
Oleh: Muhammad Rifqy Ramadhan Lubis
Gemuruh riuh yang bersarang di kepalaku
Bagai badai ombak yang menghantam seluruh ketenangan jiwa
Seakan tak memberi jeda pada nafas yang ingin berlabuh
Mengikat jiwa, mempermainkan kata, dan menyisakan hampa
Pikiranku berlarian tak tentu arah
Terperangkap di antara ilusi dan realita
Setiap bayangan dan suara menyisakan luka tak kasat mata
Menjelma menjadi nyata membuatku tak berdaya
Aku bertanya-tanya kapan badai ini akan reda?
Kapan suara-suara yang menghantui kepala ini sirna?
Rasanya, setiap waktu hanya berlalu dalam bisu yang pilu
Canda dan tawa berlalu
Digantikan oleh sendu yang menjadi candu
Perasaan sedih dan kecewa kian hari membuncah
Mendominasi jiwa rapuh
Membuatku lelah dan ingin menyerah
Dalam pikiranku bergema teriakan dan permohonan untuk berhenti,
Apakah setiap penderitaan yang kualami merupakan wujud penghakiman yang kau beri?
Jika memang benar, lengkap sudah kubekali malam ini
Bersenapan dan berpisau, berada di dekapmu sedikit lagi
Entah lubang di dada atau di kepala
Menujumu aku tak ingin lagi berlama-lama



