
Oleh: Ruth Cinthia Sianturi
Medan, wacana.org – Gramedia Medan menggelar diskusi buku dalam event Nusa Membaca bertajuk “Perempuan dalam Jerat Sistem: Bertahan atau Melawan?” di Gramedia Medan Gajah Mada, Selasa (7/4/2026). Kegiatan ini menghadirkan Maman Suherman yang akrab disapa Kang Maman, selaku penulis buku Re: dan peRempuan
Supervisor Gramedia Medan, Ega, menjelaskan bahwa kegiatan diskusi ini merupakan program rutin dari Gramedia yang diadakan secara berkala untuk meningkatkan literasi masyarakat. Kegiatan ini juga bertujuan memperkenalkan penulis beserta karyanya, sekaligus memberikan kesempatan bagi masyarakat, untuk berinteraksi langsung dengan penulis melalui sesi diskusi dan tanya jawab.
Ia juga menambahkan bahwa kehadiran Kang Maman merupakan bagian dari program yang telah dijadwalkan oleh pusat. “Jadi kami mengikuti jadwal yang sudah ditentukan, dan kebetulan kali ini Kang Maman mendapat jadwal di Gramedia Gajah Mada. Selain itu, beliau juga merupakan salah satu penulis yang bukunya tersedia di sini, ada sekitar tiga sampai empat judul. Jadi sekalian untuk menyapa warga Medan dan para penggemarnya,” ujar Ega.
Maman selaku penulis, menjelaskan bahwa buku ini berangkat dari pengalaman pribadi dan pengamatannya terhadap realitas perempuan yang kerap menjadi korban ketidakadilan sosial.
“Saya menulis karena melihat langsung bagaimana perempuan sering menjadi korban sistem yang tidak adil. Banyak yang mengira menjadi pelacur adalah pilihan, padahal mereka terjebak dan sangat sulit keluar. Kita tidak punya hak untuk menghakimi kalau tidak tahu latar belakang mereka,” tuturnya.
Kegiatan ini dihadiri oleh 31 peserta yang berasal dari latar belakang yang berbeda, yakni mahasiswa, anggota komunitas baca, pengelola taman baca masyarakat hingga pegiat literasi. Kegiatan diawali dengan sesi diskusi, kemudian dibuka sesi tanya jawab kepada peserta diskusi.
Lalu dilanjutkan dengan sesi pembacaan surat yang berada di akhir halaman buku berjudul “Tanah Abang, 30 Oktober 1989”. Agenda ditutup dengan pemberian hadiah buku gratis kepada penanya dan pembaca surat, kemudian diakhiri dengan sesi dokumentasi bersama.
Mahasiswa Universitas Bung Hatta Padang yang menjadi peserta, Stefany Pandia, mengaku sangat menanti-nantikan kegiatan bincang buku bersama penulis buku tersebut.
“Kegiatannya seru dan sangat menginspirasi, terutama bagi saya sebagai perempuan yang sedang merantau. Harapannya, teman-teman tetap semangat, tetap menjadi diri sendiri, dan bahagia dengan versi masing-masing. Bagian yang paling berkesan adalah kutipan bahwa kita boleh mengendalikan diri, tetapi jika tidak nyaman di suatu zona, kita bisa memilih untuk meninggalkannya,” ungkapnya.



