
Yuli menyampaikan bahwa setiap permasalahan lingkungan dapat menimbulkan efek domino terhadap berbagai sektor kehidupan. “Masalah lingkungan akan merambat ke pendidikan, kemiskinan, kelaparan, bencana, ekonomi, bahkan politik dan tingkat kriminalitas,” ungkapnya.
Ia juga menyebutkan bahwa terdapat lebih dari 34 kejadian bencana dengan hampir 200 ribu orang terdampak. Sekitar 75 persen di antaranya menjadikan tempat ibadah sebagai tempat penampungan sementara (shelter). “Di Tapanuli, Sibolga, dan Langkat, ketika terdampak bencana, masyarakat akan datang ke tempat ibadah untuk berlindung,” ujarnya.
Kegiatan ini dihadiri oleh peserta dari berbagai komunitas di Medan, serta menghadirkan tiga narasumber, yaitu Muhammad Yamin Daulay (Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Medan), Laila Sari (Ketua Yayasan Ila Education), serta Muhammad Qorib (Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Kota Medan).
Salah satu peserta dari Komunitas Setara Berdaya, Hadonia Lazarus Manurung, berharap adanya kebijakan tertulis agar hasil diskusi dapat diintervensi langsung oleh Pemerintah Kota Medan. “Segala pertimbangan dari persoalan yang dibahas dalam diskusi ini diharapkan dapat menjadi dasar kebijakan nantinya,” ujarnya.



