
Oleh: Ruth Cinthia Sianturi
Medan, wacana.org – Yayasan Srikandi Lestari (YSL) mencatat sebanyak 2.670 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sejak Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pangkalan Susu beroperasi. Hal ini diungkap dalam diseminasi riset dan diskusi publik “Menakar Biaya Pembangkit Batu Bara di Tengah Transisi Energi di Indonesia”, yang berlangsung di Four Points by Sheraton Medan, Senin (12/10/2026).
Direktur Eksekutif YSL, Sumiati Surbakti, mengatakan, pembangunan dan kehadiran PLTU kerap menyebabkan dampak lingkungan, kesehatan dan ekonomi yang serius bagi masyarakat. Berkaca dari survei yang dilakukan YSL di PLTU Pangkalan Susu, sepanjang periode Juni-Agustus 2025, sebanyak 914 warga diduga menjadi korban polusi yang disebabkan oleh abu sisa hasil pembakaran batu bara dari PLTU (FABA).
“Keberadaan PLTU memberikan dampak bagi pertanian setempat mengalami kegagalan panen, tambak juga gagal, tumbuhan tidak subur dan mendatangkan penyakit-penyakit. Umumnya dampak ini seringkali membebani perempuan dan ibu berpenghasilan rendah,” terang Sumiati.
Senada dengan hal ini, Onrizal, akademisi Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara menerangkan bahwa dampak ekologis akibat kerusakan lingkungan dari operasional PLTU selama ini belum diperhitungkan dalam analisis ekonomi saat menghitung investasi di awal proyek. Artinya, nilai dari dampak ini tidak terlihat (hidden cost), namun tetap ditanggung oleh masyarakat.
“Ketika kita ingin membangun proyek, risiko-risiko ini harus ditimbang dari puluhan tahun, bukan hanya hari ini. Sehingga yang perlu digarisbawahi adalah jangan memindahkan beban finansial dan warisan pemulihan pada masyarakat terutama generasi berikutnya dari pembangunan dan operasional pembangkit saat ini,” tutur Onrizal.



