
Oleh: Tio Hasianna Vincentia Hutahaean
Medan, wacana.org – Massa aksi yang tergabung dalam Aksi Hari Perempuan Internasional 2026 menyerukan 17 tuntutan, di Pos Bloc Medan, Sabtu (7/3/2026).
Tuntutan tersebut dibacakan oleh Koordinator Aksi, Rosi Anggriani, yang terdiri atas; (1) Perlindungan hak perempuan dan kelompok rentan yang bekerja, khususnya di isu informal, (2) Hentikan kekerasan dalam rumah tangga, (3) Hentikan kekerasan seksual, (4) Mengesahkan segera RUU Perlindungan Pekerja Rumah tangga.
Kemudian, (5) Alokasikan anggaran negara untuk perlindungan korban kekerasan seksual dan kelompok rentan lainnya yang terdampak, (6) Perempuan harus bebas dari kemiskinan struktural, (7) Hentikan kriminalisasi terhadap perempuan pembela HAM, (8) Penuhi upah dan hak yang setara untuk semua buruh tanpa adanya diskriminasi berbasis gender, (9) Jangan pinggirkan kerja-kerja perawatan dan domestik, (10) Hentikan perilaku grooming di lingkungan pendidikan dan lingkungan lainnya yang rentan, (11) Penuhi akses kesehatan yang inklusif bagi perempuan dan kelompok ragam gender lainnya, (12) Tidak ada hambatan bagi perempuan dan kelompok rentan dalam menjadi pemimpin, (13) Hentikan kebijakan berbasis kapitalisme yang merugikan dan menindas perempuan dan masyarakat adat.
Serta, (14) Hentikan kontrol dan pengekangan hak serta martabat perempuan atas nama agama dan budaya, (15) Negara harus melakukan pemenuhan terhadap hak pemulihan bagi seluruh kelompok rentan yang semakin termarjinalkan oleh dampak kerusakan lingkungan, (16) Tingkatkan keterlibatan bermakna perempuan dan kelompok rentan dalam keputusan berbasis ekologis, (17) Hentikan diskriminasi dan peminggiran terhadap kelompok disabilitas.
Rosi menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bukti nyata ketidakadilan struktural yang terjadi. “Buruh perempuan menanggung beban kerja yang sama, tetapi mereka diberikan upah yang tidak sebanding dengan beban yang ditanggung,” kata Rosi.
Salah satu peserta aksi, Jovanni Sijabat, mengutarakan bahwa aksi ini menjadi langkah yang besar bagi para perempuan yang hadir dalam menunjukkan perlawanan saat aksi.
“Para perempuan di sana berani menyuarakan keresahan perempuan melalui orasi dan poster feminis di sepanjang perarakan. Saya semakin sadar ternyata banyak perempuan mengemban keresahan yang sama, karena diperlakukan tidak adil,” pungkasnya.



