BOPM Wacana

Bedah Makna “Kepak Sayap Kebhinekaan”

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi: Chalista Putri Nadila

 

“Bisa coba diulangi apa yang harus dikepakkan?”

Beberapa bulan lalu trending di media sosial dan diulas oleh banyak situs berita tentang baliho Ibu Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Puan Maharani. Dalam baliho tersebut tentunya ada gambar Ibu Puan dengan latar suasana matahari tenggelam yang cenderung berwarna merah, sangat khas dengan suasana yang gahar.

Serta ada pula kata-kata yang mungkin agak membingungkan yaitu… bagaimana saya menyebutnya ya, disebut frasa juga tidak bisa… akan saya kategorikan sebagai kalimat aktif mungkin ya, yaitu kalimat “KEPAK SAYAP KEBHINNEKAAN”. Oh! Tentunya dengan huruf kapital semua biar terlihat lebih semangat, kuat, dan menggelegar.

Entah kenapa kalimat ini menjadi bahan perbincangan netizen di sosial media, saya kan jadi ikutan kepo alias ingin tahu! Nih, kalau temen-temen juga ingin tahu bisa dilihat di situs ini. Bahkan dengan menaruhkan lima nyawanya, dibuat pula kalimat dan baliho ini menjadi meme, hingga wajah Ibu Puan diganti-ganti juga jadi wajah diri sendiri, kesannya jadi seperti twibbon ya.

Sepertinya memang masyarakat menilai ada yang menarik dari desain baliho tersebut sehingga ya oke-oke saja jika diganti objeknya dengan wajah diri sendiri.

Ramainya kalimat “KEPAK SAYAP KEBHINNEKAAN” saya rasa tidak akan berhenti dalam waktu dekat, bahkan bisa dibilang akan menjadi sebuah kalimat yang digaungkan dalam jangka waktu yang lama. Apa sih yang membuat menarik? Yuk! Agaklah kita bedah dikit.



Asing, itulah reaksi saya saat pertama kali mendengar kalimat ini secara utuh. Apa ini sejenis kalimat sastrawi yang biasa digunakan di puisi dan novel? Kalau kata pengguna Twitter @firasyafira703 begini:

I couldn’t care less about politics but damn “Kepak Sayap Kebhinekaan” sounds like a novel title”. Pengguna dengan nama Fira tersebut ingin menyatakan bahwa kata “KEPAK SAYAP KEBHINEKAAN” terdengar seperti judul sebuah novel. Waduh, kalau begini saya jadi melihat kata sakral tersebut seperti yang dikatakan Fira.

Saya masih kurang puas, kalau begitu ayo kita artikan per kata. Kata “Kepak” dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bisa dimaknai sebagai sayap pada burung yang difungsikan untuk terbang. Lalu ada kata “Sayap” yang menurut KBBI juga artinya adalah bagian tubuh beberapa binatang yang bisa digunakan untuk terbang. 

Pun, kepak dan sayap adalah kata yang memiliki arti sama, sedikit pemborosan sebenarnya kecuali memang fungsi dari kata ini berbeda, satu untuk kata kerja dan satu lagi untuk kata benda. 

Dan terakhir ada kata “Kebhinnekaan”, kalau di KBBI sih tidak ada arti untuk kata ini jika berdiri sendiri, adanya “Bhinneka Tunggal Ika”. Tapi jika merujuk pada internet kata “Kebhinekaan” bisa diartikan sebagai keragaman.

Lalu, jika diartikan dalam satu kalimat kira-kira begini menurut saya, kalimat tersebut dimaknai sebagai junjung tinggi keberagaman yang ada di Indonesia. Dengan kata lain meskipun ada perbedaan dan perselisihan diantara satu dengan yang lain bukanlah suatu hal buruk namun harus tetap ditoleransi keberadaannya.

Pernyataan Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pemenangan Pemilu, Bapak Bambang Wuryanto ini mungkin bisa membantu kita semua untuk lebih memaknai kalimat tersebut. Pak Bambang menyambungkan makna “Kepak Sayap” dengan burung, dimana burunglah yang memiliki sayap untuk terbang dan bisa berkoordinasi antara sayap kanan dan kiri dengan seimbang.

“Burung yang terbang pasti ada kerja sama antara sayap kiri dan kanan, kepaknya berirama. Seandainya burung garuda, di sana ada Bhinneka Tunggal Ika. Kebhinnekaan maknanya persatuan. Kita terdiri dari berbagai suku bangsa, bagaimana kebhinnekaan hidup dengan kerja sama,” kata Bambang, dikutip dari detikcom.

Sampai akhir tulisan ini pun belum ada makna dari kalimat “KEPAK SAYAP KEBHINNEKAAN” yang bisa saya berikan dengan pasti. Lain kali juga bisa di-branding nih kalimat anyar seperti “TUMBUHKAN BIBIT KEADILAN”. 

Komentar Facebook Anda
Chalista Putri Nadila

Chalista Putri Nadila

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU Stambuk 2018. Saat ini Chalista menjabat sebagai Pemimpin Redaksi BOPM Wacana.