
Oleh: Iyusarah Pakpahan
USU, wacana.org – Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar diskusi kampus bertajuk “Organisasi Kampus Versi Kampus vs Versi Mahasiswa: Harus Tertib atau Harus Merdeka?” di Aula Mikie Wijaya FEB USU, Selasa (18/11/2025).
Ketua Komisariat GMKI FEB USU, Yoseph Daniel Lumban Tobing, menjelaskan bahwa diskusi ini bertujuan membuka ruang kritis bagi mahasiswa dalam memahami batas dan kebebasan organisasi kampus. “Kami ingin mengetahui sejauh mana ruang gerak organisasi mahasiswa, agar tetap bisa kritis namun tertib tanpa dihalangi birokrasi kampus,” ujarnya.
Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Irsan Mulyadi (Wakil Ketua Puspresma USU), Angga Almaaris Harahap (Wakil Ketua BEM FEB USU), dan Dedi Wilson Purba (Wakil Ketua Bidang Aksi dan Pelayanan GMKI FEB USU). Salah satu pemateri, Irsan Mulyadi, menyoroti cara pandang terhadap organisasi mahasiswa di kampus kerap terbagi ke dalam dua kultur. “Kampus menempatkan organisasi sebagai bagian dari birokrasi yang terstruktur dan tertib. Sementara mahasiswa melihat organisasi sebagai ruang belajar yang bebas dan merdeka. Perbedaan cara pandang ini sering memunculkan ketegangan,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua BEM FEB USU, Angga Almaaris Harahap, menyampaikan keresahannya sebagai bagian dari organisasi internal kampus. “Ekspektasi kampus terhadap organisasi sangat tinggi, namun dukungan yang diberikan kerap minim. Kampus lebih sering memposisikan organisasi sebagai pelaksana teknis semata, daripada mitra dalam merancang kegiatan,” ungkapnya.
Ia juga mengeluhkan birokrasi kampus yang rumit, terutama dalam urusan pendanaan kegiatan dan akses informasi yang minim sosialisasi. “Kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa juga perlu difasilitasi, jadi bukan hanya diarahkan untuk memenuhi tuntutan kampus,” tutupnya.



