
Oleh: Tio Hasianna Vincentia Hutahaean
Medan, wacana.org – Staf Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatra Utara (Sumut), Maulana Shiddiq, menyebut tantangan utama dalam menghadapi bencana adalah membangun kesadaran dari masyarakat. Hal ini disampaikan dalam diskusi “Selamat Saat Air Datang, Keterampilan Dasar Bertahan Hidup” di Roha Cafe, Minggu (8/2/2026).
Maulana menilai kesiapan mental masyarakat dalam menghadapi bencana masih kerap diabaikan. Menurutnya, pengetahuan yang dimiliki kelompok terpelajar seharusnya dapat berkembang menjadi budaya sadar bencana di tengah masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya akses informasi yang mudah dijangkau.
“Strategi komunikasi kebencanaan perlu dimaksimalkan, salah satunya melalui peran tokoh masyarakat,” ujar Maulana.
Ia juga menjelaskan bahwa penetapan status bencana nasional ditentukan oleh skala dampak, sayangnya pemerintah pusat kerap menilai daerah masih mampu menanganinya secara mandiri. Menurut Maulana, situasi ini semakin diperburuk oleh deforestasi.
“Perusahaan besar menjadi aktor utama di balik deforestasi yang tidak terkendali. Ironisnya, izin resmi justru diberikan untuk merusak hutan alam di Sumatra,” ungkapnya.
Menanggapi hal ini, perwakilan Certified Sea Rescue, Willie Sembiring, mengatakan pembaruan data kependudukan penting dalam mitigasi bencana. Selain itu, fasilitas kesehatan seperti puskesmas perlu memastikan kesiapan dan pembaruan perlengkapan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K).
“Secara geografis, Sumatra berada di jalur lempeng aktif dengan risiko bencana yang tinggi. Bencana dapat terjadi kapan saja, oleh karena itu, pendidikan kebencanaan perlu dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya.



