BOPM Wacana

Pembukaan Kafe di Lingkungan USU Saat Pandemi, Apa Kata Mahasiswa?

Dark Mode | Moda Gelap

Pembukaan kafe di lingkungan USU tepatnya di Wisma Internasional USU yang baru saja selesai direnovasi, pada awal tahun ajaran baru membuat para mahasiswa bingung dan heran. Pembukaan kafe tersebut menimbulkan banyak pertanyaan, karena dibuka saat pandemi dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) masih dilakukan secara dalam jaringan (daring). Bagaimana tanggapan mahasiswa USU terkait hal ini? Apakah mereka pro atau kontra dengan dibukanya kafe pada saat situasi seperti ini?

Dimas Alexander Siregar – Teknik Industri 2020

Pembukaan kafe shop di lingkungan USU merupakan tindakan yang cukup menyayat hati mahasiswa dan bisa dikatakan sangat tidak rasional sekaligus bukan hal yang bijak dilakukan di masa pandemi. Pasalnya, mahasiswa sendiri masih memberlakukan perkuliahan daring. Dimana pembukaan kafe ini malah memancing untuk membuat kerumunan. 

Kita tahu sendiri bahwa angka positif Covid-19 di lingkungan USU tidak sedikit dan masih rawan. Masih banyak hal yang bisa diperbuat selain membuka kafe. Contohnya memperbaiki e-learning yang sampai sekarang belum bisa sepenuhnya digunakan atau bisa dialihkan dengan menambah bantuan bagi mahasiswa yang terdampak Covid-19. Kalau pun dibangun saat tidak pandemi sah-sah aja, tapi kalau sudah hal-hal penting terselesaikan. Seperti anggaran UKM, apresiasi mahasiswa dan sebagainya. 

Sharly Claudia Alghaisani  – Ilmu Teknologi Pangan 2017

Pembukaan kafe shop di lingkungan USU ada sisi positif dan negatifnya. Sisi positifnya adalah mahasiswa USU jadi punya tempat tongkrongan yang nyaman dan dekat untuk bisa hangout dan diskusi. Sisi negatifnya adalah kerumunan yang tidak bisa ditolerir. Apalagi belum semua bisa melakukan protokol kesehatan.

Kemudian pembukaan kafe shop, padahal mahasiswa USU sendiri masih kuliah online, kurang singkron dengan tujuan untuk menghentikan virus Covid-19. Pendidikan ditutup dan kafe dibuka, padahal yang paling penting diutamakan seharusnya pendidikan bagaimana caranya tetap tatap muka dengan kontrol yang baik. Heran kenapa bisa dibuka disaat situasi seperti ini. Tapi sebagai mahasiswa, kita hanya terpelongo melihatnya. 

Dhea Zahra – Administrasi Bisnis 2018

Dibukanya kafe di USU saat masa pandemi seperti sekarang ini kurang efektif. Sedangkan, sampai saat ini kita kuliah masih online. Ruang kelas ditutup untuk proses belajar mengajar. Sedangkan malah cafe yang dibuka, yang tetap saja menimbulkan keramaian meski sudah mematuhi protokol kesehatan. Sisi baiknya, mungkin bisa mengobatin rindu anak USU yang kangen kampus dan mengembangkitkan kembali UMKM di Medan. 

Hidayah Fadli – Ekonomi Pembangunan 2017

Terkait dibukanya kafe di lingkungan USU ada pro dan kontra yang saya rasakan. Untuk sisi pro-nya saya rasa ini sebuah inovasi baru di USU yang ramah mahasiswa, karena sebelumnya jika kita flashback lokasi kafe USU kan di Wisma Internasional USU. Kita tahu beberapa tahun lalu tempat tersebut bagai ruang hantu karena kurang terpelihara dan kurang dimanfaatkan. Namun, tahun kemarin direnovasi sampai pada tahun ini dimanfaatkan untuk dibuka kafe dan itu bagus menurut saya. Karena fasilitas di USU dapat termanfaatkan dengan baik.

Lalu dari sisi kontranya, saya tidak terfokus pada sisi buka atau tutup kafe itu. Tetapi, lebih menyoroti jika kafe dibuka sebebas itu, kenapa fasilitas kampus yang lain yang bahkan sangat dibutuhkan atau krusial bagi mahasiswa sangat terbatas aksesnya. Misalnya saja akses administrasi di fakultas yan sangat ribet karena tidak boleh ke atas langsung, tetapi harus melalui satpam untuk mengantar berkas dan lain-lain. Padahal hal itu untuk menunjang kegiatan KBM atau kegiatan lainnya yang mahasiswa ikuti seperti untuk mengurus berkas magang, beasiswa dan sebagainya. Alasannya klasik, untuk mengurangi mobilitas di kampus sebagai bentuk pencegahan dan penyebaran Covid-19. Tapi disamping itu, kafe malah dibuka lebar. Lalu, saya terpikir kenapa gak sekalian aja Kantin Gema dibuka. Sehingga, mahasiswa dan masyarakat yang punya gerai disana bisa berjualan dan karena itu USU bisa dikatakan mengambil peran dalam pemulihan ekonomi, kan? Dengan membuat pangsa pasar di USU untuk para UMKM berjualan, bayangkan saja ribuan mahasiswa USU dan masayrakat. Itu pangsa pasar yang besar. 

Enriany Matahari – Sastra Indonesia 2019

Kalau aku sendiri kurang setuju dibuka nya kafe di lingkungan USU. Karena mikir masa kafe dibuka sementara kampus harus tutup, apalagi di masa PPKM saat itu, gak pas aja momennya. Sebenarnya bagus kok kafenya, cuman seharusnya kan ditunda dulu melihat pendemi yang juga makin menjadi-jadi.

Cuman manfaatnya untuk kampus ada pemasukan pembukaan kafe ini, pasti tujuan dari kampus itu sendiri. Kalo manfaatnya ke mahasiswa bisa sebagai wadah untuk tempat mengerjakan tugas sama teman-teman yang lebih nyaman dan gak jauh dari kampus juga. Kapan pun bisa nongkrong, disana harga dari makanan atau minumannya juga gak terlalu memberatkan ditambah fasilitasnya yang bagus untuk spot foto.

Kalau misalnya dibuka setelah pandemi, aku rasa gapapa. Hitung-hitung menambah pendapatan. Tetapi maunya pihak kampus lebih memprioritaskan kegiatan belajar mengajar aja dulu. Untuk pembukaan kafe bisa di nomor duakan atau belakangan saja. 

Rizky Anugrah Putra – Sastra Melayu 2019

Bagus sekali pihak USU bisa membuka kafe di masa pandemi saat ini, apalagi kafe nya keren banget kan. Tapi nih, kan aneh juga! Masa iya? kafe bisa buka tapi tatap muka belum bisa. Agak gak ngerti aja sistemnya kok bisa pilih-pilih gitu. 

Mungkin alasan mereka bikin kafe buka di saat pandemi seperti ini agar mahasiswa USU ngomongin tentang kafe USU itu sendiri. Jadinya banyak yang bahas tentang kafe tersebut, dari yang gak setuju tentang hal itu sampai ada yang penasaran dan jadinya pengen datang ke kafe USU. Mungkin ini salah satu marketing dari kafe USU kali ya. Biar semua mahasiswa USU tau ada kafe baru buka. 

Pastinya ada setuju dan tidak setujunya. Tergantung kita mau lihat dari sisi yang mana. Tapi kalau bisa ya gedung-gedung di Fakultas Ilmu Budaya—kalau bisa—diperbaiki juga dong kaya AC yang mati, bahkan ada ruangan yang tidak pakai kipas angin dan AC, parah banget. Jangan cuma bisnis doang yang diperhatiin—kalau bisa. 

Majudin Achmad – Akuntansi 2018

Saya pikir dibukanya kafe di USU di saat pandemi seperti ini bukan prioritas. Sebab bagaimana bisa semua mahasiswa dilarang untuk kuliah tatap muka dan berkegiatan di sekitaran kampus, tetapi USU malah membuka kafe shop untuk tempat berkumpul bahkan kemungkinan sangat besar pasti akan berkerumun. Menurut saya sendiri, hal itu cukup mengecewakan.

Komentar Facebook Anda
Adinda Khairani

Adinda Khairani

Penulis adalah Mahasiswa Teknologi Informasi Fasilkom-TI USU Stambuk 2020. Saat ini Dinda menjabat sebagai Redaktur Artistik BOPM Wacana.